Semester Istimewa Untuk Lukman

Baru minggu lalu kami terima rapor Lukman. Kalau disekolah Tetum Bunaya, rapor itu disebut laporan perkembangan. Dan perkembangan Lukman semester ini: luarrr biasa😀

Dari awal semester, memang terlihat Lukman mulai menikmati kegiatan bersekolah. Yang biasanya agak susah mengajak siap-siap dipagi hari, semester ini mudah sekali untuk mengajak bangun, mandi  dan sarapan sebelum sekolah. (Baca: Off To A Good Start) Yang biasanya Lukman ‘lengket’ sama Mamanya, dan harus dibujuk-bujuk masuk halaman sekolah, sekarang sudah dengan sendirinya masuk. Kadang Mamanya bengong, karena dia sampai lupa cium dan peluk dulu sebelum masuk sekolah hehe. Juga kalau biasanya dikelas Lukman lebih tertarik untuk membaca buku dan duduk dipojokan kelas, semester ini Lukman sudah sangat mau ikuti kegiatan, dan menikmatinya. Contohnya kegiatan menjahit. Saya tidak menyangka Lukman bisa dengan asyiknya menjahit, duduk tenang dan konsentrasi menyelesaikan karyanya dengan rapih. Bahkan selesai membuat satu karya, Lukman mau meneruskan dengan karya lainnya, yang berarti ia menikmati kegiatan tersebut. Selain menjahit, Lukman juga sangat senang kegiatan membuat kue. Sebelum hari raya Idul Fitri, Lukman belajar membuat kue bawang. Dibuatnya banyak juga, sampai bisa dibawa kerumah untuk dicicipi Papa dan Mamanya🙂

Kemajuan lain adalah ketika disekolah diadakan upacara. Ketika tanggal 17 Agustus yang lalu, Lukman yang baru pertama kali ikut upacara sepertinya tidak paham, kenapa sih harus berbaris panas-panasan, tidak melakukan sesuatu, tapi hanya diam, melihat komandan upacara menyiapkan barisan, kemudian memberi hormat pada bendera, menyanyikan lagu kebangsaan. Untuk Lukman hal itu membingungkan. Akibatnya ketika upacara Lukman tidak mau berbaris, malah lari-lari keliling halaman dan main sendiri, walau tetap ikut memberi hormat pada bendera mengikuti teman-temannya. Ketika upacara berikutnya, di hari Sumpah Pemuda, Lukman sudah lebih dipersiapkan, sudah lebih paham bahwa kalau upacara itu ya berbaris dan diam ditempat. Lukman mau ikut berbaris cukup lama, dan mengikuti sampai selesai. Dan hebatnya, karena Lukman tidak tahan panas matahari, sekarang Lukman mau memakai topi untuk pelindung panas. Sebelumnya Lukman selalu tidak mau pakai topi, nggak banget deh untuknya kepala ditutupi. Sekarang kalau merasa cuaca terlalu panas, otomatis Lukman mencari topinya.

Di semester ini, kegiatan wudlu dan shalat, yang sebelumnya tidak pernah Lukman ikuti, sekarang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan diakhir semester untuk shalat dhuha dilakukannya tanpa disuruh. Begitu sampai disekolah, setelah meletakkan tasnya, Lukman mengambil sarungnya dan berwudlu. Ini terus dibawanya kerumah, wudlu dan shalat dilakukannya seperti yang diajarkan disekolah. Yang bikin saya tersenyum, saat sedang berwudlu dirumah Lukman selalu mengatakan dengan bahasa yang baik dan benar: “Cuci tangan, kumur-kumur, basuh hidung, basuh muka, lalu tangan sampai ke siku, kepala dan telinga, terakhir cuci kaki, matikan keran lalu doa. Begitu caranya, Mama” hahaha itu pasti menirukan kalimat gurunya.

Lukman sedang enjoy sekali berteman. Mulai banyak mengajak bicara teman, lalu mengajak sama-sama membaca buku dan membahas isinya, lalu ikuti kegiatan kelas dengan senang hati. Karena sudah lebih mampu mengungkapkan isi hati, Lukman di semester ini relatif jarang marah secara fisik: mencakar, memukul atau menggigit. Kalaupun terlanjur dilakukannya, Lukman mengerti bahwa ia harus meminta maaf. Memang suasana disekolah Lukman sangat mendukung perkembangan emosinya. Tidak hanya dimaklumi kespesialannya, tapi dari guru dan teman-temannya Lukman belajar tentang standar norma, seperti: mengantri dengan sabar sampai gilirannya, kalau mau pipis harus ke toilet, tidak ganti baju disembarang tempat. Lukman juga belajar bertoleransi dengan teman, dan hebatnya, usaha Lukman ini dibantu tidak hanya guru-gurunya, tapi juga teman sekelasnya.

