Cavalleria Rusticana

Kemarin saya mendengar lagu favorit Papa almarhum ditivi, dan bergegas keluar kamar dan melihat apakah judulnya dituliskan. Tapi rupanya lagu itu menjadi bagian dari Bethoven Virus, sebuah sinetron Korea, jadi tidak ditayangkan judulnya. Saya lalu berusaha mengingat-ingat judul lagunya, tapi tidak berhasil. Ketika mau tidur, mendadak saja teringat: “Cavaleria Rusticana”. Lalu langsung saya catat, dan berniat pagi ini mencari lagu tsb diyoutube. Ketemu! Ini dia videonya.

Sejak kemarin saya jadi mengingat kembali saat-saat suka pergi berdua saja dengan almarhum Papa menonton konser-konser musik klasik. Dirumah kami memang hampir semua suka musik, tapi dengan genre yang berbeda-beda. Jaman dulu masih sekolah kakak laki-laki saya paling suka lagu-lagu disko (hihihi) dan kemudian technomusic. Kalau kakak yang perempuan, sukanya lagu-lagu pop, pokoknya top 40 lah. Kalau saya suka banyak genre, bisa dibilang hampir semua jenis musik saya punya lagu yg saya suka. Kalau Mama, hmm lagu yang umum disukai ibu-ibulah: Latin, Country, Broery Pesolima, Bimbo, Engelbert Humperdink, Tom Jones, Frank Sinatra. Kalau Papa almarhum paling suka musik klasik. Karena saya diminta belajar mainkan piano sejak kelas 3 SD, otomatis saya juga berkenalan dengan lagu-lagu klasik yang wajib dipelajari. Dan dari situ saya juga jatuh cinta dengan jenis musik yang satu ini dan jadi teman Papa ketika menikmati alunan musik klasik. Kadang Papa juga ‘memesan’ lagu yang saya harus pelajari, seperti Liebestraum-Franz Liszt, Für Elise-Beethoven, Blue Danube Waltz-J. Strauss. Kadang mau menangis juga karena awalnya saya merasa lagu-lagu tersebut sulit dimainkan, namun lama-lama jadi ikut menikmati.

Dulu Papa belajar secara autodidak, dan ketika jaman penjajahan Jepang bersama kakak dan temannya menjadi trio yang selalu bermain musik saat Taiso (senam pagi). Papa pegang cello, kakaknya dan temannya pegang biola. Sayangnya ketika sudah mulai kerja dan berumah tangga hobi bermain musik ini ditinggalkan Papa, dan beliau cuma suka mendengarkan saja. Masih teringat ketika TVRI (saat itu masih jarang menayangkan acara musik bagus) menayangkan miniseri biografi Johan Strauss. Wah kalau sudah jam tayangnya saya dan Papa pasti sudah ada didepan tivi. Selesai miniseri itu ditayangkan saya cari kasetnya ditoko kaset untuk didengarkan bersama Papa. Kalau ada rombongan orchestra dari luar negeri yang datang pasti Papa tidak ketinggalan menontonnya, dan saya yang paling sering menemani.

Kalau tidak terlalu suka dengan musik klasik, nonton pagelaran musik jenis ini memang bisa membuat merana hehehe. Bayangkan, sepanjang pertunjukan kita tidak boleh mengeluarkan suara, mau batuk, mau kentut, kalau bisa ditahan. Begitu juga kalau mau ke toilet, harus menunggu saat intermission tiba. Datang terlambat? Jangan harap bisa masuk begitu saja, tapi harus menunggu saat intermission (kalau tidak mau dipelototi pengunjung lain). Memberi applaus pun ada aturannya, karena tidak setiap saat orchestra berhenti kita bisa tepuk tangan, tapi hanya pada akhir movement saja kita sepatutnya tepuk tangan. Yang paling saya sukai adalah ketika bagian Encore diakhir pertunjukan. Biasanya bila penonton antusias dengan pertunjukan yang berlangsung sang konduktor akan memberi pertunjukan tambahan yang disebut Encore ini. Umumnya komposisi musik yang dimainkan dibagian Encore adalah yang seru, paling heboh dan paling digemari penonton.

Begitu cintanya saya pada musik klasik ini, pernah ada suatu kejadian, ketika saya masih kuliah dan akan ujian semester, siangnya saya sempat belanja dulu dan tidak sengaja melihat ada kaset soundtrack film Amadeus yang sudah lama saya cari-cari. Lalu akhirnya karena begitu menikmati komposisi Wolfgang Amadeus Mozart tsb, saya akhirnya tidak belajar dan semalaman suntuk hanya mendengarkan bagian Confutatis Maledictis dari Requiem berulang-ulang. Anehnya, walau hanya sempat membaca sedikit bagian mata kuliah yang diuji, saya bisa mengerjakan dengan baik!😀

Semua ingatan itu membuat saya tersenyum. Kenangan masa lalu yang manis membuat saya bersyukur punya hobi yang sama, sehingga punya waktu spesial berdua Papa almarhum tersayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s