Idul Adha 1432 H

Ada yang istimewa dari Idul Adha tahun ini untuk kami. Tahun-tahun yang lalu -bila rejeki mencukupi- kami punya kebiasaan untuk membeli hewan kurban dikampung halaman, menitipkan pada saudara yang pengurus mesjid disana. Jadi anak-anak biasanya tidak melihat dan mengalami proses berkurban, walau beberapa kali Reza meminta untuk berkurban disekolahnya saja. Alasan Reza “Supaya bisa main dengan kambingnya dulu sebelum dipotong”.

Tahun ini kami belum punya rencana, namun sudah berasumsi akan sama dengan tahun-tahun yang lalu. Tapi ketika kami menerima sms dari Ibu Kepala Sekolahnya Lukman (baca posting: Kambing Untuk Lukman) saya berunding dengan Papanya, dan akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan pembelian kurban disekolah Lukman. Begitu tahu rencana kami itu, Reza jadi gembira sekali, dan punya permintaan khusus: “Domba saja ya, Mama, jangan kambing”. Saya mengiyakan, dengan syarat memang ada dombanya. Tapi kalau stocknya hanya ada kambing, berarti tetap kambing yang dibeli. Lalu saya janjikan begitu sudah dibeli dombanya, Reza boleh menengok sepulang sekolah disore hari, yang membuat Reza loncat-loncat kegirangan.

Berbeda dengan sekolah lain pada umumnya, disekolah Lukman event Idul Adha inipun dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembelajaran anak muridnya. Selain melakukan kegiatan dikelas menceritakan tentang Nabi Ibrahim AS,Nabi Ismail AS, tentang Shafa Marwah dll, sekolah juga memanfaatkan kegiatan diluar kelas agar murid lebih mengenal hewan kurban dan belajar transaksi jual beli. Untuk pembelian hewan kurban, kegiatan disekolah Lukman tidak hanya sepihak, dimana orangtua hanya menyerahkan hewan kurban, lalu sekolah yang akan mengurus proses dan pembagian dagingnya. Kegiatan berkurban disekolah Lukman sangat melibatkan anak muridnya. Mulai dari pemilihan hewannya, lalu bertransaksi tawar menawar harganya, kemudian membawa hewan tersebut kembali kesekolah, dan merawatnya sampai waktu akan diantarkan ke mesjid dekat sekolah.

Dihari pembelian hewan kurban, saya sudah siap sedia mendokumentasikan kegiatan Lukman dan teman-temannya. Mereka berjalan dari sekolah menuju tempat transaksi sejauh 1 km, dan begitu sampai dilapangan tersebut, mereka langsung menyerbu kambing dan domba yang sudah menunggu, dan mengelus hewan-hewan itu. Muka mereka terlihat gembira, apalagi ketika dipersilahkan memilih hewan mana yang akan dibeli. Lukman tidak lama-lama berpikir, ia langsung menunjuk seekor domba yang memang kelihatan paling ganteng, dengan tanduk melingkarnya. Sesudah teman-teman yang lain memilih, mereka berdiri berbaris, berhadapan dengan pedagang kambingnya. Lucu sekali mendengar mereka tawar-menawar dan ketika sudah ‘deal’ mereka tepuk tangan gembira.

 

Saya lihat Lukman sudah cukup terlibat disitu, memperhatikan hewannya, ikut mendengarkan teman-temannya menawar, dan juga ikut membayar (dibagikan uang oleh gurunya yang sudah mempersiapkan dari sekolah). Wah serasa betul-betul bertransaksi sendiri anak-anak itu.

Yang paling heboh adalah ketika kembali kesekolah bersama hewan-hewan itu. Ada kambing yang menurut saja diajak berjalan, ada lagi yang punya kemauan sendiri sehingga anak-anak yang memegangnya berteriak-teriak menarik kambing agar jalan menuju sekolah, dan ada juga yang sempat terlepas dari pegangan. Seru sekali perjalanan pulang itu.

Sesampainya disekolah, walau sudah cukup lelah berjalan, anak-anak tetap mau menemani para kambing, memberi daun-daunan untuk makanan kambing dan domba itu. Setelah beberapa kali dipanggil guru kelasnya, barulah mereka masuk kedalam kelas.

Sore harinya, saya sengaja menjemput Reza agar bisa cepat sampai dirumah dan segera menengok sang domba. Lukman dengan senangnya memperlihatkan domba itu pada Reza, dan mereka berdua cukup lama memperhatikan sang domba. Selain itu Reza juga berkeliling disekolahnya Lukman, melihat sawah mini, ayam yang bertelur, dan juga sobat lamanya: si Kuri, kura-kura yang pernah menggigit jempol Reza😀. Ketika akan pulang, Reza minta pada saya untuk diperbolehkan melihat pemotongan kurban. Setelah diskusi dengan Papanya, Reza akhirnya diperbolehkan, dengan syarat kalau takut ya langsung pulang saja.

Keesokan harinya, Lukman dan teman-temannya menyerahkan hewan kurban ke mesjid At Taubah, dekat Sekolah Tetum Bunaya. Dimesjid ini anak-anak biasa shalat dzuhur, sehingga tidak asing lagi untuk mereka. Beberapa anak mewakili penyerahan kurban kepada panitia pengurus hewan kurban. Sebelumnya dipagi hari Lukman sempat mengatakan akan membawa dombanya pulang kerumah! Tapi untunglah bisa diajak  bicara dan tetap pada rencana semula: diserahkan ke mesjid.

Dihari Idul Adha, seperti biasa kami shalat dimushalla sebelah rumah, dan sesudahnya Papanya dan Reza langsung menuju mesjid At Taubah, untuk menyaksikan pemotongan hewan kurban dari sekolah Tetum Bunaya. Saya sendiri tidak ikut, menemani Lukman dirumah yang sengaja tidak kami ajak melihat pemotongan.  Rupanya Reza sama sekali tidak takut, malahan ia sengaja dekat-dekat pemotongan, lalu mengambil foto-foto. Sepulangnya saat saya lihat foto-foto itu, saya tanya “Reza nggak takut lihatnya?” Ia menjawab “Nggak kok, malah pingin tahu”. Lalu saya bilang “Kalo nggak takut lihat kurban disembelih, berarti nanti kalau disunat berani dong?” hahaha memang sudah lamaaa sekali saya minta Reza mau disunat, karena umurnya sudah cukup. Selama ini Reza masih takut dan tidak mau, namun kemarin saat saya goda seperti itu, Reza sudah mantap menjawab “Iya dong”. Semoga nanti Reza betul berani, dan menjalani dengan lancar….

Untuk Lukman, kami senang sekali karena ia sudah lebih mau terlibat, memahami apa itu berkurban, dan menikmati kegiatan bersama teman-temannya. Sehari sebelum pergi membeli, Lukman sudah sebut-sebut “Kambingku” dan mencari guru yang akan mengurusi transaksi pembelian kurban. Dihari pembelian, Lukman mengatakan pada semua guru “Ayo beli kambing, kami mohon…” dengan jari tangan digenggam didepan dadanya. Hahaha… Dibandingkan tahun lalu, dimana ketika menjalani proses yang sama Lukman hanya diam saja, menggandeng tangan gurunya ketika membeli kambing, maka kegembiraan dan keterlibatan Lukman tahun ini menunjukkan selangkah lebih maju lagi perkembangannya. Kami sangat bersukur, sekolahnya selalu melibatkan murid-muridnya dalam event apapun. Dengan demikian banyak hal lagi yang dapat dipelajari murid-muridnya, bukan hanya sekadar belajar dikelas saja😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s