Adikku Autis, Dan Aku Sayang Dia

Tulisan dibawah ini Mamanya buat karena diminta oleh Kepala Sekolahnya Reza. Rupanya beliau juga mendengarkan rekaman wawancara Reza dengan Paman Gery di FeMale Radio (baca posting: Obrolan Reza Tentang Lukman), dan jadi ingin mengangkat topik ini untuk buletin yang akan dibagikan kepada para murid.

Lumayan ragu memulainya, karena Mamanya belum pernah menulis diluar blog, dan biasanya tulisan Mamanya ditujukan untuk pembaca dewasa sedangkan buletin ini untuk para murid SD, tentunya harus dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah diserap. Tapi alhamdulillah, tulisan itu selesai juga, dan…. lumayan panjang! hahaha susah menghentikan deh kalau sudah mulai menulis, jadi saya serahkan saja tulisan ini pada pak KepSek apa adanya, dan mempersilahkan beliau untuk mengeditnya.

1st Update, November 2011: Akhirnya di awal bulan November 2011 ini buletin tersebut terbit dan memuat tulisan Mamanya.

Tulisan selengkapnya bisa dibaca dibawah ini.

ADIKKU AUTIS, DAN AKU SAYANG DIA!
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Pagi itu terdengar di radio FeMale percakapan antara Paman Gery penyiarnya dengan Reza
Gery (G): Halo Reza, paman Gery boleh nanya nggak?
Reza (R): Boleh
G: Reza, kalau adek Lukman itu… Reza tahu nggak… kenapa?
R: Lukman ada autisnya…
G: O adek Lukman autis. Memang Reza ngerti, autis itu apa?
R: Mmm… agak ngerti dikit.
G: Kaya apa ngertinya, certain dong…
R: Itu kayak mmm… autis itu… apa yang… ehm eh nggak tau deh…
G: Ok, gini, kan tadi Reza bilang adek autis kan, tapi… Reza sayang nggak sama adek?
R: Sayang…
G: Beneeer?
R: Bener…

Anak-anakku para murid tercinta, tentunya kalian pernah mendengar istilah autis seperti yang dibicarakan Reza tentang adiknya diatas itu? Mungkin walau sering mendengar kalian suka bingung, apa sih sebetulnya autis itu? Sebetulnya seperti apa ya anak/orang yang autis itu?

Autis itu adalah kondisi/keadaan seseorang sejak lahir yang menyebabkan ia kesulitan untuk berkomunikasi maupun bersosialisasi. Sulit berkomunikasi seperti tidak bisa bicara, ataupun bisa bicara tapi sulit bertanya-jawab, sepertinya susah sekali ‘nyambung’nya. Sedangkan kesulitan sosialisasi bisa karena mereka berperilaku tertentu, sangat emosional, mudah marah karena hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian besar kita, bisa sangat terganggu misalnya dengan suara yang keras, sehingga kalau mendengar bel sekolah misalnya, dia langsung menutup kupingnya seperti sangat kesakitan.

Karena autis itu adalah kondisi/keadaan seseorang sejak lahir, autis bukanlah suatu penyakit yang menular, dan apa penyebab seorang anak menjadi autis belum ditemukan sampai sekarang.

Apa saja sih tanda-tandanya orang autis itu? Wah banyak sekali, karena autis pun banyak jenisnya. Ada autis yang berat, dimana penyandangnya tidak bisa berkomunikasi, susah dimengerti apa maunya, seringkali tantrum/mengamuk tanpa dapat dipahami sebabnya, dan seperti tidak mengerti bahaya, bahkan menyakiti dirinya atau orang-orang disekelilingnya kalau sedang mengamuk. Mereka seperti tidak butuh orang lain, tidak mau menatap mata, dan melakukan kegiatan atau gerakan yang berulang-ulang tanpa capek dan bosan. Misalnya kalau bermain mobil-mobilan, mereka bukan menjalankan mobilnya, tapi hanya memutar-mutar ban mobil mainan itu. Teruus begitu, bisa sampai berjam-jam.

