Hot Air Balloon & Butterfly

Saat libur long weekend kali ini kami sengaja tidak keluar kota. Cuma ada satu rencana, untuk pergi melihat festival balon udara di Sentul, lainnya kami mau santai saja menikmati Jakarta yang pastinya lengang ditinggal penghuninya keluar kota.

Hari Jumat pagi kami dengan semangat tetap bangun pagi, dan langsung siap-siap pergi ke Sentul karena cuaca sangat cerah, tidak seperti 4 hari sebelumnya yang mendung dan hujan seharian. Lukman semangat sekali mau pergi, tapi Reza yang baru selesai UTSnya agak-agak bete diajak pergi, karena maunya main computer saja dirumah. Tapi melihat adiknya dan Ivan kakak sepupunya semangat pergi, Reza juga tak mau ditinggal.

Perjalanan ke Sentul lancar! Padahal kami sudah siap-siap bertemu kemacetan jalan tol. Mendekati Sentul International Convention Center kami memanjangkan leher, ingin melihat sudah adakah balon yang siap mengudara, karena menurut jadwal panitia jam 6 pagi balon-balon tersebut sudah mulai diisi, dan mengudara sampai jam 10 pagi. Tapi kok cuma terlihat satu ya, dan masih separuh terisi, masih tergeletak di tanah balonnya. Tapi kami tetap masuk, dan menuju SICC. Ternyata mobil tidak bisa diparkir disekitar gedung tersebut. Kami harus keluar, parkir di Sentul Plaza yang lumayan jauh jaraknya dari SICC, tapi ada shuttle bus yang bisa dinaiki untuk sampai ke lokasi SICC kembali.

Bagus juga ya persiapannya, kebayang kalau ribuan mobil parkir disekitar gedung SICC seperti apa penuhnya. Lalu kami parkir mobil dan menunggu shuttle bus di tenda yang sudah tersedia. Lukman senang sekali begitu diberitahu akan naik bus. Dia dengan bawelnya mengajak bicara orang-orang disebelahnya padahal tidak dikenal hihihi.

Sampai di SICC kami langsung membeli tiket. Walau beberapa pengunjung keluar sambil bilang “Penonton kecewa” kami tetap ingin melihat balon udara yang cuma satu itu dari dekat hehe. Walau balon itu tidak mengudara, tetap ada atraksi yang diberikan yaitu belly walk, dimana pengunjung bisa masuk kedalam balon, foto didalam dan didekatnya. Seru juga, karena baru kali ini anak-anak melihat balon udara yang biasanya dilihat di film saja.

Selesai belly walk, Lukman langsung minta naik bungee trampoline yang ada di bazaar dekat balon tersebut. Waah rupanya pingin menguji keberanian nih. Saya sih tidak kawatir, karena Lukman sudah beberapa kali flying fox dan menyukainya. Jadi kemungkinan bungee trampoline ini pun akan disukainya. Awal dipasang alat pengamannya, Lukman masih senang sekali, senyum terus. Tapi begitu mulai dinaikkan talinya, dan mulai diminta berayun, Lukman teriak-teriak: “Sudahhh…. Sudahh… aku takuttt” tapi karena kelihatannya takut-takut manja gitu, masih kami biarkan saja, siapa tahu makin lama makin suka Lukmannya berayun. Ternyata tidak, sampai selesai (lebih cepat dari seharusnya) Lukman tetap tidak mau berayun tinggi.

Giliran berikutnya uda Ivan mau mencoba. Kalau Reza sudah kapok, dia sudah mencoba ketika kami berkunjung ke Kampoeng Maen, dan Reza nggak menyukainya. Ternyata uda Ivan juga tidak terlalu suka, minta ayunannya tidak dibuat terlalu tinggi. Lukman yang sudah duluan, dengan sotoynya meneriaki uda Ivan “Lebih tinggi da Van, kalau takut teriak saja!” seperti yang kami teriakan pada Lukman saat ia naik bungee trampoline itu hahaha.

Selesai mereka main bungee trampoline, kamipun melihat bazaar sebentar, yang ternyata hanya menjual berbagai makanan. Karena sudah kegerahan, kamipun meninggalkan SICC, naik shuttle bus kembali dan dengan mobil keluar menuju Cibubur menuju salah satu mall untuk ngadem dan makan siang. Ketika masuk tol lagi, waaaw yang tadinya dari Jakarta kearah Bogor/Puncak masih lancar, ketika kami pulang itu sudah maaceeet panjang, bahkan sebelum Sentul circuit sudah antri. Syukur kami datang ke Sentul dipagi hari, jadi tidak tersita waktu dengan kemacetan tersebut.

Keesokan harinya, kok ya pas banget saat hari libur ini kepompong ulat yang dipiara Reza dan Lukman memilih hari itu untuk keluar dari kepompongnya. Reza dan Lukman punya beberapa ulat piaraan, yang diambil dari pohon jeruk dihalaman ketika masih kecil. Ada tiga ulat yang ketiganya diambil dari pohon yang sama. Bentuk dan besar ulatnya sedikit berbeda, tapi ternyata jadi kupu-kupunya sama: Lime Butterfly namanya. Baik Reza maupun Lukman sama-sama mengamati proses metamorfosa sang kupu-kupu dari ulat sangat kecil lebih kecil dari 5 cm sampai menjadi kupu-kupu yang indah.

Memang sudah dari malam harinya kami perhatikan kepompongnya berubah warna. Kalau sebelumnya hijau terang merata, ketika malam sebelum keluar terlihat bayang kehitaman, ada terlihat bentuk badan kupu-kupu. Jadi kami sudah perkirakan sang kupu-kupu sudah akan keluar. Ternyata betul, keesokan harinya sudah ada kupu-kupu yang indah didalam toples itu. Anak-anak yang baru bangun langsung bengong melihat piaraannya sudah jadi cantik seperti itu.

Lucunya, ulat kedua yang juga sudah jadi kepompong keluar juga keesokan harinya. Padahal mereka menjadi kepompong dalam waktu yg berbeda, ada 3 hari jarak antara ulat yang pertama dengan yang kedua. Sudah janjian kali ya, mau jalan bareng di long weekend😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s