A Mom’s Story

Awal kedatangannya di tempat pelatihan cukup membuat suasana heboh. Ibu Ayu (sebut saja namanya demikian) datang bersama seorang perempuan, dan seorang lelaki menggendong anak laki-laki berumur 3 tahunan yang terus-menerus menangis.

Seorang peserta senior (artinya telah beberapa kali mengikuti pelatihan di sana), mengingatkan bahwa kami tidak boleh membawa anak. Ibu Ayu terkejut, dan bilang, “Oh nggak boleh ya? Ada tempat penitipan anak nggak di sini?”

Tempat pelatihan tersebut berada di ruko bisnis komersial, sehingga besar kemungkinan tidak ada tempat penitipan anak. Tentunya berbeda kalau pelatihan dilakukan di sekitar perumahan.

Ibu Ayu dan rombongannya pergi, dan baru kembali sekitar dua jam setelah pelatihan berlangsung. Dia bersama teman perempuannya. Lelaki dan anak kecil itu tidak ada.

Pada saat rehat, kami pun mengobrol, berkenalan dengan sesama peserta pelatihan, termasuk Ibu Ayu. Cerita yang didapat dari Ibu Ayu tersebut cukup mengejutkan untuk saya. Rupanya ia datang dari luar Pulau Jawa, dan menurutnya anaknya didiagnosa autis. Lelaki yang menggendong anaknya itu ternyata sopir taksi yang baru dikenalnya saat naik taksi. Saya kagum Ibu Ayu bisa membujuk sopir taksi untuk menggendong anaknya masuk ke dalam ruko. Yang lebih membuat saya takjub, dia membiarkan orang yang baru dikenalnya untuk menggendong anaknya yang autis, dengan alasan berat. Perjalanan jauh dan perubahan suasana tentu tidak mudah bagi seorang anak autis, apalagi berada dalam gendongan orang yang tidak dikenal. Terlebih lagi mendengar bahwa anaknya dititipkan pada tempat penitipan anak yang baru pagi itu didapatkannya. Saya kalau mau menitipkan anak pasti repot dengan berbagai persiapan, memilih tempat penitipan yang aman, mengenalkan tempat itu pada anak sebelum ditinggal di sana, mengenalkan anak pada pengasuh sementaranya, dll, dll. Tapi ibu Ayu ini sepertinya tenang saja, juga saat saya tanya “Dijaga sama siapa, Bu, anaknya?” Dia menjawab, “Kan ada baby sitter-nya”. Dugaan saya bahwa baby sitter itu adalah pengasuh anaknya, ternyata saya salah. Setelah mengobrol lagi barulah saya tahu bahwa baby sitter yang dimaksud adalah pegawai tempat penitipan anak itu.

Semakin lama mengikuti pelatihan, semakin banyak yang saya tahu dari Ibu Ayu. Beliau suka mengobrol, dan senang menceritakan segala sesuatu tentang dirinya. Ibu Ayu juga suka bercanda, dan memancing gelak tawa teman bicaranya.

Rupanya Ibu Ayu berprofesi sebagai pedagang. Beliau sering ke Jakarta untuk membeli isi tokonya, yang terletak di ibukota suatu provinsi di luar Pulau Jawa. Tokonya menjual berbagai kebutuhan perempuan, entah itu baju aksesori atau  alat kecantikan. Selama mengikuti pelatihan, ponselnya kerap berdering, dan dengan gesit sekali Ibu Ayu menjawab. Ketika ditanyai trainer apa tujuan Ibu Ayu ikut training, dijawabnya “Agar dapat melayani customer dengan lebih baik”. Saya kurang paham apa hubungan pelatihan itu dengan pelayanan pelanggan, karena pelatihan itu mengenai ritme dasar manusia yang berpengaruh pada perkembangan anak. Tentunya pelatihan itu lebih bermanfaat untuk anaknya.

Mungkin keceriaan Ibu Ayu adalah cara dia untuk mengatasi kegalauannya terhadap anaknya.  Ketika membicarakan anaknya, dia tidak dapat menutupi perasaannya. Dia mudah meneteskan airmata.

Di awal pelatihan saya berpikiran kok dia begitu ya terhadap anaknya, namun kemudian saya mencoba berpikiran di pihak Ibu Ayu. Mungkin memang dia belum memahami tentang kebutuhan anak autis, dan dengan menyerahkan anak kepada baby sitter di rumah –seperti pengakuannya– dia menjadi lebih jauh lagi dengan anaknya. Saya tidak tahu bagaimana Ibu Ayu bisa mendaftar di pelatihan itu, namun tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini bukan? Tentunya ada sesuatu yang menggerakkan Ibu Ayu untuk lebih peka terhadap anaknya, dengan menggiringnya ke Jakarta mengikuti suatu pelatihan.

Bahkan di hari pertama pun tampaknya Ibu Ayu sudah mendapat pencerahan. Di sesi penutupan hari pertama, di saat kami membuat lingkaran dan bergandengan tangan sambil mengucapkan testimoni, Ibu Ayu berbicara sambil meneteskan air mata, “Sesudah menjalani pelatihan hari ini, aku baru menyadari  bahwa tangisan anakku di saat aku mau pergi itu berarti anakku mulai merasa kehilangan ibunya.”

