Anak Bandel?

Pada waktu berlebaran dihari Idul Fitri kemarin, beberapa saudara yang baru saya beritahu tentang autisnya Lukman mengatakan hal yang sama: “Autis? Masa sih? Nggak kelihatan lho autisnya. Kalau nggak diberitahu mamanya saya nggak akan tahu kalau Lukman itu autis”. Ya memang saat dia sedang okey moodnya, saat dia bisa menikmati kondisi sekeliling, Lukman bisa bersopan-santun saat baru berkenalan, apalagi kemampuan komunikasinya sudah semakin membaik sudah bisa menjawab pertanyaan sederhana dari orang yang baru dikenalnya. Jadi dimata orang awam yang tidak mengenal autisme, kelihatannya Lukman tidak berbeda dengan anak-anak lain.

Tapi tidak begitu halnya kalau Lukman sedang merasa terganggu, sedang tidak nyaman dengan kondisi sekeliling, atau sedang lapar, misalnya. Mungkin kalau anak-anak ‘biasa’ mereka akan rewel atau merengek jika kondisinya sedang tidak nyaman. Kalau Lukman? Dia bisa melakukan sesuatu yang tidak terduga, bahkan saya yang selalu mendampinginya juga bisa terkejut juga dengan perubahan perilakunya itu.

Ketika Lukman sedang bete karena lapar dihari lebaran (dia tidak mau mencoba hidangan dirumah saudara) ketika diselipkan uang angpao ketangannya ia tidak hanya menolak, tapi juga membuang uang yang diberikan itu sambil bilang “Aku tidak mau uang!” Untung saja saat itu kami sedang berada dirumah om dan tante yang sangat memahami kondisi Lukman, walaupun baru saja diberitahu tentang autisnya Lukman. Jadi walaupun kami sempat nggak enak hati, reaksi mereka yang malah menenangkan dan mengusap-usap punggung Lukman untuk membujuknya membuat kami jadi terharu.

Weekend kemarin, saat acara halal bihalal keluarga dimana banyak saudara yang saya sendiripun jarang bertemu, ada kejadian lagi saat Lukman sedang merasa tidak nyaman. Halal bihalal itu diadakan disebuah café, yang seperti pada umumnya café tidak terlalu terang suasananya. Itu saja sudah mempengaruhi Lukman, karena dia tidak suka masuk ruangan asing yang gelap. Kemudian ada sound system, yang juga cukup mengganggu untuk Lukman, karena dia juga tidak tahan dengan suara keras. Namun begitu, saya tidak mengikuti permintaan Lukman untuk keluar ruangan, karena saya pikir dia harus mulai sedikit membiasakan diri pada suasana yang tidak terlalu nyaman baginya. Untungnya karena Lukman diajak ngobrol oleh sepupu-sepupunya diapun tidak ngotot untuk keluar ruangan.

Sementara itu acara terus berjalan, mulai pembukaan, doa bersama, lalu masuk ke penjelasan silsilah, Lukman mulai bosan. Dia ambil mainan dinosaurus yang dibawanya, lalu bermain dilantai tidak jauh dari saya. Karena Lukman terlihat asik bermain sendiri, saya mengawasi saja dari jarak yang tidak jauh darinya. Ketika melihat tumpukan air mineral digelas, Lukman lalu mainkan tumpukan gelas itu. Mainan dinosaurusnya masih dilantai. Saat ada saudara (perempuan seumuran saya) melintas, dia melihat mainan dinosaurus Lukman dilantai yang bisa membuat tersandung orang yang lewat. Dipindahkannyalah si dinosaurus itu keatas meja dekat Lukman. Rupanya Lukman merasa terganggu mainannya dipindahkan tanpa permisi dulu. Dan mendadak Lukman menendang saudara itu, sampai hampir terjatuh! Saya kaget, tidak sangka Lukman akan marah sampai menendang. Apalagi yang ditendang, tentunya kaget bukan main, dan langsung berreaksi dengan bilang “Aduh, kamu bandel ya!” sambil menunjuk muka Lukman. Saya langsung menarik Lukman sambil bilang “Sini yuk, sama Mama”. Saat bersamaan saya minta maaf pada saudara itu, memeluknya sambil bilang “Maaf ya uni, anak saya ini autis”. Muka saudara saya itu langsung berubah, dan kelihatan jadi salah tingkah.

Papanya Lukman walau tidak melihat kejadian dari awal langsung mengajak Lukman keluar, melihat kolam ikan didepan café itu. Sementara itu saya masih ngobrol sebentar dengan saudara itu sebelum akhirnya acara makan siang dimulai, sehingga saya bisa keluar mencari Lukman. Kelihatan Lukman sudah nggak bisa diam, dia mainkan apa yang dilihatnya, lalu ngomong sama Papanya “Ayo kita ke museum serangga”. Akhirnya kami pulang sebelum acara selesai.

Dimobil saya jadi terdiam, walau masih menjawab otomatis setiap pertanyaan/komentar Lukman. Ada rasa bersalah juga, tidak menyangka Lukman akan bereaksi menendang saudara tadi. Kalau kejadian itu bukan pada saudara yang muda, misalnya pada salah satu nenek, wah bisa jatuh beneran dan bisa jadi cedera tulang. Ihhhhhh serem membayangkannya. Tentunya pada kejadian seperti itu tidak semua orang akan memaklumi kondisi Lukman, dan tentunya saya sebagai orangtuanya yang harus bertanggungjawab mengawasi. Namun memang kejadian tersebut betul-betul diluar perkiraan saya, mengingat waktu lebaran saat dia bete-pun Lukman tidak ‘menyerang’ orang lain.

