Problematika Orangtua Dengan Anak Autis

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya bukan pakar, bukan terapis, hanya seorang ibu yang cinta pada anak-anaknya, yang kebetulan salah satunya autistik. Disini saya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan yang hanya sedikit saya miliki, semoga bisa berguna bagi orangtua lain agar mereka memahami bahwa mereka tidak sendirian dijalan ini dan bisa lebih bersemangat lagi mengasuh dan mendidik anak tercinta. Cerita tentang Lukman, anak kedua saya yang autistik, ada dihalaman khusus (Lukman’s Story).


Bulan Maret sekarang, sudah menjelang tanggal 2 April, Hari Peduli Autisme, dimana pada hari itu perhatian tercurahkan pada individu dan keluarga dengan anak yang autistik. Dan biasanya selama sebulan penuh di bulan April itu seperti sebuah pesta besar meriah dengan banyak workshop, seminar, atau pentas seni khusus untuk menyatakan kepedulian berbagai organisasi pada individu autistik, juga pencanangan langkah-langkah spektakuler yang diambil pemerintah untuk pendidikan anak berkebutuhan khusus, termasuk anak autistik. Unik juga kalau melihat ada beberapa organisasi yang kelihatannya baru ‘hidup’ dan aktif hanya dibulan April ini saja.

Dibalik kehebohan setahun sekali itu, saya cukup prihatin dengan sulitnya mencari informasi bagi keluarga yang anaknya baru diberi diagnosa autistik. Okelah kita cukup gembira dengan perhatian/kepedulian yang diberikan selama sebulan April itu. Tapi anak autistik butuh kepedulian, perhatian, pendidikan, dan pelatihan sepanjang umurnya. Bukan hanya satu bulan dalam setahun.

Saya kerap kali mendapat kenalan baru (dari pembaca blog ini) para ibu dari anak yang baru dinyatakan autistik. Umumnya mereka dalam kondisi yang sedih, shock, dan kebingungan ketika ‘dijatuhkan’ diagnosa tersebut. Tidak tahu harus melakukan apa, dan tidak tahu harus bertanya pada siapa. Mau membaca sendiri informasi di internet? bisa membuat lebih bingung lagi, karena begitu banyak informasi. Bagi yang punya saudara/kenalan yang mau berbagi informasi dan menunjukkan jalan yang benar, beruntunglah mereka. Tapi tidak sedikit orangtua yang justru terjerat dengan jaringan yang tidak sehat, tempat pelatihan yang komersil, sehingga banyak yang sudah mengeluarkan biaya banyak, menghabiskan waktu, tapi terapi dan pendidikan yang diterima tidak cocok untuk anaknya sehingga minim sekali perkembangannya dan orangtua tidak mengerti betul apa yang dikerjakan ditempat pelatihan seperti ini. Karena itu tidak bisa juga disalahkan orangtua jika mereka shopping untuk terapi. Tidak melihat perkembangan diklinik ini, lalu pindahkan ke klinik lain. Atau mendengar ada terapi alternative yang konon katanya bisa cespleng menyembuhkan autism, mereka coba walaupun biayanya mahal dan tempatnya diujung langit!.

Satu hal lagi, kadang orangtua tidak mengerti bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan sang buah hari akan sangat mempengaruhi perkembangan anak. Bayangkan saja, dalam tempat pelatihan/terapi, anak kita hanya dilatih maksimal satu jam. Katakanlah maksimal si anak berlatih/terapi 3 kali seminggu. Jika orangtua tidak mengerti apa yang dikerjakan didalam ruang pelatihan/terapi tersebut, menyerahkan anaknya begitu saja dan berpikir akan ada hasilnya nanti dari pelatihan tersebut, berarti mereka mengharapkan keajaiban! Bayangkan, hanya 3 jam dalam seminggu anak tersebut dilatih, lalu bagaimana dengan waktu diluar itu? Tanpa stimulasi yang cukup, bisa jadi 3 jam pelatihan itu akan sia-sia, karena begitu sampai dirumah si anak dibiarkan saja bertingkah polah seperti biasanya. Tidak diarahkan agar lebih perhatian, lebih bisa berkomunikasi dan lebih mandiri. Jadi jangan heran jika ada anak yang sudah dilatih/diterapi berbulan-bulan, tapi tidak ada perkembangannya. Orangtua seharusnya bertanya, apa yang salah disini?

