“Kau tak apa?”

Banyak istilah-istilah dirumah yang jadi sering kami pakai karena awalnya jadi ciri khas bicaranya Lukman. Gaya bicara Lukman unik karena menggunakan bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’ dan cenderung baku seperti umumnya anak-anak yang baru bisa bicara setelah di terapi wicara. Contoh bakunya bicara Lukman seperti memakai sebutan aku dan kamu pada percakapan, tidak menyebut namanya atau nama orang yang dihadapinya. Untuk dirinya, Lukman selalu sebut dengan kata aku. Juga untuk menyebut kepemilikan misalnya PapaKu, MamaKu.  Pernah saya dengar saat Lukman berjalan melewati seorang wanita secara spontan ia bilang “Eehm permisi, Nona”. Kalau ada yang mendengar Lukman bicara dengan Momma (neneknya) bertanya “Kamu sudah makan?” mungkin berfikir kok nggak sopan ya, sama orangtua pakai panggilan kamu. Tapi ya begitulah gayanya Lukman, yang bagi kami sudah biasa mendengarnya sehari-hari.

Kemudian yang unik dari Lukman dia tidak segan-segan menyebut “Aku mencintaimu” kalau sedang menunjukkan rasa sayang pada Papa dan Mamanya. Hanya untuk Papa Mamanya, karena kalau untuk orang lain, Lukman tetap pakai kata sayang. Sering sekali kalau lagi manja-manja diantar kesekolah, Lukman yang tidak mau ditinggal biasanya memeluk saya erat-erat lalu bilang “Jangan pergi Mama, aku mencintaimu” terdengarnya dramatis sekali, membuat tersenyum yang mendengarnya. Nggak tahu deh dia mendapat kalimat itu dari mana, padahal dirumah kami tidak suka menonton sinetron lho! Karena istilah Lukman itu, saya dan Papanya juga jadi ikutan sering ucapkan “Aku mencintaimu” dirumah hehehe.

Istilah lain yang khusus dipakai untuk Mamanya adalah panggilan ‘Sayangku’. Kata ini lagi lengket-lengketnya sama Lukman. Jadi bukannya dia panggil Mama, tapi lebih sering kata Sayangku itu. Lagi-lagi ini sering bikin orang lain yang mendengarnya jadi senyum. Bahkan teman saya jadi bertanya : ”Kok bisa ya Lukman panggilnya Sayang begitu, apa memang diajarkan untuk begitu manggilnya?” Ya tentu saja tidak sengaja saya ajarkan, wah sepertinya narsis banget ya mengajarkan anak manggil Sayangku pada kita hehe. Tapi karena saya memang terbiasa panggil Lukman dengan kata Sayang, Lukman jadi ikut-ikutan juga panggil Sayang pada Mamanya. Teman saya itu bilang lagi “Aku juga sering manggil sayang sama anakku, tapi nggak jadi seperti Lukman tuh, anakku nggak panggil sayang balik ke aku”. Ya itulah keunikan Lukman dan lagi-lagi kami juga jadi saling menyebut ‘Sayangku’ dirumah karena Lukman🙂

Satu lagi yang khas dari Lukman, ia suka bertanya “Kau tak apa?” kalau melihat gaya/mimik muka kita sedang tidak biasa, entah lagi kesakitan, atau lagi cape, Lukman cukup sensitif menangkap yang tidak biasa itu dan bertanya. Sebetulnya kita semua juga sering menangkap yang seperti itu, tapi tidak sampai terpikir untuk bertanya “Kau tak apa?” karena sudah tahu penjelasannya. Karena itu kami senang mendengar Lukman bertanya seperti itu, menunjukkan rasa kepeduliannya Lukman. Merasakan senangnya ditanya “Kau tak apa?” akhirnya pertanyaan itupun sering kami ucapkan. Melihat muka lelah Papanya sepulang kantor, kalau saya tanyai “Kau tak apa?” pasti jadi senyum. Begitu juga, kalau melihat saya atau Reza lagi mimiknya nggak happy, Papanya suka Tanya “Kau tak apa?” dan bikin kami senyum.

Kepedulian Lukman akhir-akhir ini memang semakin baik. Ada beberapa kejadian yang bisa jadi contoh. Ketika sedang naik mobil, dan lagu yang terdengar dari radio adalah lagu lama yang saya suka, saya jadi ikut bersenandung. Lukman yang disamping saya jadi melirik, lalu bertanya “Kau suka ya lagu itu?”.  Kejadian lain, ketika saya sedang menunggu computer loading data, saya senderkan kepala ke meja. Lukman melihat itu lalu bertanya “Kau bosan ya?”🙂

Ada kejadian yang lucu sekali kemarin. Menjelang tidur, Reza yang lagi flu bersihkan hidungnya dengan tissue. Memang agak heboh sih jadinya. Lukman jadi bertanya “Kau tak apa, Reza?” dan dijawab kakaknya “Aku pilek, Lukman”. Tidak lama kemudian, Lukman cekikikan dan bilang “Aku seperti Papa”. “Kenapa?” saya tanya. Lukman jawab: “Karena aku bilang : Kau tak apa?” hahaha gantian deh saya yang jadi ketawa, rupanya Lukman merasa pertanyaan itu khas Papanya, padahal malah Papanya yang meniru kebiasaan Lukman bertanya seperti itu.

Satu lagi kalimat khasnya Lukman: “Jangan lihat akuuu..!”. Lukman bukan cuma pandai berbicara manis dan sopan, tapi juga sudah bisa iseng, menggoda siapapun terutama yang ada dirumah. Tidak jarang saat weekend, Papanya yang berkesempatan bangun siang jadi sasaran keisengan Lukman. Ia ambil boneka tikusnya, lalu ekor boneka itu dia masukkan ke lubang hidung Papanya! Sekali, dua kali, didiamkan saja sama Papanya. Ketiga kalinya, Papanya tangkap Lukman dan dipeluk erat-erat. Lukman yang kaget langsung ketawa terbahak-bahak. Ketawanya tidak berhenti-berhenti, sampai-sampai ketika laporan ke Mamanya diluar kamar badannya masih bergoyang-goyang karena ketawanya. Kalau sudah keluar isengnya seperti itu pastilah Papa dan Mamanya melihat tajam kearah Lukman, pura-pura mengerenyitkan dahi, dan ia akan berteriak: “Jangan lihat akuuu..!”😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s