Bandung Yuuuk…

Sudah lama sekali kami sekeluarga tidak jalan-jalan ke Bandung. Yang terakhir kami ke Bandung di tahun 2006, ketika kami pergi bersama rombongan kantor Papanya. Saat itu pertama sekali Lukman pergi keluar kota dengan rombongan. Reza masih berumur 4 tahun, masih sedikit montok, tapi sudah pede abisss berani outbond, berani tampil di panggung dihadapan teman-teman sekantor Papanya🙂

 

Ketika itu Lukman masih belum bisa bicara, masih cenderung asik dengan dunianya sendiri, tapi kami senang Lukman sudah bisa diajak naik bus dengan jarak cukup jauh. Kalau Reza, hmmm, dia betul-betul senang dengan perjalanan ke Bandung. Baik itu ketika outbond di Sindang Reret, Lembang, lalu ketika menginap dihotel, juga ketika bernyanyi di panggung saat acara makan malam bersama rombongan. Tidak heran, ketika sudah waktunya pulang, Reza menangis tersedu-sedu, masih kepingin tinggal di Bandung🙂

Dengan pengalaman itu, Bandung memang selalu jadi tujuan liburan kami, tapi terwujudkannya baru bulan kemarin ketika anak-anak sudah cukup besar. Lukman tidak ingat pernah pergi ke Bandung, sedangkan Reza sudah lupa berkunjung kemana saja ketika tahun 2006 itu.

Beberapa minggu sebelum pergi, kami sudah memesan hotel yang sama dengan yang lalu, karena fasilitas condotel-nya sangat nyaman untuk keluarga, lengkap dengan peralatan makan/dapur kecilnya. Setelah beres dengan pemesanan hotel, saya mulai cari-cari tempat tujuan, yang tidak hanya tempat rekreasi bermain, tapi juga ada sesuatu yang didapat anak-anak dari kunjungan itu. Tujuan nomor satu adalah Museum Geologi, hehe karena Reza dan Lukman sangat suka hewan purba, sementara dimuseum itu ada rangka T-Rex dan mammoth. Selain museum itu, yang jadi pilihan kami juga adalah Taman Kupu-kupu, karena Reza dan Lukman pecinta kupu-kupu, dan saya pernah lihat di tivi kok bagus ya taman itu, kita bisa masuk ketaman yang banyak kupu-kupunya. Selain itu saya dapat info tempat lain yang seru dari sahabat di Bandung (thanks mbak Laxmi!) yaitu Jendela Alam di Lembang. Lalu tujuan berikutnya adalah Saung Angklung Udjo, yang sudah sering kami dengar namanya. Selain itu saya sempat mempertimbangkan Bosscha untuk jadi tujuan, namun karena harus mendaftar dulu sebelum berkunjung dan email saya belum dibalas sampai berangkat, kami batal kesana. Tidak kalah pentingnya adalah restoran dan tempat makan diberbagai lokasi saya catat dan dilihat lokasinya di peta.

Saat hari H anak-anak bangun dengan semangat, dan kami berangkat sesuai rencana menuju Bandung lewat Cipularang. Sampai di Bandung kami terus ke Lembang, menuju Jendela Alam. Kami melewati Kampung Gajah yang bikin Lukman teriak-teriak karena ada patung-patung gajah disepanjang pagarnya. Sampai di Jendela Alam, dengan udara yang sejuk, kami langsung mengelilingi lokasi. Melihat berbagai hewan, ada rusa, kelinci, ular, juga landak, sapi, angsa, dan yang paling heboh kandang besar berisi ayam arab. Kami tidak masuk, karena dari jauhpun aromanya sudah tidak tahan, Reza yang awalnya mau masukpun mundur teratur melihat “Ada pupup ayamnya dilantai, Mama!” hahaha dasar anak kota ya. Kandang kuda poni ada dibagian belakang, tapi sayangnya kuda-kuda lucu itu tidak dapat dinaiki dihari biasa, hanya saat weekend saja.