Subhanallah … saya terharu karena Ibu Ayu sudah mendapat pencerahan. Dia sudah merasakan kebutuhan anaknya untuk didekap.

Pada hari berikutnya, saya melihat bahwa Ibu Ayu mulai peduli kepada masalah anaknya, sekalipun di mata saya pertanyaannya terdengar polos.  Misalnya, saja “Bagaimana supaya anak saya cepat bicara.” Di hari ketiga dia bertanya lagi, “Menurut Bapak, apakah dengan teknik yang diberikan anak saya bisa bicara, dan bagaimana menjelaskan kepada suami saya tentang pelatihan ini.”  Trainer langsung tertawa, dan mengatakan, “Itu kan sudah Ibu tanyakan kemarin, dan tentunya Ibu sudah bisa menjawab sendiri setelah menerima sekian banyak materi sampai hari ini. Jadi jawaban saya sama dengan yang kemarin.”  Peserta yang lain menambahkan, “Suaminya diajak ikut pelatihan saja, Bu!”

Ibu Ayu  masih belum puas dan melanjutkan, “Begini, Pak. Suami saya kan belum mengerti tentang pelatihan ini, jadi nanti saya bilang, ini lho cara supaya anak kita bisa bicara.”

Bapak trainer kami menjawab, “Ibu memandang ‘anak saya sakit’, dan karena itu Ibu berusaha mencari solusi ‘pengobatan’ apa yang bisa menyembuhkan anak Ibu. Ibu melakukan terapi ke sana kemari, dan berusaha mencari yang terbaik agar anak Ibu sembuh, tapi menurut saya itu nggak akan berhasil kalau Ibu tidak mendampinginya. Anak Ibu  butuh Ibu. Coba saya tanya: dalam sehari, berapa jam Ibu mendampingi dia?” Ibu Ayu  menjawab dengan yakin bahwa dia yang memandikan, mengantar dan menunggui anak di sekolah, dan setelah itu baru pengasuh yang mendampingi sampai dia pulang kerja di sore hari, dan Ibu Ayu pun mengajak anaknya bermain.

Trainer bertanya lagi: apakah ketika bersama anaknya, betul-betul ia seluruhnya ada di sana, atau hanya badannya, sementara pikirannya  memikirkan toko? Rupanya trainer pun memperhatikan bahwa selama pelatihan ponsel Ibu Ayu  sering berbunyi, baik sms maupun panggilan percakapan, dan sehabis bertelepon dia dengan bangga mengatakan, “Wah barang yang saya beli kemarin sudah masuk ke toko.”

Ibu Ayu berpikir, dan akhirnya menangis terisak-isak. Katanya “Rupanya saya salah selama ini, dan saya perlu 100% mendampingi anak saya.”

Kami menarik napas lega mendengar Ibu Ayu  berbicara begitu, tapi ucapan selanjutnya membuat kami –termasuk trainer– jadi geregetan. Dia mengatakan, “Ya memang saya giat mengumpulkan duit karena saya punya cita-cita anak saya nanti harus masuk SMP X dan SMA Y. Tapi rupanya cita-cita saya itu tidak akan tercapai, malahan saya harus meninggalkan pekerjaan untuk mengurusi betul anak saya ini. Kasihan anak saya itu.”

Trainer bilang, “Sebetulnya yang Ibu kasihani adalah diri Ibu sendiri. Anak Ibu nggak merasa apa-apa, kok. Ibu mengganggap kondisi anak Ibu sakit, dan perlu diobati.” Lalu trainer bicara tentang label. “kalau kita sudah menganggap anak kita autis dan memberi label autis padanya, maka kita akan menutup banyak kemungkinan di masa datang untuk anak itu.”

Panjang lebar lagi penjelasan sang trainer, sementara Ibu Ayu  terisak-isak menangis.

Kemudian trainer menutup sesi sharing  dengan mengatakan, “Jadi, Bu, kalau nanti bapaknya nanya: ‘Gimana Bu hasil trainingnya?’ Ibu bilang ya, anakku butuh aku, gitu.”

Selama tiga hari saya melihat Ibu Ayu berproses, dan pastilah akan mendapatkan pencerahan lagi. Tentunya Dia lebih tahu bagaimana membuat seseorang berubah, bagaimana membuat seorang ibu anak berkebutuhan khusus lebih peduli pada anak yang dititipkan kepadanya.

Saya sendiri? Kehadiran Ibu Ayu menjadi “sesuatu banget” untuk saya. Tak dapat dipungkiri, selesai pelatihan saya bersyukur dipertemukan dengan Ibu Ayu, karena membuat saya semakin yakin bahwa kemajuan anak memang sangat tergantung pada ibunya.

photo by John Dalkin

Cerita ini pengalaman saya ketika mengikuti suatu pelatihan tahun yang lalu

2 thoughts on “A Mom’s Story

  1. MaLuk selalu menjadi inspirasi buat saya…… SABARnya terutama. Terima kasih karena selalu berada di sana, terima kasih karena selalu berbagi, *hugs*

    • Makasih mama Shafa🙂 saya memang senang berbagi cerita, dan kalau cerita itu bermanfaat untuk teman-teman wah makin senang deh… *bighugs*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s