Desember Untuk Reza: Ulangtahun, Rapor, dan Sunat

Bulan Desember bulan spesial untuk Reza. Setiap tahun memang jadi spesial karena ulangtahun Reza jatuh di awal bulan ini. Tapi tahun ini menjadi lebih spesial lagi karena Reza sudah bersedia untuk melaksanakan salah satu peristiwa terpenting setiap anak lelaki muslim: disunat! Sejak Reza sudah bersekolah di SD, tiap tahun kami tanyai apakah ia sudah mau disunat, jawabnya pasti belum mau. Pertamanya karena ia masih merasa takut, dan kedua mungkin masih merasa umurnya masih muda. Nah tahun ini kami senang sekali ketika diingatkan sudah akan berulangtahun ke 10 Desember ini, Reza katakan dia sudah mau disunat. Wah Mamanya langsung cek sana cek sini, memilih tempat dan metode sunatnya, dan akhirnya memutuskan akan ke dokter yang sama yang sudah menyunat kakak sepupu Reza beberapa tahun yang lalu, dengan metode sunat yang sama menggunakan smart klamp.

Menjelang akhir bulan November persiapan sunatan Reza terlupakan sejenak dengan dimulainya dua pekan ulangan akhir semester (UAS). Beda dengan semester yang lalu, saat Reza memang kami biarkan belajar sendiri (baca: Rapor Semester Genap Reza Kelas 3) semester ini Reza kembali belajar dengan saya dampingi. Tentunya tidak semua mata pelajaran, hanya untuk pelajaran yang dirasa perlu perhatian khusus yang saya damping latihan dan menghafalnya. Untuk pelajaran seperti IPA, IPS, Bahasa Inggris sudah saya lepaskan, Reza menghafal sendiri, lalu saya tanyai sebentar, selesai. Kalau untuk matematik, Bahasa Indonesia, PAI dan Bahasa Arab memang lebih diperhatikan karena perlu banyak latihan, juga hafalannya tidak mudah nempel untuk Reza.

Tapi semester ini dari segi motivasi sekolah Reza sepertinya sudah lebih bersemangat dari semester lalu. Misalnya dipagi hari Reza lebih mudah dibangunkan, padahal semester ini Reza mulai naik mobil jemputan sekolah, yang berarti jam 6 pagi ia sudah harus siap dijemput. Namun ia tidak malas dibangunkan jam 5 pagi untuk shalat lalu sarapan dengan cepat dan mandi. Begitu juga jika diingatkan untuk belajar, walau masih suka bernegosiasi sebelum belajar, Reza sudah tidak sulit lagi diminta belajar sendiri. Untuk pelajaran bahasa Indonesia yang jadi momok mengerikan bagi Reza di semester lalu, di semester ini sudah lebih menyenangkan materinya bagi Reza, sehingga lebih mudah memintanya mengulang belajar dirumah. Karena itu, ketika ada pertemuan dengan guru kelasnya untuk rapor bayangan mid-semester, saya tidak heran yang dibahas guru-gurunya bukan masalah nilai atau materi pelajaran. Tapi segala kelakuan dan sikap Reza yang blak-blakan, kadang suka ‘nyeleneh’ dan sesekali membuat kejutan/kehebohan dikelas. Untung saja guru-guru kelas Reza adalah guru-guru senior, yang tidak mudah terpancing kaget atau heboh dengan tingkah Reza tersebut. Juga mereka tidak mengecap Reza dengan negative, dan justru mencari tahu, kenapa ya Reza sikapnya seperti itu. Buat saya cerita-cerita gurunya itu sudah tidak bikin heran lagi, karena sejak kelas satu memang selalu ada cerita-cerita sejenis dari guru kelasnya.

Pekan UAS pertama untuk ujian praktek dan lisan dilalui Reza dengan baik walaupun ia dalam kondisi kurang sehat, flu tapi ia tetap bisa belajar dengan baik karena tidak demam atau pusing. Justru setelah selesai UAS pekan pertama, pulang sekolah dihari Jumat Reza mulai demam dan batuknya tambah sering sampai muntah saking kerasnya. Hari Sabtu besoknya semakin parah batuknya Reza, dan mulai sesak napas, kambuh asmanya. Akhirnya tengah malam tepat sebelum hari ulangtahunnya Reza dibawa ke UGD, dan dibantu dengan infus dan di inhalasi lagi untuk mengurangi demam dan sesak napasnya. Setelah itu sepertinya Reza bisa lebih lega bernafas dan sudah turun suhu badannya. Tapi sampai dirumah, Reza kembali naik lagi  suhunya, dan sesak lagi. Akhirnya kami putuskan Reza dirawat saja, karena sudah tidak bisa terbantu obat-obatan oral.

