Rapor Semester Genap Reza Kelas 3

Awal bulan Juli lalu saya ambil rapornya Reza sendirian, memang karena hari itu ada beberapa acara, dan supaya tidak antri saya datang pagi-pagi sekali. Sama sekali nggak punya ekspektasi apa-apa, karena memang kalau terima rapor Reza selalu ada ‘yang tak terduga’.  Apalagi semester ini kami lepaskan Reza belajar dengan caranya sendiri. Hal ini karena adanya kejadian semester lalu, dimana Reza merasa tertekan ketika Ulangan Akhir Semester sampai tantrum,  menolak belajar bahkan menolak menjawab pertanyaan yang sebetulnya dia tahu jawabannya (lihat posting Rapor Semester Ganjil Reza Kelas 3) . Sempat kami konsultasikan Reza dg psikolog, ketika itu kami disarankan untuk memberikan keleluasaan pada Reza menentukan cara belajarnya, dan mensupport agar dia tidak merasa stress ketika ulangan. Sebetulnya Reza tidak ada masalah menyerap bahan pelajaran, bahkan sangat baik nilai ulangan lisan dan prakteknya. Tapi Reza merasa sangat terbebani dengan ulangan tertulis (baca posting Reza Dan Tulisannya Lagi).

Ketika mid semester dengan cara belajar sendiri ini, nilai-nilai Reza memang cukup baik, dan Reza semakin pede dengan cara belajarnya itu. Bahkan mungkin terlalu pede, sehingga betul-betul tidak mau latihan soal tertulis dirumah ketika Ulangan Akhir Semester. Hanya mau ditanyai secara lisan. Walaupun ragu dengan cara itu, kami tetap pada komitmen awal: Reza yang menentukan sendiri cara belajarnya. Ia baru mau latihan tertulis untuk pelajaran Bahasa Inggris, ketika saya tanyai lisan dia tidak bisa menjawab dengan benar. Ketika itu dengan bertukar argumentasi, Reza akhirnya mau latihan tertulis. Tapi hanya sekali itu saja, untuk pelajaran itu saja. Pelajaran lainnya, karena ia bisa menjawab secara lisan, Reza menolak latihan tertulis dirumah.

Akhirnya, ketika saya sampai dikelasnya untuk mengambil rapor dan menunggu giliran, ketika membuka rapornya, hmmmm nilai2nya turun hanya dua pelajaran yang diatas rata2 kelas: IPA dan Bahasa Inggris yang cukup jauh diatas rata2 kelas. Ketika bicara dengan kedua guru kelasnya, seperti yang sudah2 mereka katakan Reza tidak ada masalah menyerap pelajaran, oke banget dalam ulangan lisan dan praktek, namun kalau menjawab soal tertulis sering terlihat ingin cepat selesai saja, agak ‘asal’ menjawabnya. Jika ditanya “Bagaimana pendapatmu tentang….” Maka sudah pasti jawaban Reza hanya ditulis “Bagus” atau “Tidak baik” padahal diperlukan juga alasannya.

Ketika sampai dirumah, saya belum ada waktu untuk bicara dengan Reza, karena sudah akan pergi lagi. Begitu juga keesokan harinya, kami ada acara kumpul keluarga dirumah, dan saya hanya sempat mengulas nilai2nya Reza sendiri (biasanya berdua Papanya) secara singkat. Reza dengan berat hati setuju untuk kembali belajar bersama Mamanya, dan latihan tertulis dirumah.

Keesokan harinya, ibu saya datang kerumah, main sebentar dan ngobrol, kemudian ketika akan kembali kerumahnya bilang “Wah Ayang lupa kasih hadiah kenaikan kelas untuk Reza ya”. Saya langsung menukas, “Wah Reza rapornya kurang bagus semester ini Ayang, sepertinya hadiahnya disimpan dulu saja”. Reza langsung cemberut. Ayang pulang kerumah, saya masuk kamar. Cukup lama saya baru keluar dan Reza tutup mukanya begitu melihat saya. Saya tanya “Reza kenapa?”. Dia malah menangis tersedu-sedu, sampai tidak jelas apa yang dikatakannya. Beberapa kali saya bilang “Mama nggak denger, Reza, tenang dulu, biar jelas bicaranya”.

