Miris

Hari ini saya mengantar Reza ke sebuah klinik fisioterapi untuk kesekian kalinya, sebuah rutinitas yang sudah sering kami lakukan setiap kali batuk/asma-nya kambuh. Sudah sejak masih bayi, masih umur 7 bulan Reza berkenalan dengan klinik ini. Syukurlah karena pelayanan klinik yang cukup baik, dan suasana ruangan yang tidak menakutkan bahkan cukup nyaman untuk anak-anak membuat ‘perkenalan’ Reza dengan klinik ini cukup menyenangkan. Memang sih sejak bayinya Reza anak yang manis, yang sangat mudah menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi baru. Jadi jika bayi/anak kecil umumnya menangis meraung-raung saat di inhalasi, kalau Reza hanya diam, bahkan bisa tersenyum atau ketawa kegelian saat digetarkan dengan alat didadanya.

Biasanya urutan kegiatan fisioterapi ini sbb: anak dihangatkan dg mesin microwave diathermi, lalu diuap dengan alat nebulizer, digetar dengan vibrator yang bentuknya mirip setrika, lalu terakhir dipijit untuk relaksasi. Kalau sampai disini sebetulnya yang dialami anak tidaklah menyakitkan bahkan jika anaknya santai, bisa menikmati lho kehangatan, rasa lega dan pijitan yang lebih melegakan nafas. Namun ada lagi tahap berikutnya, dengan menggunakan mesin penyedot lendir/suction. Biasanya suction hanya dipertimbangkan pada bayi/anak yang lendirnya sangat kental sehingga ditakutkan menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Cara ini cukup ‘menakutkan’ bagi anak, juga orangtua yang melihatnya sering tidak tega.

Hari ini ada seorang anak perempuan, lebih kecil dari Reza, mungkin umur 6 atau 7 tahun, yang rupanya diminta dokternya untuk dilakukan suction. Dari percakapan ibu dengan mas terapisnya sepertinya anak ini sudah pernah mengalami suction tsb, dan rupanya cukup trauma sehingga begitu alat tersebut didekatkan, ia langsung menangis. Sang ibu, bukannya menenangkan, malah memarahi anaknya. Berulang kali ibunya bilang “Ayo, cepet buka mulutnya, biar disedot dan lebih gampang napasnya!” si anak malahan merapatkan mulutnya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentunya kalau sang anak tidak tenang, malah sulit untuk dilakukan suction, karena selangnya tidak mudah dimasukan ketenggorokannya. Cukup lama si ibu berteriak-teriak kepada anaknya, dan bukannya menurut, sang anak malah makin kekeuh tidak buka mulut. Si ibu sampai bilang “Ayo satu, dua, tiga, buka mulutnya!” Aduuuh saya miris banget, mengerti pasti anaknya merasa ketakutan, kenapa ya ibunya malah berteriak2? Apa tidak ada cara yang lebih manis untuk membujuk sang anak? Sang anak akhirnya mau membuka mulut, asalkan “Ibu berdiri disana saja, jangan hitung2” waduuuuh, sedih betul hati saya kalau jadi ibunya, disuruh menjauh seperti itu. Cukup lama saya tersiksa mendengar suara marah ibu dan suara tangis si anak. Reza juga memalingkan muka, tidak mau lihat kearah mereka. Akhirnya bisa juga selang suction dimasukan, tapi tidak sukses, karena si anak tidak mau tenang. Tindakan yang sama terpaksa diulang esok harinya, karena masih belum sukses dilakukan hari ini.

Mereka keluar, ruangan jadi sepi. Tapi hati ini kenapa tidak lega ya? Hiks….😦

2 thoughts on “Miris

  1. oo… yang alat suction itu bukan dari hidung ya Mam…? saya baru tahu…

    tentang ibu yg marah, sebetulnya dia sayang sama anaknya, ga mau anaknya sakit, tapi cara berkomunikasinya yang perlu diubah…

    semoga Reza cepat sehat kembali… amiin…🙂

    • Diklinik tersebut ada dua model suction-nya, Mama Ray. Ada yg lewat hidung, dan satu lagi yg lewat tenggorokan…
      Trimakasih ya, syukurlah sekarang sudah membaik kondisinya Reza🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s