Catatan Kecil Tentang Autisme

Sejak Lukman di diagnosa autis ringan beberapa tahun yll, saya awalnya ragu-ragu saat ditanyai orang lain tentang Lukman, dan juga bingung saat akan menerangkan kondisi khususnya itu. Awalnya sih mungkin karena masih nggak yakin dengan autistiknya Lukman. Tapi dengan berjalannya waktu, saya jadi lebih paham karena terus mempelajari tentang autisme dan memang menemukan kecocokan-kecocokan antara perilaku Lukman dengan karakteristik yang saya pelajari dari buku-buku, seminar maupun dari percakapan sesama orangtua anak autis.

Setelah yakin dengan autisnya Lukman, saya masih tetap ragu menyatakan kekhususannya Lukman. Saya khawatir dengan tanggapan-tanggapan yang mungkin akan diberikan lawan bicara saya. Saya ingat pernah katakan Lukman speech delay, hanya terlambat bicara, agar Lukman diterima ditempat les musiknya. Ada kekhawatiran ketika itu jika saya katakan yang sesungguhnya, jangan-jangan Lukman tidak diterima disana. Setelah beberapa waktu barulah saya kemukakan Lukman itu autis, itupun dengan cara tidak langsung, dengan men-share tulisan-tulisan saya di blog ini.

Ada rasa lega yang amat sangat ketika saya mengatakan keautisannya Lukman dan dia tetap diterima lingkungannya. Saya rasa semua ibu dari anak berkebutuhan khusus juga mengalami hal itu: kekhawatiran tidak diterimanya sang anak karena kondisi khususnya. Seperti contohnya ditempat les musiknya itu, bahkan guru-guru dan humasnya sering mengajak ngobrol saya masalah autisme, berbagi pengalaman mereka dengan murid-murid lain yang autis. Saya tahu tidak semua lembaga akan bersikap seperti itu, namun pengalaman ini semakin menguatkan saya untuk berterus terang mengenai kekhususan Lukman, dan juga membagi pengetahuan saya yang baru sedikit ini mengenai autisme. Mungkin saya akan masih ragu-ragu untuk bersikap ketika memasuki lingkungan baru, komunitas baru, tapi niat saya seperti itu, membuka kartu dari awal perkenalan.

Walaupun kampanye autism awareness sudah cukup bergaung saat bulan April (bulan Autisme internasional), masih belum banyak masyarakat umum yang mengetahui dengan jelas apa itu autisme. Masih banyak yang rancu dan menyamakan autisme dengan kondisi khusus lainnya. Contohnya kemarin, ketika kami bertamu kerumah kenalan lama yang baru bertemu lagi dalam kesempatan satu reuni. Ketika itu anak-anak juga ikut, karena sebelumnya ada acara keluarga dan pulangnya sekalian mampir kerumah kenalan lama tersebut. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan Lukman mulai resah duduk manis, mulai lari kesana-kemari kami jelaskan pada tuan rumah bahwa Lukman itu autis, dan karenanya kami harus melakukan penjagaan saat berkunjung ketempat yang baru dikenalnya.

Seperti yang sudah sering kami dengar, kenalan lama itu bilang “Oh, autis? Masa sih? Nggak kelihatan kok”. Saya jelaskan bahwa autis itu sangat luas range-nya, dan kebetulan Lukman masuk kategori autis ringan. Kembali sang tuan rumah katakan “Tapi bener deh, nggak kelihatan sama sekali. Kalau autis itu biasanya mukanya kan khas sekali ya, cenderung sama antara satu anak autis dengan anak autis lainnya” Oooo rupanya dia memikirkan tentang kekhususan down syndrome, yang memang punya ciri-ciri fisik yang unik, seperti misalnya bentuk mata yang Mongoloid.

Kejadian itu semakin meyakinkan saya kalau kami, para orangtua anak-anak autis, memang juga punya tugas khusus yang tidak kalah pentingnya dari mendidik anak agar berkembang optimal dan menjadi pribadi yang mandiri, yaitu tugas untuk mendidik masyarakat sekitar kami agar lebih aware, lebih paham soal autisme. Semoga dengan lebih mengetahui dan mendapat informasi yang benar tentang kekhususan anak-anak kita, masyarakat luas bisa lebih menerima keberadaan anak-anak spesial ini, menerima mereka sebagai bagian dari keluarganya, tidak takut memperbolehkan anaknya main dengan anak autis, tidak ragu-ragu untuk memberi peluang pada mereka untuk bisa bermasyarakat secara luas, baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun bersosialisasi secara umum.

3 thoughts on “Catatan Kecil Tentang Autisme

  1. Bener, Mam, ga semua orang (malah lebih banyak yg ga tahu) memahami apa itu autis. Kalo ga ada yang kasih tahu, dari ‘luar’ tampak biasa. Saya jd ingat waktu Ray sekolah di PG. Ketika jam istirahat, Ray minum susu kotak rasa coklat, tiba2 ada anak yang menyambar susu dan langsung meminumnya, tanpa ba bi bu. Saya kaget. Saya sapa dia, dia diam saja, Mam. Saya terus perhatikan dia, sambil mikir. Hehe. Kemudian ada guru yang menerangkan kondisinya, saya baru ngeh.

    Selanjutnya, tiap nganter sekolah, saya perhatikan dia. Memang ga ada komunikasi, Mam. Itu pertama kali saya ketemu langsung sama anak autis. Kalo wajahnya ya biasa aja. Memang banyak orang mengira down sindrom itu sama dg autis ya.

    Yang jelas, menurut saya, anak2 spesial ini diamanahkan oleh Allah Swt tentu saja kepada orangtua yang spesial pula, orangtua hebat. Tidak ada kesia-siaan dalam setiap kejadian.

    Salam terhangat, Mam…🙂

    • Terimakasih MamaRay… Pemahaman yang seperti MamaRay lakukan itu yang masih cukup langka di masyarakat kita. Yang sering terjadi anak spesial itu dianggap anak nakal, dll. Semoga dengan banyaknya kegiatan autism awareness semakin banyak pula masyarakat yang menyadari keistimewaan anak2 ini…

  2. Pingback: Catatan Kecil Tentang Autisme | Ibu Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s