Ini memang bukan kejadian pertama, namun kejadian ini yang paling membuat saya berpikir lagi, perlukah Lukman dibawa ke-acara-acara pertemuan seperti itu? Selama ini saya selalu berpikir bagaimanapun Lukman harus dibawa, karena dengan begitu ia akan belajar bersosialisasi. Saya harapkan walau awalnya ia tidak merasa nyaman, lambat laun ia akan terbiasa, dan bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang tidak terlalu nyaman untuknya. Untuk acara keluarga seperti piknik, acara olahraga, dan acara-acara kantor Papanya, Lukman sudah lumayan bisa menyesuaikan diri, bahkan bisa menikmati suasana atau permainannya. Tapi untuk acara resmi/semi-resmi, dimana ada banyak sambutan, presentasi atau acara yang membutuhkan kita untuk duduk manis cukup lama, akan membosankan untuk Lukman. Jangankan Lukman, anak ‘normal’pun pasti akan bosan, walau tidak lalu menjadi bete karenanya.

Kejadian ini membuat saya merenung dan kembali menyadari banyaknya pe-er yang harus kami kerjakan untuk menyiapkan Lukman berhadapan dengan dunia luar. Dunia yang tidak selalu memahami kekhususannya. Bagaimanapun dia akan tumbuh dewasa dan akan menghadapi dunia itu, dan kami perlu menyiapkan Lukman agar justru ia yang bisa lebih memahami orang lain, bisa lebih berempati dan bisa mengatur emosinya. Tapi saya tetap optimis, dan tidak jera untuk membawa Lukman ke acara-acara yang berbeda dari rutinitasnya. Tetap semangaattt!!!😀

2 thoughts on “Anak Bandel?

  1. Salut buat mama Lukman, sepertinya kasusnya mirip anak ke-2 saya; Rafi, awalnya didiagnosa Speech delay saja oleh dr. Handoko, pendiri Agca Center Srbya, saat dia Seminar di Bontang, Kaltim. Tapi sy tdk mau larut dlm prediksi yg cuma melegakan sesaat, “nggak pa-2 kok, bukan Autisme, emang asumsi tsb membantu ..?”, mmg problem di perencanaan gerakan, spt jk dia mau lewat, org bisa disruduknya. 1 hal yg sy menyerah, wktu therapynya berbarengan dg saat mengaji, sore, sepulang sklh. Sy pilih mengaji, krn feeling sy mengatakan Rafi hrs mendekati TuhanNya & berdoa sendiri kepadaNya. Alhmdulillah ..pilihan sy tepat, Rafi tumbuh jd anak lembut hati (dia tergolong Hypo/berbalikan dg Autisme berat Hyper), IQ & EQ ckp berimbang. Meski pernah jg HP-nya dilempar (hampir kena sy yg lg tiduran di lantai, tp cara lemparnya ke tembok atas sy, jd menurutku dia tdk nakal) krn tdk ada SIM Cardnya, kupkr ckp dg lagu2 sj kesukaannya (tp dia membandingkan dg kakaknya yg HP-nya bs segalanya. Pernah jg dia mendorong adiknya, krn mmg dia dlm status Rafi terjepit, ke atas kakaknya sk marahin krn brg2 kakak sk dirusak (sk di-utak/atik sbnrnya), trus ke bwh/adiknya sgt galak (namanya msh kecil), apa yg dipegang Rafi direbut, namun itu berubah saat sy membawanya ke kuburan mantan pembantu yg sakit & meninggal (pernah jg saat bekerja Rafi menendang perutnya meski sekali & tdk sakit, cuma gaya marah sj, krn mbak tsb selalu membela si adik), kujelaskan mb di kubur krn perutnya sakit (lever akut), trus mati, trus di kubur berteman ulat-cacing-semut, entah ..dia mengkaitkan dg perilakunya, semenjak itu Rafi selalu mengalah, tdk mau melawan/membalas ke siapapun, tdk ke sdrnya sj jg ke tmn2 nakalnya. Rafi skrg SMP kls IX, sdh pernah dipaksa merokok & dipkulin/tendangin kepalanya oleh anak2 nakal di sklh. Untunglah suami langsung tegas protes ke sklh utk menempuh jalur hukum jk sklh tdk bs mengatasi hal2 tsb.

    • Subhanallah, Rafi sudah kelas IX sebentar lagi SMU ya mama Rafi…
      Justru saya yang salut pada mama Rafi, juga pada ibu-ibu dari anak spesial yang tidak putus harapan, dan dengan semangatnya dapat mengantar anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Buat saya ini masih hal yang di idam-idamkan, Lukman walau cerdas tapi masih sulit untuk bisa tenang dan fokus di kelas. Hanya saat terapi saja bisa keluar kepintaran aslinya. Doakan kami ya Bu, supaya Lukman bisa seperti Rafi, meski bersusah payah namun bisa melewati segala halangan dan terus melaju ke tahap pendidikan berikutnya.
      Amiiin ya rabbal alamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s