Bagian tanamannya pun tidak kalah menarik, ada giant pumpkin, ada kebun tomat cherry, strawberry, bahkan rumah jamur. Puas berkeliling dan main sebentar di playgroundnya, kami kembali ke Bandung. Setelah check in dan mandi, karena sudah dekat jam makan malam kamipun keluar mencari tempat makan yang sudah lama saya kepingin kunjungi lagi: resto sate di jalan Maulana Yusuf. Yang bikin saya kangen bukan satenya yang memang enak banget, tapi mereka punya hidangan soto ayam tauco, yang tidak pernah saya temukan direstoran lain. Rasanya berbeda dengan soto ayam tauco khas pekalongan, lebih pekat namun segar karena ada sayur toge didalamnya. Pokoknya benar-benar ngangenin hehe… Anak-anakpun suka satenya, bahkan ketika dibawa pulang ke hotel, esok paginya masih dicari anak-anak untuk sarapan. Selesai makan, kami berkunjung kerumah saudara sepupu saya, yang sudah beberapa tahun tinggal di Bandung. Tidak lama disana, karena mata Lukman kelihatan sudah lima watt, walau masih belum puas ngobrol kami kembali ke hotel untuk istirahat.

Keesokan harinya anak-anak bangun agak siang, tapi tetap semangat untuk lanjutkan petualangan di Bandung. Ketika sarapan di restoran hotel tersebut, Lukman tertarik dengan musik khas tanah Sunda yang mengiringi santapan pagi dengan tiupan suling, petikan kecapi dan gesekan rebab. Lukman acungkan jempol pada bapak-bapak pemain musik tersebut🙂

Tujuan pertama hari itu adalah Museum Geologi, yang ternyata…. ramai sekali pengunjungnya. Rupanya ada rombongan pelajar (SMP?) dari Bekasi yang sedang study tour. Saat parkir saya lihat waduh bus-bus besar sudah parkir entah 7 atau 8 bus, karenanya museum jadi riuh rendah suasananya. Kami langsung masuk kedalam museum (gratis) lalu langsung mencari T-rex dan mammoth. Rupanya rangka itu adalah replika fosil, dan  memang menjadi daya tarik utama museum ini. Sayangnya kondisi ruangan tempat T-Rex dan mammoth tersebut agak kurang terawat, replika fosil-fosil hewan purba didalamnya agak menumpuk, seperti kurang luas ruangannya. Selain fosil hewan dan manusia purba, ada juga ruang pameran sejarah gunung berapi, meteor, terbentuknya bumi, segala sesuatu yang berhubungan dengan geologi.

 

Selesai melihat isi Museum Geologi, kami lalu meluncur ke Saung Angklung Udjo. Sebetulnya kami ingin datang sore hari kesini untuk melihat pertunjukan, tapi karena mengatur rute akhirnya kami datang sekitar jam 11 siang. Saat itu rupanya juga ada pertunjukan, namun sudah hampir selesai. Lumayanlah, sambil melihat-lihat karya seni di galerinya kami tetap bisa mendengar lagu-lagu yang sedang dimainkan pada pertunjukan siang tersebut. Selesai disana, kami segera menuju ke Cihanjuang, tempat Taman Kupu-kupu. Namun sayang, karena cuaca hujan, kami batal masuk kedalam, padahal sudah cukup jauh perjalanan menuju tempat tersebut.

 

Kami langsung menuju Bandung, kesebuah mall dipinggir kota, karena disitu ada Snow World, wahana salju yang sudah pernah berkunjung ke Jakarta. Namun ketika di Jakarta kami belum sempat melihatnya, jadi ketika mendengar di Bandung masih ada, ya sekalian deh mampir. Sebelumnya kami berganti pakai sepatu dulu dimobil, supaya jari-jari tidak kedinginan. Setelah membayar tiket, kamipun masuk, hiii seperti masuk kedalam freezer, dan anginnya kencang sekali. Saya sendiri tidak tahan lama-lama didalamnya, sesudah puas melihat, lalu langsung keluar. Tapi Reza dan Ivan masuk lagi karena masih pingin seluncuran di salju. Saya dan Lukman menunggu diluar🙂

Selesai puas berseluncur, kami minum minuman hangat dulu, dan membeli makanan karena sudah cukup lelah untuk keluar makan lagi. Malam itu kami menikmati suasana di hotel saja, kebetulan pula hujan turun cukup deras, membuat istirahat kami semakin nyaman. Malam itu saya sudah katakan pada Lukman, kami akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Ketika itu Lukman langsung menangis, dia katakan “Aku sayang hotel, aku tidak mau kembali ke Jakarta” waduuuh saya pikir bisa-bisa besoknya nangis bombay nih diajak pulang.