Tapi ada juga autis yang ringan, seperti Lukman, adiknya Reza. Walaupun sampai umur 2 tahun Lukman belum bisa bicara, tapi karena terus di terapi (diajarkan khusus) Lukman akhirnya bisa berbicara dan cukup baik walau kadang masih sulit menyampaikan maksudnya. Begitu juga dengan bersosialisasi. Dulu saat masih di playgroup, Lukman tidak suka masuk kedalam kelas, karena tidak suka kelas yang ramai. Dia lebih suka diluar kelas, berlari-larian dihalaman, dan baru mau masuk kelas kalau sedang kosong.

Karena terus diajarkan dan diajak bergaul baik oleh guru maupun teman-temannya, Lukman sekarang bisa bermain bersama teman-teman sekolahnya, walau kadang masih lebih senang sendiri kalau merasa tidak nyaman. Begitu pula dengan kegiatan sekolah, kalau dulu Lukman harus selalu diberitahu, bahkan didampingi oleh shadow teacher (guru pendamping) sekarang Lukman sudah cukup mandiri. Datang kesekolah, menaruh tas dilocker, menulis nama untuk absensi, ikut kegiatan didalam kelas seperti teman-temannya, juga bisa makan sendiri saat makan bersama. Kalau dilihat sepintas, Lukman sama saja terlihat seperti teman-temannya, tidak terlihat kalau Lukman itu penyandang autis.

Selain yang berat dan ringan, ada juga autis yang sedang, dimana gejalanya ada diantara yang parah dan ringan. Karena banyak jenisnya inilah sulit bagi orang awam untuk mengetahui apakah seseorang itu autis atau tidak. Hanya ahli-ahli yang sudah terlatih yang bisa menyatakan apakah seseorang itu autis.

Kalau tadi Mama Reza lebih membahas soal Lukman disekolah, bagaimana dengan dirumah? Alhamdulillah sejak kecilnya Lukman terlihat dapat merasakan kasih sayang Papa-Mama dan kakaknya. Dia pun terlihat menyayangi keluarganya. Lalu karena sulit berkomunikasi, bersosialisasi, apakah Lukman suka diajak jika kami pergi ke acara keluarga, berlebaran, atau acara kantor Papanya? Jawabannya: Ya. Karena dengan seringnya Lukman diajak bersosialisasi, walaupun kadang ada kesulitan karena Lukman tidak suka tempat yang terlalu ramai, atau tempat yang berisik (misalnya acara yang ada sound systemnya) kami tetap usahakan agar Lukman ikut. Dengan begitu sedikit demi sedikit Lukman bisa menyesuaikan diri, sekarang ia cukup bisa berada ditempat ramai, dan menikmati kegiatan bersama.

Bagaimana dengan Reza, apakah suka bermain dengan Lukman? Jawabannya juga Ya. Karena justru dengan bermain bersama itulah Lukman banyak belajar dari kakaknya. Lukman belajar untuk main bergantian, belajar untuk berbagi mainan, memang sih masih sulit dan Lukman masih sering marah jika harus berbagi. Reza juga sering mengajarkan pengetahuan umum kepada adiknya. Contohnya, Lukman senang sekali membaca peta dunia. Reza senang memberitahu adiknya itu mana Negara Itali, dimana benua Afrika, dan sekarang Lukman sudah canggih sekali kalau membaca peta dunia. Tidak hanya benua, Negara, kota-kotapun Lukman tahu dimana Jakarta, Paris, New York dan lain-lain.

Mudah-mudahan cerita Mama Reza ini dapat membuat anak-anakku dapat lebih mengerti apa itu autis. Insya Allah dengan pengertian itu anak-anakku dapat lebih memahami bahwa anak-anak autis memang berbeda, tapi mereka juga umat manusia ciptaan Allah SWT yang perlu disayangi, dididik, dan diajak bermain bersama seperti anak-anak pada umumnya. Jazakillah khairan kasiran.

