Kok Tega Sih…

Hari ini Reza pulang sekolah cerita ke saya ada temannya yang bilang “Kok tega banget sih ibu kamu kasih tahu kalo adekmu autis? Kok tega dibilang-bilangin ke orang-orang”. Reza bilang “Ya ibuku kan ngasih tahu, kalo nggak tahu ya ndeso! (pakai gaya Tukul Arwana)”. Saya jadi senyum-senyum mendengarnya. Lalu saya tanya “Ada lagi nggak yang komentar lain lagi tentang tulisan Mama itu?” Reza bilang ada yang mentertawakan, bilang “Autis hahaha…. Autis hahaha…”. Terus Reza gimana jawabnya? Dengan polos dia bilang “Reza jewer aja kupingnya, terus berhenti deh ketawanya temen yang itu”. Gubraak…

Saya lalu jelaskan sama Reza, agar lain kali jika ada yang bicara seperti itu jawab saja “Punya anak autis itu bukan hal yang memalukan kok untuk PapaMama Reza. Bukan juga sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Jika ada yang merasa harus merahasiakan, berarti dia beranggapan bahwa autis itu adalah suatu kekurangan. Papa dan Mama mencintai Reza dan Lukman apa adanya, dengan segala keunikan masing-masing. Autisnya Lukman itu membuat dia berbeda, tapi bukan berarti dia lebih jelek lebih bodo dari anak lain”. Lalu saya sebutkan contoh kelebihan-kelebihan Lukman yang disetujui Reza sambil angguk-anggukan kepalanya.

Menarik sekali mendengar reaksi teman2 Reza atas tulisan “Adikku Autis Dan Aku Sayang Dia”. Tulisan itu saya buat karena diminta oleh kepala sekolahnya Reza setelah beliau mendengarkan rekaman wawancara Reza dengan Paman Gery, penyiar di FeMale Radio. Beliau ingin mengangkat topik ini untuk buletin yang akan dibagikan kepada para murid.

Sebelum membuat tulisan itupun saya diskusi dengan Reza, menanyakan pendapatnya apakah dia nyaman kalau saya menulis tentang kondisi autisnya Lukman. Selama ini mungkin tidak banyak teman-teman Reza yang tahu tentang Lukman, karena bersekolah ditempat yang berbeda dan wilayah yang berbeda pula. Lukman pun jarang datang kesekolah Reza, dan lebih sering Reza yang datang bermain disekolah Lukman. Ketika saya tanya Reza “Boleh nggak Mama bikin tulisan tentang autisnya adek Lukman, dan nanti ini dibaca semua murid disekolah Reza lho?” Reza dengan santai jawab “Nggak apa-apa” dan tetap menjawab “Nggak apa-apa” walaupun saya ungkapkan kemungkinan-kemungkinan tanggapan yang akan diterimanya sesudah tulisan itu keluar.

Saya senang Reza mendapat pengalaman seperti ini, karena akan seumur hidupnya Reza menghadapi masyarakat yang tidak semuanya aware tentang masalah autisme. Sebuah pembelajaran yang bagus, baik untuk Reza maupun untuk PapaMamanya…

6 thoughts on “Kok Tega Sih…

    • Memang istilah-istilah ini bisa membingungkan ya, mudah-mudahan penjelasan saya berikut ini bisa membantu ya.

      Seorang anak disebut mengalami gangguan autistik jika memenuhi kriteria DSM-IV atau ICD-10. Ada daftarnya terperinci, bisa mama Kevin baca diberbagai website. Sedangkan PDD-NOS adalah diagnosa untuk kasus yang tidak menunjukkan kriteria lengkap DSM-IV namun sang anak juga mengalami gangguan interaksi dan komunikasi.

      Kalau saya tidak terlalu memusingkan istilah/diagnosa, karena walau dua ahli menyebutkan hal yg berbeda (yg pertama autis ringan dan yg kedua PDD Nos) saran yang mereka berikan sama: agar Lukman mengikuti terapi, harus belajar bersosialisasi lewat sekolah, dan stimulasi dirumah agar anak bisa mandiri🙂

      • terimakasih Bunda,

        saya senang dapat sharing dgn Bunda… saya berharap kedepannya anak sy kevin lebih bisa ‘survive’ spt anak normal lainnya.
        Btw, kemaren sekilas sy dpt info dr dokternya spy anak sy di hold untuk skolah PG. Secara sy berpikir bukankah lebih baik dgn ikut PG dia bisa bersosialisasi.
        menurut beliau terapi itu spt skolah.
        tapi stlh sy baca lukman ternyata PG,mungkin sy berpikir ulang untuk membawakan anak sy untuk jg ikut PG juli ini.nyambi sblm nya ikut terapi2 yg disarankan..
        hehe..bukan bgtu bunda Lukman🙂

      • Dulu Lukman juga sempat tidak dianjurkan PG oleh psikolog yg mendiagnosa Lukman ‘speech delay’ karena dikhawatirkan Lukman frustasi kalau tdk paham pembicaraan atau tdk bisa komunikasikan apa yg dia mau. Tapi saat Lukman sudah mulai bisa sedikit komunikasi, saya lihat justru Lukman perlu sekolah utk mempraktekan apa yg sudah dipelajarinya saat terapi. Syukurlah kami mendapat sekolah yang sangat mendukung perkembangan Lukman selanjutnya, dengan sangat baiknya komunikasi antara sekolah-rumah-terapis.
        Bisa mama Kevin baca posting berikut ini tentang kaitan antara edukasi (sekolah) dan terapi:
        http://endah.sekolahtetum.org/?p=462

  1. Bunda,..bunda
    aku mo curhat,..
    hiks..tadi aku bwa si kevin terapi ..dia interest banget,sampe ga nyadar klo kami keluarganya berada diluar nungguin dia .
    Puji TUhan,dia mau mengikuti instruksinya,tapi pas dah mo slesai,dia nangis.karena ternyata kok ga ada ortunya.
    Bunda Lukman,kadang tiap klo sy tanya org terapi,kok tdk membawa suatu harapan.
    hiks,cuma bilang kita liat nanti,… mbo’ yaa bilang,..pasti bisa bu,..ibu harus yakin dan berusaha..
    biar kita ortunya makin semangat,…jiwa sy masih lemes sbnrnya..
    merasa bersalah kadang sy bu,
    hiks..jadi curhat nii🙂..tks yaa Bu Lukman..

    • Wah hebat ya Kevin… bagus banget dia interest dg terapinya sampai lupa Mamanya yg menunggu🙂

      Soal terapis, harap dimaklumi ya Mom. Mereka belajar untuk mendidik anak kita, dan tidak semua pandai bersoal jawab dengan orangtua. Yang penting adalah bagaimana mereka mendidik anak, kalau memang cocok dengan Kevin dan terlihat Kevin nyaman, ya jalani terus. Soal menyemangati diri kita, mungkin lebih baik dengan sesama ortu anak spesial Mom. Ikuti saja group/komunitas orangtua berkebutuhan khusus, seperti websitenya Putera Kembara atau LRD Member di facebook, pasti lebih sreg dan puas untuk curhat maupun mencari ‘suntikan’ semangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s