Memang mencari tempat pelatihan/terapi tidak mudah. Sekarang ini klinik terapi sudah begitu menjamur, begitu banyak yang menawarkan dan kita sebagai orangtua harus memilih. Bagaimana memilih yang terbaik untuk anak kita? Berdasarkan pengalaman, saya selalu memilih tempat terapi yang ada pakarnya praktek disitu. Pakar bisa berarti psikolog, dokter anak maupun dokter spesialis syaraf anak. Dengan adanya pakar ini, terapi yang dilakukan sesuai dengan diagnosa/hasil observasi/hasil assesmen: apa yang menjadi masalah anak, metode/terapi apa yang digunakan, dan ada review berkala yang mengukur perkembangan si anak. Kemudian saat terapi kita juga sedikit banyak harus mengerti apa yang dilakukan terapis pada anak kita. Terapis yang baik akan mau menjelaskan, dan mau memberi masukan dan saran apa yang harus kita lakukan dirumah, semacam pe-er untuk orangtua.

Awalnya mendengarkan terapis bicara buat saya seperti mendengar bahasa planet: sulit dimengerti karena begitu banyak istilah-istilah yang saya tidak mengerti. Ketika itu saya tidak peduli dibilang bawel atau apalah, tapi saya terus bertanya kalau ada hal-hal yang tidak dimengerti. Saya juga rajin mencatat dan banyak membaca buku-buku yang mudah dibaca saja dulu. Dengan begitu makin lama saya makin bisa berkomunikasi lebih baik dengan para terapis. Kalau ada cara terapis yang kelihatannya kurang cocok dengan anak, saya pasti bertanya: kenapa harus dilakukan begitu, apa tujuan dan alasannya. Syukurlah terapis yang saya temui selama ini sebagian besar mau menjelaskan kepada saya. Jika tidak begitu, bagaimana kita akan mengerti gunanya terapi yang berjam-jam diikuti anak kita?

Ada orangtua yang bertanya pada saya  begini: kalau anaknya ditempat terapi mau duduk tenang dan mengikuti instruksi terapi, tapi kalau dirumah jangankan bisa mengikuti, diminta duduk tenang saja dia menangis dan meronta-ronta. Persepsi bahwa berlatih/belajar itu harus duduk tenang rupanya sudah menjadi pola umum. Padahal begitu banyak yang orangtua bisa lakukan/ajarkan sambil mengajak main sang anak. Saya beri contoh pada ibu itu seperti ini: jika ditempat terapi sang anak sudah mulai pengenalan anggota tubuh: mata, hidung, mulut, telinga, tangan dll, kalau ditempat terapi umumnya menggunakan gambar. Tapi kita dirumah bisa melakukan sambil mandi, misalnya sambil menggosok anggota tubuhnya dengan sabun kita bilang “Ini tangan adek, ini kaki adek, dan ini punggungmu”. Sianak pasti akan perhatikan (walaupun terkesan cuek) karena selain mendengar, ia merasakan mana anggota tubuhnya yang disentuh/digosok. Cara yang sederhana, dan tidak perlu waktu khusus. Dan umumnya anak akan lebih menyerap ketika mereka dalam keadaan gembira. Karena itu belajar sambil bermain buat saya memang cara yang paling tepat untuk mengajar anak-anak.

Memang tidak mudah menjadi orangtua anak autistik, kita sendiri harus memiliki kesehatan fisik dan psikis untuk dapat mengasuh anak dengan baik. Yang umum terjadi ketika orangtua mendengar diagnosa autistik mereka akan tidak percaya dan menolak anaknya disebut autis. Selain itu ada rasa marah, rasanya tidak adil kenapa mereka yang harus mengalami kejadian ini. Orangtua juga kerap menghibur diri dengan menganggap kondisi autistik itu akan hilang dengan sendirinya. Sering juga orangtua menjadi depresi, merasa bersalah karena menganggap dirinya penyebab anaknya menjadi autistik. Tak jarang mereka putus asa memikirkan masa depan sang anak, meragukan kemampuan anaknya menjadi mandiri dimasa yang akan datang. Namun jika mereka sudah bisa pasrah dan menerima kenyataan, baru mereka bisa bergerak untuk mengusahakan agar anaknya bisa berkembang lebih baik.