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wabarakatuh

Note: tulisan ini juga dimuat di Website Asah-Asuh (http://www.asahasuh.com/articles/42-cerita-inspirasi/161-adikku-autis-dan-aku-sayang-dia.html)

2nd Update, 4 Nov 2011:  Hari ini Reza pulang sekolah cerita ke saya ada temannya yang bilang “Kok tega banget sih ibu kamu kasih tahu kalo adekmu autis? Kok tega dibilang-bilangin ke orang-orang”. Reza bilang “Ya ibuku kan ngasih tahu, kalo nggak tahu ya ndeso! (pakai gaya Tukul Arwana)”. Saya jadi senyum-senyum mendengarnya. Lalu saya tanya “Ada lagi nggak yang komentar lain lagi tentang tulisan Mama itu?” Reza bilang ada yang mentertawakan, bilang “Autis hahaha…. Autis hahaha…”. Terus Reza gimana jawabnya? Dengan polos dia bilang “Reza jewer aja kupingnya, terus berhenti deh ketawanya temen yang itu”. Gubraak…

Saya lalu jelaskan sama Reza, agar lain kali jika ada yang bicara seperti itu jawab saja “Punya anak autis itu bukan hal yang memalukan kok untuk PapaMama Reza. Bukan juga sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Jika ada yang merasa harus merahasiakan, berarti dia beranggapan bahwa autis itu adalah suatu kekurangan. Papa dan Mama mencintai Reza dan Lukman apa adanya, dengan segala keunikan masing-masing. Autisnya Lukman itu membuat dia berbeda, tapi bukan berarti dia lebih jelek lebih bodo dari anak lain”. Lalu saya sebutkan contoh kelebihan-kelebihan Lukman yang disetujui Reza sambil angguk-anggukan kepalanya.

Menarik sekali mendengar reaksi teman2 Reza atas tulisan “Adikku Autis Dan Aku Sayang Dia!”. Tulisan itu saya buat karena diminta oleh kepala sekolahnya Reza setelah beliau mendengarkan rekaman wawancara Reza dengan Paman Gery, penyiar di FeMale Radio. Beliau ingin mengangkat topik ini untuk buletin yang akan dibagikan kepada para murid.

Sebelum membuat tulisan itupun saya diskusi dengan Reza, menanyakan pendapatnya apakah dia nyaman kalau saya menulis tentang kondisi autisnya Lukman. Selama ini mungkin tidak banyak teman-teman Reza yang tahu tentang Lukman, karena bersekolah ditempat yang berbeda dan wilayah yang berbeda pula. Lukman pun jarang datang kesekolah Reza, dan lebih sering Reza yang datang bermain disekolah Lukman. Ketika saya tanya Reza “Boleh nggak Mama bikin tulisan tentang autisnya adek Lukman, dan nanti ini dibaca semua murid disekolah Reza lho?” Reza dengan santai jawab “Nggak apa-apa” dan tetap menjawab “Nggak apa-apa” walaupun saya ungkapkan kemungkinan-kemungkinan tanggapan yang akan diterimanya sesudah tulisan itu keluar.

Saya senang Reza mendapat pengalaman seperti ini, karena akan seumur hidupnya Reza menghadapi masyarakat yang tidak semuanya aware tentang masalah autisme. Sebuah pembelajaran yang bagus, baik untuk Reza maupun untuk PapaMamanya…

3rd Update, Maret 2012: Kemarin Reza pulang sekolah heboh sekali, membawa bungkusan besar dari sekolah. “Ini dari Front Office, Mama, katanya hadiah untuk kita”. Saya bingung juga, perasaan nggak mesen apa-apa kesekolah Reza. Setelah dibuka, ooo rupanya tanda terimakasih atas kontribusi artikel di majalah Spirit tersebut. Hihi nggak sangka, dan nggak berharap juga karena diberi kesempatan menulis tentang autisme untuk saya sudah ‘sesuatu’ banget, demi kepentingan perjuangan menambah kepedulian masyarakat terhadap autisme. Semoga kita semua semakin betul-betul peduli dan lebih tahu lagi soal autisme ini. Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s