Dihari ulangtahunnya Reza justru masuk rumahsakit, dirawat dan menjalani pemeriksaan lebih detail lagi. Ternyata flu yang mengawali sakitnya itu sudah menjadi pneumonia, dan Reza perlu dirawat minimal 5 hari agar tuntas pengobatannya. Ketika dirawat, Reza tidak mengeluh, padahal batuk-batuknya sering dan keras sekali, sampai muntah-muntah. Saya yang sesekali juga mengalami batuk seperti itu bisa membayangkan sakitnya badan karena semua otot pasti terasa ditarik setiap batuk. Tapi Reza tidak mengeluh, dan hanya diam saja kalau sudah reda batuknya.

Ketika menunggui Reza dirumah sakit itupun saya juga sedang tidak sehat. Bahkan sempat juga demam cukup tinggi, dan berobat juga kedokter dirumah sakit itu. Sukurlah tidak lama, kesehatan saya cukup cepat pulihnya. Sementara itu kondisi Reza yang membaik, sempat menurun lagi dihari ketiga. Batuknya yang langsung reda ketika hari pertama dirawat dihari ketiga kok muncul lagi cukup banyak, dan suhu badannya agak meningkat lagi. Reza sampai tidak bisa menelan makanan dan harus ditambah infus karenanya. Tapi rupanya menurut dokter itu menandakan reaksi yang baik, berarti lendir didalam parunya sudah mulai lebih encer, dan bisa dikeluarkan dengan batuknya itu. Hari kelima, keenam, kondisi Reza sudah makin membaik, dia sudah bisa mengeluh “Bosan, Mama” dan mulai merasa lapar jika waktu makan tiba. Alhamdulillah dihari Minggu, hari ketujuh dirawat, Reza sudah boleh pulang kerumah.

Setelah dua hari dirumah, dan sudah kontrol kedokter lagi, dihari Rabu Reza sudah boleh pergi kesekolah, tentunya untuk mengerjakan UAS susulan. Saya sudah memperkirakan, setidaknya 3 hari atau lebih, Reza harus ulangan susulan. Tapi ternyata Reza bisa mengerjakan dengan cukup cepat, bahkan hanya dalam 2 hari sudah selesai semua UAS susulannya. Walau begitu, karena tahu persiapan Reza kurang maksimal karena sakitnya tersebut, saya tidak mentargetkan nilai yang tinggi untuk kali ini. Dan ternyata rapor Reza cukup baik, beberapa nilai seperti IPA dan IPS tetap jauh diatas rata-rata kelas. Untuk pelajaran lain nilainya seperti sudah saya perkirakan, tidak ada kejutan yang menghebohkan untuk rapornya kali ini dan kami sangat bersyukur karenanya. Jika dibandingkan dengan rapor semester yang lalu, ada perbaikan yang signifikan, dan untuk kami yang paling kami syukuri adalah perbaikan dalam hal motivasinya belajar.

Selesai ulangan susulan, dihari Sabtunya Reza sesuai skedul semula disunat diklinik BayuAdji. Reza sudah terlihat siap, sehingga walaupun ada rasa takut dapat ditahannya dan hanya menutup matanya ketika disunat. Dokternya yang pembawaannya kalem juga menambah rasa tenang Reza. Bahkan ketika dalam proses pengerjaan sunatnya Reza masih bisa menanyai dokter, berkomentar, aktif bicara seperti biasanya. Proses sunat dengan smartklamp ini memang hanya sebentar, saya pun kagum karena kemajuan teknologi medis yang membuat proses ini terlihat mudah dan cepat selesai. Selesai disunatpun Reza langsung memakai celana, dan berjalan seperti biasa.

Seminggu setelah disunat, kami mengadakan syukuran bersama keluarga, dan Reza kelihatan gembira sekali bisa bertemu keluarga besar, teman dan juga guru-gurunya untuk berdoa bersama.

Hmmmm memang Reza sudah terlihat lebih dewasa semester ini. Banyak hal yang membuat kami orangtuanya bangga akan Reza, dan tiada lain harapan kami agar dimasa mendatang Reza dapat tumbuh dewasa dengan bahagia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s