Pagi hari terakhir di Bandung, kami sebetulnya tidak punya rencana apa-apa selain membeli cemilan khas Bandung. Tapi mengingat anak-anak kecewa karena tidak naik kuda poni di Jendela Alam, saya kembali mencari info untuk naik kuda di Bandung. Ternyata ada dua lokasi naik kuda, di dekat ITB dan dekat Cisangkuy. Sepupu saya memberitahu lebih baik di Cisangkuy, karena sambil menunggu bisa sambil mencicipi yogurt yang sudah terkenal itu. Mendengar info itu, apalagi lokasinya dekat dengan gedung Sate, kami pun meluncur ke Cisangkuy.

Ternyata pagi hari itu suasana Cisangkuy sudah cukup ramai, selain banyak kuda untuk dinaiki, sepanjang jalan sekitar gedung Sate itu penuh dengan jualan berbagai cemilan dan oleh-oleh Bandung. Jalanan jadi sempit dan macet, heboh sekali! Anak-anak langsung minta naik kuda, dan memilih kuda masing-masing. Lukman maunya kuda coklat, kalau Reza maunya kuda hitam (seperti Bucephalus, kudanya Alexander hehe) namun karena yang ada kuda putih dan coklat, Reza pilih yang putih saja. Senang sekali keduanya naik kuda, sementara saya dan Ivan menunggu, Papanya ikut berlari bersama Reza dan Lukman, sekalian olahraga. Selesai sekali putar, mereka minta putar sekali lagi, akhirnya baru turun ketika sudah selesai putaran kedua.

 

Habis naik kuda, kami jalan kaki menuju gedung Sate, bertekad harus berfoto didepannya, untuk bukti beneran ada di Bandung hihihi. Ternyata walau jalan kaki bisa macet juga, saking penuhnya masyarakat yang datang dan berjualan dipinggir jalannya. Sampai didepan gedung Sate, anak-anak bisa berfoto, satu kali tapi cukup untuk dokumentasi🙂 Sedang didepan gedung Sate itu, kakak saya yang juga ke Bandung sehari sebelumnya menelepon, dan kami ketemu untuk minum yogurt bareng. Habis minum yogurt, anak-anak ingin naik kuda lagi kali ini berempat karena ada Rania dan Dhea, anak sepupu saya. Kami ijinkan mereka naik kuda lagi supaya nggak penasaran. Akhirnya selesai putaran ke empat baru mau kembali ke hotel untuk siap-siap pulang ke Jakarta.

Oh iya, ada yang lucu ketika Lukman naik kuda kedua kali, dia kembali mencari kuda coklat. Kok ya kebetulan tidak ada kuda yang warna coklat, ada yang putih, hitam, coklat susu, semuanya ditolak Lukman. Ketika akhirnya ada kuda coklat lari-lari menghampiri, Lukman gembira sekali dan  bilang “Rupanya kamu disana!” dan bergerak hendak memeluk kuda tapi kami cegah. Senang sekali Lukman naik kuda itu, padahal saya lihat kudanya agak terlalu lincah, saat berhenti jalan kuda itu suka mendadak melompat. Tapi Lukman tidak takut, mungkin karena senang dapat kuda warna coklat itu hihihi😀 Dibawah ini videonya…

Naik Kuda di Cisangkuy

Karena sudah senang hati habis naik kuda, ternyata Lukman tidak menangis ketika meninggalkan hotel. Walaupun begitu, sesampainya di Jakarta, dan bangun pagi keesokan hari untuk pergi sekolah, Lukman nangis lagi, bilang “Aku mau kembali ke Bandung, aku mau ke hotel lagi” wah sama dong, Mama juga kepingin kembali ke Bandung lagi Lukman….🙂

2 thoughts on “Bandung Yuuuk…

    • Iya, rasanya 3 hari 2 malem itu gak cukup deh mbak Laxmi, hmmm kayanya musti ada ‘Bandung-Yuk-kedua’ neeeh qiqiqi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s