Lukman Ke Dokter Gigi

Beberapa minggu yang lalu, ketika sedang makan mendadak Lukman diam, lalu lari kekamar, bercermin sambil buka mulutnya. Setelah itu ia menghampiri saya sambil buka mulut, tidak bilang apa-apa cuma menunjuk giginya. Saya intip, lhoo kok ada lubang di geraham paling belakangnya. Walau cukup besar tapi lubang itu belum sampai terlalu dalam, karena itu tidak terlalu terlihat bolongnya.

Setelah itu saya ajak bicara Lukman, mengatakan lubang itu harus ditambal di dokter gigi. Begitu mendengar kata ‘dokter gigi’ Lukman langsung menggeleng dan mukanya cemas sekali. Tapi saya tetap membuat perjanjian dengan ibu dokter gigi langganan kami. Dokter ini bukan dokter gigi spesialis anak, tapi pembawaan beliau yang tenang membuat banyak anak senang diperiksanya. Reza saja ketika pertama kali control giginya dan langsung disarankan cabut kedua gigi susunya tenang saja menjalani pencabutan itu (baca posting Just Another Ordinary Day) Beberapa kenalan mengatakan anak mereka takut ke dokter gigi lain, tapi begitu bertemu ibu dokter ini anaknya langsung mau diperiksa.

Seminggu menjelang appointment dengan dokter gigi tersebut Lukman sudah saya bujuk, saya jelaskan bahwa giginya harus dirawat supaya tidak tambah besar lubangnya. Tapi setiap dibicarakan, Lukman langsung bilang “Tidak mau” dan menggeleng. Akhirnya sehari menjelang hari H, saya beritahu ibu kepala sekolahnya, guru kelasnya dan terapis Lukman hehe minta bala bantuan untuk menyemangati Lukman.

Dari ibu kepala sekolah saya diminta membuat social story, dan beliau juga berikan link di internet untuk memperkenalkan Lukman pada suasana klinik dokter gigi. Wah iya ya, karena sekarang Lukman sudah cukup fleksibel dan lancar komunikasinya kok saya jadi lupa ‘jurus pamungkas’ yang dulu saya biasa lakukan sebelum Lukman mengalami hal-hal baru: social story. Dengan membuat gambar, dan menceritakan apa-apa saja yang akan dihadapinya pada saat pergi ke tempat baru, pada saat menjalani kegiatan baru, Lukman akan jauh lebih tenang dan lebih mau ikuti kegiatannya. Saya lalu googling dan mendapatkan link bagus di internet untuk kunjungan ke dokter gigi bagi anak berkebutuhan khusus di website About.com http://autism.about.com/od/parentingautismhowtos/ht/Tips-For-A-Great-Trip-To-The-Dentist-With-Your-Autistic-Child.htm . Disana juga ada foto-foto yang kemudian saya tunjukkan pada Lukman. Begitu juga foto-foto saat kakak Reza cabut gigi, dimana Lukman juga ikut menemani saya siapkan untuk ditunjukkan kepada Lukman.

Saya juga sudah sms kepada ibu dokter gigi, menjelaskan kondisi Lukman yang autis, ketakutannya untuk diperiksa, dan minta bantuan beliau agar pemeriksaan pertama ini bisa berhasil.

Saat dijemput pulang sekolah, ibu guru kelasnya mengatakan pada Lukman “Gimana buka mulutnya nanti kalau diperiksa dokter gigi?” Lukman langsung buka mulutnya dengan lebar! Rupanya setelah dibicarakan dikelas, Lukman jadi bersemangat, dan bahkan kata bu guru “Lukman ajak semua teman sekelasnya ikut ke dokter gigi” hahaha… Begitu juga terapisnya Lukman, ketika bertemu disekolah, terapisnya ajak Lukman ngobrol tentang giginya juga. Jadi sesudah bertemu beberapa orang yang mendorong semangatnya, Lukman jadi berubah pikiran dan akhirnya mau pergi ke dokter gigi.

Setelah makan siang, saya perlihatkan foto-foto yang sudah saya siapkan tadi. Lukman cukup tertarik tapi tidak mau lihat berulang-ulang, cukup dua kali lihat, ia langsung keluar kamar untuk nonton tivi.

Begitu sampai di klinik kami diminta menunggu. Walau sudah bikin perjanjian sebelumnya, kami tetap menunggu cukup lama, ada 30 menit lamanya. Saya sudah membekali Lukman dengan buku-buku kesukaannya, sehingga walau lama menunggu Lukman tetap tenang karena membaca buku-buku yang dibawanya. Bahkan Lukman mengajak ibu yang duduk disebelahnya ikut melihat bukunya sambil bicara memberi keterangan masing-masing hewan dibukunya itu hehe. Sesekali Lukman mengintip kedalam ruang periksa, penasaran mungkin mendengar suara bor. Tapi saya senang karena Lukman tidak menutup kupingnya, berarti suara bor tersebut tidak mengganggu bagi Lukman yang kadang suka sensitive pendengarannya.

Ketika pasien didalam sudah keluar dan giliran kami untuk masuk, Lukman tanpa ragu langsung lari kedalam ruang periksa. Tanpa saya minta, Lukman sudah langsung katakana pada dokter “Gigiku bolong!” sambil buka mulutnya dan tunjuk gigi gerahamnya. Dokternya sampai ketawa melihat Lukman yang semangat begitu, dan minta ia duduk dikursi periksa. Setelah memakai  kertas penutup dada, Lukman melihat ke alat-alat yang akan dipakai. Ia katakan sambil menunjuk satu persatu alatnya “Aku tidak pakai yang ini, tidak yang ini, juga tidak yang ini, tidak yang tajam-tajam” haha rupanya Lukman seram melihat alat yang ujungnya tajam. Tapi saat dokter duduk dan mulai periksa, Lukman tidak bahas lebih lanjut lagi soal alat tersebut.

Pemeriksaan tidak berlangsung lama, dan karena yang bolong gigi dewasa, maka memang harus ditambal. Lukman tenang saja ketika giginya mulai diutak-atik, bahkan ketika di-bor-pun Lukman tetap tenang. Sempat keningnya berkerut ketika dirasakan sedikit sakit, tapi Lukman tidak sampai loncat dari kursinya. Terlebih lagi bu dokter memang pandai menenangkan sehingga Lukman terbawa tenang. Bahkan Lukman diperbolehkan memencet tombol pengisi gelas kumurnya tiap sesudah berkumur, bikin Lukman makin senang.

Proses pemeriksaan dan tambal gigi berlangsung cepat, tidak sampai 15 menit sudah selesai. Lukman terlihat bangga sekali ketika diminta bercermin melihat hasil tambalan. Saat dokter masih menulis status, Lukman masih asik lihat ini-itu, memuaskan rasa ingin tahunya. Keluar dari kamar periksa, Lukman dengan riang bilang ke ibu dokter “Sampai ketemu ya!” hahaha… Mamanya legaaa sekali, karena Lukman itu kuat sekali labellingnya. Sekali dia suka, besok-besok pasti terus suka. Sekali dia nggak senang, besok-besok pasti nggak senang terus walau sudah diusahakan merubahnya. Semoga dengan kesuksesan pertama kali Lukman ke dokter gigi ini bakalan tidak sulit mengajak Lukman kembali periksa untuk kunjungan berikutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s