Main Di Kampung

Hari Sabtu yang lalu kami ikut rombongan tabloid nakita berkunjung ke desa Cinangneng di Bogor. Sudah beberapa kali kami ikuti acara yang mereka selenggarakan, dan selalu berkesan tiap kalinya. Lihat saja posting Jadi Pak Tani Dalam Sehari, juga Foto-foto Taman Safari dimana kami ikut rombongan nakita. Karenanya begitu diberitahu kali ini nakita akan adakan Program Poelang Kampoeng dimana kegiatannya pasti mengasikkan buat ‘anak kota’ langsung kami mendaftar.

Perjalanan ke Cinangneng cukup tersendat, perbaikan jalan tol didaerah Sentul dsk menyebabkan arus lalu lintas menjadi padat merayap. Tapi kemacetan tidak terlalu terasa karena sepanjang jalan didalam bus diisi kegiatan kuis dan games untuk anak-anak. Geli sekali melihat anak-anak dengan serunya berebutan menjawab.

Sampai disana, sementara rombongan masih berkumpul mendengarkan penjelasan panitia dan pesan sponsor, Lukman sudah tidak sabar untuk langsung berkeliling, dan akhirnya kami menjelajahi duluan tanah berlembah tersebut. Kontur tanahnya menurun sampai mencapai sungai Cinangneng yang mengaliri persawahan. Kami melewati berbagai bangunan, ada beberapa guest house yang asri, juga kolam renang, aula untuk menari, dan kebun yang dipenuhi tanaman sayuran dan pepohonan hijau.

 

Akhirnya sampailah kami ke tepi sungai Cinangneng, Reza dan Lukman gembira sekali melihat ada seekor kerbau yang rupanya sudah menunggu tamu-tamu kecil yang akan bermain bersamanya.

Setelah puas melihat-lihat, kami kembali ke rombongan, dan mulai dengan acara pertama: menjelajahi kampung, melihat home industry disana. Menuju kampung, Reza melihat ada yang menarik: telur keong emas. Memang warnanya mencolok sekali, pinky! Berbeda dengan warna keongnya yang kecoklatan.

Lanjut berjalan kekampung kami melewati pematang sawah, memperhatikan putri malu yang buat anak kota lain mungkin jarang dilihat, juga melewati kebun jagung, singkong. Di desa kami melihat berbagai home industry disana, mulai pembuatan tas ransel/kulit, pembuatan jaket/seragam juga kerajinan bambu yang dibuat untuk egrang, obor dan hiasan. Sepulang dari keliling kampung, acara berlanjut dengan menanam pagi. Sempat kami berteduh dulu disaung, menanti berlalunya hujan. Tak lama hujan berhenti, Reza langsung dengan semangat mencemplung ke sawah. Walaupun teteup bilang “Geli hihihi….” terkena lumpur, tapi ia semangat sekali menanam padi. Kalau Lukman cuma memperhatikan saja, masih belum berani mencemplung kesawah.

 

Selesai menanam bibit padi, Reza sudah belepotan lumpur, dan langsung diajak mandikan kerbau disungai. Langsung Reza berlari kesungai, sudah nggak sabar main dengan kerbau.

Puas bermain, waktunya makan siang! Hidangan ala Sunda langsung disantap habis, maklumlah sudah berkegiatan seperti itu bikin perut memang sudah keroncongan.

hmmm yummy!

Usai makan siang, sejumlah kegiatan menarik sudah menanti: belajar main angklung,  membuat wayang dari batang singkong, kursus kilat jaipongan, dan yang juga sangat disukai Reza dan Lukman: memainkan gamelan!

Lucu sekali melihat mimik Reza dan Lukman yang tampak menikmati belajar gamelan tersebut di rekaman berikut ini😀

Selanjutnya kami melihat cara pembuatan hidangan tradisional: wedang jahe dan kue bugis. Tidak disangka, anak-anak serius juga memperhatikan penjelasan cara membuat hidangan tersebut, mencoba memotong sereh yang ow alot juga ya hihihi, lalu mencicipi permen jahe, mencoba memasukan unti kedalam adonan kue bugis, dan tentunya mencicipi wedang jahe dan kue bugis yang sudah jadi!

Kegiatan terakhir sebelum acara bebas adalah melukis caping. Reza yang sudah pengalaman dengan kegiatan seperti ini langsung tanpa ragu membuat gambar di capingnya. Kalau Lukman? cukup puas hanya dengan menuliskan namanya. Setelah selesai, capingnya langsung mereka pakai, lucu sekali seperti pak tani kecil….

Setelah selesai seluruh kelompok berkumpul kembali, ada pembagian hadiah lagi, dan akhirnya foto bersama sebelum berangkat kembali ke Jakarta. Didalam bus masih ada quiz dan games lagi untuk anak-anak. Ketika sudah selesai tapi hadiahnya masih ada, anak-anak kembali berebut untuk mendapatkan hadiah tersebut. Termasuk Reza, yang walaupun sudah dapat beberapa hadiah, masih kepingin mendapat bingkisan yang cukup besar. Spontan ia menyanyikan lagu ‘Chaiya-chaiya’ ala Briptu Norman, dan penumpang di bus jadi bersorak-sorak menyemangati. Melihat sambutan seperti itu, oleh panitia Reza diminta nyanyi didepan, ditemani kawan barunya sambil ditepuki penumpang lainnya. Akhirnya dapat juga hadiah yang diinginkan Reza! hehehe…

Bergaya 'Chaiya-chaiya'🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s