Cukup lama Reza baru bisa bicara jelas, tapi masih tetap tersedu-sedu “Reza mau hadiah dari Ayang”. Saya tanya “Menurut Reza, Reza pantas dapat hadiah?” Dia cuma bisa mengangguk. Saya bilang “Menurut Mama, Reza belum pantas dapat hadiah. Reza tahu kenapa? Kalau Reza dapat hadiah dari siapapun, itu karena Reza berhasil dalam sesuatu. Misalnya menang perlombaan, berhasil puasa sehari penuh, atau berhasil mendapat nilai yang baik. Nah sekarang nilai rapor Reza gimana? Bagus nggak?” Dia diam saja. Saya bilang “Kalau menurut Mama rapor Reza menurun nilainya, coba Reza perhatikan” saya ambil buku rapornya dan bahas nilai-nilainya. Saya lihat Reza tetap cemberut, walaupun terlihat mengerti apa yang saya katakan. Melihat dia seperti itu saya bilang “ Mama tahu Reza sedih banget dan kepingin dapat hadiah, tapi Reza harus belajar bahwa kita bisa dapat sesuatu memang kalau kita berhak mendapatkannya. Kalau nilai rapor nggak bagus, jangan berharap dapat hadiah. Tapi Reza justru harus bertekad untuk perbaiki nilai-nilai itu”. Huaaa nangis lagi tersedu-sedu Rezanya, dan bilang “Tapi Reza tetap mau dapat hadiah”. Lho? Rupanya dia kekeuh banget untuk mendapatkannya, walaupun pembicaraan sudah panjang lebar.

Akhirnya saya bilang “Maaf ya Reza, tapi Reza harus memahami bahwa didunia ini tidak selamanya Reza mendapat pengalaman yang menyenangkan. Tidak selamanya kita bahagia, tapi ada sedih dan juga ada rasa kecewa. Reza pasti sedih dan kecewa, tapi Reza juga harus belajar mengatasinya. Karena dimasa yang akan datang Reza akan ketemu hal-hal yang bikin Reza sedih atau kecewa lagi. Itu namanya hidup, nggak selamanya hidup itu menyenangkan, nggak selamanya kita selalu bahagia. Yang penting kita harus berusaha mengambil pelajaran dan berpikir bagaimana caranya agar kita bisa lebih baik dimasa mendatang”. Walau dia mendengarkan, tapi Reza tetap huaaaa… nangis terus. Ditambahin lagi pakai banting-banting bantal, berantakin selimut, pokoknya kasih lihat kalau dia sedih/kecewa. Saya bilang “Silahkan Reza marah, atau mau berantakin kamar, nanti juga kalau terapis datang dan Reza mau nggak belajar, terserah Reza. Tapi Reza tetap nggak akan dapat hadiah, paham?” lalu saya tinggalkan dia.

Saya pergi kerumah Ayang, untuk menjelaskan kenapa tadi saya cegah niat Ayang memberikan hadiah. Ayang sangat mengerti penjelasan saya, dan setelah ngobrol cukup lama saya kembali kerumah. Saya lihat Reza masih tiduran, masih sembunyikan mukanya, tapi saya biarkan saja, tidak saya tegur. Saya malah ajak Lukman mandi, dan lucu sekali Lukmannya, ketika lagi mandi mendengar kakaknya bersin, dia bilang “Mama, kakak bersin!” saya senyum dan bilang “Iya, biar aja Lukman”. Tapi Lukman bilang “Mama, tolong kasih kakak tissue!” hahaha dia perhatian banget sama kakaknya, mungkin dia pikir kakaknya lagi sedih, jadi perlu lebih diperhatikan.

Keluar kamar mandi, saya lihat Reza sudah duduk didepan computer, dan bilang “Reza boleh main?” saya perbolehkan. Begitu juga ketika terapisnya datang, Reza tetap mau belajar seperti biasa dengan cukup semangat.

Saya harap Reza bisa menarik pelajaran dari kejadian tersebut, dan semester depan mau belajar bersama Mamanya agar bisa latihan tertulis pelajarannya dirumah. Apalagi dikelas 4 ini sudah tidak dengan system tematik lagi, saya berharap hal ini juga lebih membantu semangatnya Reza belajar. Semoga….

Related posts:

Rapor Semester Ganjil Reza Kelas 3 

Reza Dan Tulisannya Lagi

Nilai Reza Lagi

Nilai UTS Reza Kelas 2

Nilai Rapor Reza Kelas 1 

Tulisan Reza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s