Yang diatas itu dari problema orangtua dari sisi psikologis/kejiwaannya. Dari segi fisik, tantangan menjadi orangtua anak autistik juga tidak kalah hebatnya. Berbagai penyakit yang umumnya menyertai anak autistik seperti: epilepsi, alergi makanan, gangguan sistem pencernaan, problem tidur, juga sangat menguras tenaga. Saat Lukman, anakku masih berumur 1,5-2,5 tahun ia seringkali bangun jam 2 malam, dan main sampai pagi, setelah itu seringkali dia kuat melek sampai siang. Nah akibatnya dia tidur siang cukup lama, dan sulit untuk tidur pada jam ‘normal’. Selain penyakit-penyakit tsb, anak autistik pada umumnya juga memiliki sensory integration disorder. Hal-hal yang ‘biasa’ untuk orang pada umumnya bisa menjadi hal yang menyakitkan, membingungkan bagi anak autistic. Contohnya: bunyi tetesan air keran bagi kita tidak akan mengganggu, namun bagi sebagian anak autistik dengan SID ini akan sangat menyakitkan bagi pendengarannya, mereka akan berteriak-teriak sambil menutup telinganya. Kemudian yang terakhir adalah tantrum yang sering dilontarkan anak autistic saat keinginannya tidak dimengerti. Rasa lelah saat orangtua mengasuh anak autistiknya bisa mempengaruhi kejiwaaan orangtua. Karena itu memiliki “Me Time” untuk orangtua yang mengasuh anak autistiknya sangat dianjurkan.

Disisi lain, problem interaksi didalam keluarga juga sering menjadi  permasalahan orangtua dengan anak autistik. Perbedaan pandangan antara suami-istri tentang penanganan anak, kecemburuan kakak/adik anak autistik yang merasa kurang diperhatikan dibanding saudaranya yang autistik, adalah problem yang biasa ditemui dalam keluarga tersebut dan juga perlu ada penanganan khusus agar tidak menjadi masalah besar dikemudian hari.

Akhir kata, memang tidak mudah mengasuh anak autistik. Namun tugas kita sebagai orangtua -bagaimanapun kondisi anak kita- orangtualah yang bertanggung jawab untuk perkembangan dan pendidikannya. Karena itu, apapun permasalahan yang kita alami haruslah dihadapi dengan kepala dingin, berlapang dada, berserah diri kepada Tuhan YME dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasinya.

10 thoughts on “Problematika Orangtua Dengan Anak Autis

  1. Mba Rosa,

    Tulisan ini, setidaknya menjadi O2 (hawa segar) bagi paru-paru saya yg selama ini sesak…:-)

    Satu hal yg dapat saya tangkap dan lgsg sy setujui adalah mendidik seorang penyandang autistik itu tidak perlu terlalu kaku..Belajar sambil Bermain (atau Bermain sambil Belajar ya…) adalah metode yang sangat bijaksana…

    • Alhamdulillah senang sekali kalau tulisan ini bisa bermanfaat utk mba Deski…

      Betul Mba, saya tuliskan cara belajar sambil bermain tsb karena ada beberapa orangtua yang beranggapan anaknya hanya bisa belajar ditempat terapi. Padahal tidak begitu, justru kita punya lebih banyak kesempatan dirumah untuk mengajarkan sesuatu pada anak kita🙂

  2. Terima kasih ibu’ atas tulisannya…..anak saya saat ini umur 2th dan sdh 10 bulan mengikuti terapi. Alhamdulilah sdh bnyak kemajuan….saya terus berusaha untuk memberikan diet yang tepat untuk anak saya. Wasalam.