Contohnya seperti cerita berikut ini. Ada seorang anak berkebutuhan khusus (lain kelas) sebutlah namanya Fulan, yang senang sekali masuk ke kelas-kelas diluar kelasnya. Nah Lukman merasa sangat terganggu kalau ada anak kelas lain yang masuk tanpa permisi dan memakai alat-alat belajar dikelasnya. Biasanya Lukman jadi terpancing untuk mengusir anak tersebut “Pergi kau dari sini!” begitu katanya. Nah karena Fulan merasa Lukman yang paling ekspresif kalau ia masuk kelasnya Lukman, justru makin senang dia menggoda Lukman. Tidak hanya didalam, tapi juga diluar kelas. Akibatnya Lukman harus belajar bertoleransi kepada Fulan, bagaimana supaya tidak cepat marah kalau digoda, bagaimana supaya tidak cepat menangis kalau berbenturan fisik. Dan Lukman dibantu teman-temannya lho! Hal ini saya lihat sendiri ketika sedang berkunjung sebagai Parents of The Week. Saat kami asik berkegiatan, si Fulan datang dan menggedor-gedor pintu dan jendela. Lukman tetap terpancing untuk menghampiri jendela dan melarang Fulan mengetok-ngetok kaca. Teman Lukman, Sari, yang duduk disebelah saya bilang “Abaikan saja, Lukman!” dengan suara halusnya. Waduuh, saya jadi betul-betul terkesima!

Kemajuan lainnya, dibidang olahraga. Lukman sudah mulai mau ikuti aturan bermain, dan semester ini selain mau ikut lari estafet, Lukman juga belajar main kasti dan sepak bola! Kalau lari estafet memang sudah dipahami Lukman dari kelas TK. Tapi untuk olahraga kasti, baru dipelajarinya disemester ini. Menurut cerita ibu kepala sekolahnya, Lukman bisa memukul dengan baik, tapi saat harus ‘jaga’ dikesempatan berikutnya, Lukman malah jalan-jalan hehe. Yang paling saya kagum, Lukman sudah mau ikut bermain sepak bola. Kalau sebelumnya Lukman selalu menghindar saat teman-temannya main bola. Saya tahu, Lukman paling tidak bisa tersenggol atau jatuh. Lukman sangat sensitive untuk dua hal itu. Jadi kalau tersenggol, terdorong, walau temannya tidak sengaja, dia pasti menangis. Nah kalau begitu kan mana bisa main bola, yang pastinya akan banyak terbentur dan mungkin jatuh saat mengejar bola. Karena itu saya takjub ketika diceritakan Lukman ikut main bola saat class meeting. Walau belum paham aturannya, Lukman mau ikut mengejar bola, dan menikmati permainan walau akhirnya merasa cape. Ketika pertama ikut main bola, saat selesainya Lukman dengan muka memerah karena kepanasan minta “Aku mau pulang saja” hahaha. Tapi bisa dibujuk ibu gurunya, dan pulang seperti biasanya. Ketika ada kesempatan bertanding lagi dihari berikutnya, Lukman mau lagi ikut bertanding. Senang mendengarnya, Lukman sudah ada kemajuan, tidak lagi takut tersenggol atau jatuh.

Last but not least, di semester ini Lukman belajar untuk pisah dari Mamanya selama 6 hari. Ketika kakak Reza sakit, dan harus dirawat di RS, Mamanya menunggui Reza terus karena tidak ada yang menggantikan. Lukman tidak menangis walaupun sudah dikatakan “Mama menginap di RS jaga kakak ya” dan selama Mamanya tidak dirumah tetap berkelakuan manis, walau dia merasa kehilangan. Meskipun Mamanya tidak bisa mengantar, Lukman tetap rutin bersekolah karena ibu kepala sekolahnya, Ibu Endah, berbaik hati untuk menjemput dan mengantar Lukman kesekolah, istimewa sekali ya. Waduh kami bersyukur sekali karena Ibu Endah sangat paham bahwa kalau Lukman sampai tidak sekolah, dia pasti akan ‘nge-drop’ karena Lukman sedang senang-senangnya disekolah. Karena kegiatan rutinnya tetap berjalan seperti biasa, dengan dukungan Ayang juga asisten dirumah, Lukman bisa tetap ceria seperti biasa walau setiap saya menelepon kerumah Lukman pasti bilang “Mama cepat pulang, aku mencintaimu”. Dan yang paling bikin saya terharu adalah ketika disekolah Lukman diajarkan “Lagu Untuk Mama” dalam rangka memperingati Hari Ibu. Lukman senang mempelajari lagu itu, ikut bernyanyi keras-keras dikelas (biasanya tidak seperti itu) dan terus menyenandungkan ketika sudah keluar kelas. Hari itu Ibu Endah sms ke saya, mengatakan “Kalau telepon Lukman, minta dia nyanyi lagu untuk mama ya”. Betul, ketika saya telepon, dan saya tanya “Tadi belajar menyanyi ya Lukman?” Lukman langsung menyanyikan lagu itu:
Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta

Reff :
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama

Huaaa rasanya pingin menangis, sudahlah kangen berat karena tidak bertemu, lalu dinyanyikan lagu manis seperti itu🙂

6 thoughts on “Semester Istimewa Untuk Lukman

  1. Senangnya ya mbak Rosa, Lukman berada di lingkungan yang sangat mendukungnya… Guru, teman-teman…. Ikut senang mendengar perkembangan Lukman, mbak… Semoga ke depannya semakin banyak kejutan-kejutan indah dari Lukman…🙂

    • Amiiin… makasih ya Wiek🙂
      Harapan semua orang tua ya agar anaknya mendapat dukungan yang baik dari lingkungan sekolah dan teman-temannya, walau kadang harapan tsb harus diperjuangkan. Lukman memang beruntung mendapat sekolah yang sangat mendukung, dan itu sangat kami syukuri…
      Tetap semangat ya Wiek, semoga anak-anak kita semakin baik perkembangannya baik disekolah maupun diluar sekolah.