    • Sama-sama mbak Riyanah, salam kenal ya…
      Ikut senang mendengar anak mbak sudah banyak kemajuan, makin semangat tentunya ya mbak?
      Kalau disekitar lingkungan mbak ada perkumpulan orangtua anak berkebutuhan khusus, ada baiknya ikut serta disana. Dengan bertukar cerita pengalaman – baik tentang diet, terapi dan lain lain – akan bisa memberikan wawasan yang lebih luas lagi untuk kita.
      Salam untuk keluarga dan tetap semangat ya🙂

  3. Salam Ibu, saya boleh tau nggak, ibu berdomisili dimana? Kalau boleh saya pingin ketemuan, diskusi tentang autis secara langsung.. kalau boleh mohon di email yah ibu ^^ Ntar saya sekalian perkenalan diri.. hehehee… Salam~

    • Salam kenal mbak Winda…

      Wah terus terang saya nggak punya banyak waktu luang, maklum ibu rumahtangga yang menghandle semua sendiri, jabatan saya banyak: jadi istri, mama, supir, pengasuh, cleaning service hahahaha… semua saya jalani dengan ikhlas…

      Jadi, kalau tidak keberatan, komunikasi yg termudah bagi saya memang lewat dunia maya: email, twitter, yang semua IDnya saya share di halaman About Us😉

    • Setahu saya, autisme tidak memiliki ciri2 fisik, tidak seperti down syndrome.
      Kalau dari penampilan luar, Lukman tidak berbeda dg anak lain.
      Perilakunya yang berbeda.

  4. Bun.. Saat ini anak saya berusia 14 bulan. Tpi saya merasa anak saya aga sedikit berbeda dari yg lain. Klo saya bilang ke suami. Disuruh positif thinking. Anak saya saat ini belum bisa menunjuk sesuatu jika ada hal yg diinginkan. Dia hanya menarik tangan saya. Jika saya menunjuk ke arah apapun itu. Dia justru melihat tangan saya. Bukan ke arah yg saya tunjuk.
    Anak saya sering hand flapping tpi kl lg senang saja. Atau joget..
    Yg membuat saya tambah galau. Anak saya bicara bahasa planet. Klo mau apa2 harus keturutan klo tidak. Dia akan tiduran di lantai..
    Tpi anak saya klo di panggil nengok kadang tidak jika dia sedang fokus dengan sesuatu. Kontak mata bagus. Bisa menirukan gerakan. Seperti topi saya bandar. Tepuk tangan, bisa salaman, cium saya. Tpi semau dia. Tidak selalu mau..
    Apakah anak saya Autis? Saya ingin periksa anak saya. Tpi kata suami nunggu 18 bulan. Dan ami juga minim biaya. Adakah rekomendasi? Terimakasih
    BTW tenkiu untuk sharingnya

    • Yang dapat mendiagnosa dengan benar adalah ahli2 yang sudah terbiasa mengobservasi anak autis, dan melakukan penilaian berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V). Karena itu tidak semua orang dapat menilai apakah ananda autis atau tidak, untuk kepastiannya memang harus ke ahli yang menangani anak autis, psikolog atau dokter tumbuh kembang. Bukan terapis ya mom, karena terapis hanya pelaksana penanganan, tidak dibekali dengan keahlian mendiagnosa. Siapa saja ahli yang bisa melakukan penilaian DSM V? ada daftarnya di Yayasan MPati sebagai berikut http://www.autismindonesia.org/index.php/info-umum/dokter
      Kalau bermasalah dengan biaya, mom bisa kontak Yayasan MPati, karena mereka bekerjasama dengan Dinas Sosial DKI untuk memberikan pelayanan asesmen untuk warga DKI Jakarta. Berikut ini alamat kontaknya:
      Info:
      http://www.autismindonesia.org
      http://www.mpati.or.id
      Facebook
      https://m.facebook.com/yayasan.mpati
      Kantor : PLAJ (Pusat Layanan Autisme Jakarta)
      Gedung Panti Balita Tunas Bangsa
      Jl. Raya Bina Marga No.79, Cipayung, Jakarta Timur.
      Telp : 021-22853827

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s