  2. Entah mengapa, mata saya berasa panas, menahan mewek…🙂

    pasti senang dan bahagia sekali ya Mam, Lukman semakin pandai… memang benar ya, lingkungan sangat mempengaruhi tumbuh-kembang anak-anak. Beruntung sekolahnya bagus ya Mam, sangat kooperatif dan mendukung.

    Mam, doakan saya juga ya, semoga tahun ajaran baru, saya bisa mendampingi anak2 sekolah….

    oiya, mungkin pengalaman Mba Ellyn resign dulu bisa di-share di sini, supaya saya bisa ketularan. thanks ya Mam…🙂

    • Amiiin… semoga keinginan Mama Ray dapat segera terwujudkan ya.
      Semua ibu pasti pernah merasakan dilema diantara pilihan untuk terus bekerja atau mendampingi buah hatinya dirumah. Setiap pilihan pasti ada plus dan minusnya, dan hanya diri masing-masing yang bisa memutuskan mana yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya tercinta.
      Kalau saya dulu memang sudah kepingin sekali mendampingi anak-anak sejak Reza lahir. Tapi karena pertimbangan tertentu saya terus bekerja, begitu juga saat Lukman lahir, setelah cuti melahirkan walau berat sekali kembali bekerja, namun kondisi kantor yang masih sangat membutuhkan membuat saya terus bekerja.
      Saat Lukman mulai dibawa ke klinik tumbuh kembang di umur 2 tahun, saya sudah mbatin ini pertanda saya sudah harus betul-betul berhenti bekerja. Syukurnya kondisi kantor yang akan berubah kepemilikannya -dengan adanya investor baru- membuka peluang untuk berhenti dengan situasi yang nyaman untuk kedua belah pihak. Selama hampir setahun saya mempersiapkan perpisahan dengan dunia kerja, dan alhamdulillah saat sudah dirumah bisa tenang mengurus anak-anak tercinta. Saya merasa semua itu memang ada waktunya, sesuai dengan rencana Allah SWT.
      Salam untuk keluarga dirumah, Mama Ray🙂

  3. hallow mama Lukman,
    sy mam’ kevin yg waktu itu pernah curhat prihal anak sy Kevin yg jg anak PDD NOS.
    per juli kemaren kevin sdh mulai masuk KB di sekolah Penabur bebarengan dgn abangnya yg jg baru masuk TK.saya sangat bersyukur skali,anak sy tersebut sangat antusias masuk KB tersebut.pada awal sdh langsung ikut berbaris,bahkan saya tdk menemanin untuk masuk kelas.sampai skrgpun dia sangat antusias.Dimana awal2 sy sblm nya sempat kawatir,jgn2 dia nanti tidak mau masuk ruangan,lebih suka di luar.tp ternyata kekawatiran sy tsb tdk terjadi.Puji TUhan.
    Saya konsultasi gurunya memang ada kala dia suka melihat2 di ruangannya mengelilingi ruangannyam,tapi dia mau menurut perintah gurunya.
    PR sy masih panjang Bu,krn anak sy tsb msh berbahasa planet.meskipun sdh byk kata2 yg dia kuasai tapi saya yakin pasti TUhan kasii jalan buat Kevin ,apalagi stlh baca kesaksian dari mam Lukman perihal perkembangan Lukman yg sdh masuk SD..sy senang mendengarnya.

    Trus trang dilema buat sy yg masih kerja ini,untuk membagi konsentrasi sy ant kerjaan dengan focus perkembangan anak2 sy khususnya Kevin
    sy berdoa semoga ada jln terbaik yg nantinya sy bisa putuskan,untuk kebaikan semuanya🙂

    Sukses buat anak2 kita ya mom🙂

    God bless..

  4. Waw hebat Kevin, sudah bisa ikut masuk kelas bahkan mau menurut perintah gurunya!

    Sabar ya Mam untuk kemampuan bahasanya, karena apa yang diusahakan oleh kita tidak akan terbuang, Kevin sedang merekam semua sekarang, dan pada suatu saat akan dikeluarkannya. Bahasa planet, lalu echolalia (mengulang kata2 lawan bicara) adalah tahap awal dari kemampuan bicara ABK.

    Untuk pekerjaan, semua ibu tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. Bekerja atau tidak bekerja, itu pilihan yang tentunya masing-masing ibu yang tahu keuntungannya. Yang penting kita semua selalu usahakan yang terbaik untuk sang buah hati, bukan begitu Mam?

    Salam hangat….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s