Lukman Mau Jadi Anak SD

Semester ini adalah semester kedua Lukman di kelas TK B. Sejak awal semester kami sudah daftarkan Lukman untuk masuk SD disekolah yang sama, Sekolah Tetum Bunaya. Kami sudah tidak mencari-cari alternatif sekolah lain lagi, karena sudah sangat sreg dengan sistim pendidikan sekolah ini, melihat perkembangan dan penanganan Lukman yang sangat baik disekolah ini, juga adanya komunikasi dan kerjasama yang bagus, kami putuskan tidak perlu lagi mencari-cari sekolah lain.

Bulan ini kami diberitahu ibu kepala sekolahnya bahwa akan ada observasi dari psikolog, untuk observasi kematangan perkembangan Lukman sehubungan dengan tingkatan SD yang akan dimasukinya. Observasi dilakukan oleh ibu Alzena Masykouri, MPsi, yang sudah kami kenal baik, sejak Lukman baru masuk di playgroup sekolah ini. Psikolog ini juga yang dulu mendiagnosa Lukman autis ringan diumur 3 tahun, dan terus mereview perkembangan Lukman dari waktu ke waktu karena beliau terus menjadi konsultan psikolog disekolah.

Observasi psikologis ini dilakukan dalam waktu seminggu, Ibu Alzena setiap hari melihat Lukman dalam aktifitasnya disekolah. Walaupun cukup deg-degan, karena saat diobservasi Lukman dalam kondisi kurang sehat dan karenanya kurang tune-in, kami sangat menantikan hasilnya karena tahu akan dapat banyak masukan untuk menangani perkembangan Lukman seterusnya. Kemarin saya diundang kesekolah untuk membicarakan hasil observasi psikologis tersebut. Seperti biasa kalau sudah membicarakan Lukman yang hadir dalam pertemuan tersebut lengkap: ibu kepala sekolah, guru kelas, terapis okupasi, dan Ibu Alzena sendiri.

Ibu Alzena memulai laporan dengan membicarakan kemampuan interaksi Lukman yang sudah cukup baik. Dalam aktifitas sosial Lukman sudah cukup spontan menyapa, memberikan salam. Kalimat yang dihasilkannya sudah cukup panjang dengan pelafalan yang jelas. Bisa disimpulkan, secara teknis kemampuan bicara Lukman sudah mengejar keterlambatan bicaranya. Namun secara komprehensif masih harus dilatih terus untuk beberapa pengertian dalam komunikasi, seperti konsep sebab-akibat, pemakaian kata tanya kenapa dan jawabannya. Sementara untuk perkembangan emosinya menurut kepala sekolahnya Lukman sudah cukup bisa mengendalikan emosi, kalau marah hanya menggeram/menangis, sudah jarang mencakar atau memukul. Untuk selanjutnya Lukman perlu lebih mengenali emosinya tersebut: apakah dia merasa sedih, marah atau gembira, dan mengenali penyebabnya.

Untuk tahapan perkembangan selanjutnya, yang masih perlu ditingkatkan adalah atensi Lukman yang berkaitan dengan impulsifitasnya. Artinya, Lukman cenderung merespon untuk hal-hal yang menarik baginya, belum ada kemampuan untuk menahan diri jika yang dilakukan tidak menarik untuknya. Kalau tertarik, Lukman bisa tahan lama memperhatikan, bahkan berulang-ulang melakukan kegiatan tersebut. Namun menemukan momen dimana Lukman sedang tertarik/mau untuk belajar itu sangat sulit diprediksikan: kapan munculnya dan berapa lama bertahannya, belum terlihat polanya.

Sekolah Tetum Bunaya adalah sekolah dengan sistim self-directed dimana muridnya diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya, memulai kegiatan sendiri dan berkomitmen untuk meneruskan kegiatan sampai selesai. Murid akan terpancing untuk merasa butuh belajar lebih banyak lagi. Kalau menurut saya sistim tersebut sangat bagus, membuat murid mandiri dan belajar dengan senang karena dia yang menentukan. Tapi untuk Lukman akan sulit membuatnya ‘butuh’ belajar, karena dia masih harus dipimpin. Apalagi Lukman kerap ‘menghilang’, baik atensinya maupun fisiknya. Geli juga mendengar sharing  guru kelasnya: bagaimana cepatnya Lukman bisa kabur keluar kelas, walaupun nantinya kembali lagi kedalam kelas. Untuk menjembatani hal ini, Ibu Alzena mengatakan mungkin perlu pendamping khusus agar Lukman bisa menangkap isi pelajaran dengan baik. Pendampingan ini hanya untuk content pelajaran saja, tidak sepanjang waktu perlu didampingi karena Lukman sudah bisa mandiri untuk kegiatan rutin sebelum belajar, saat makan bersama dan juga saat penutupan kegiatan hari itu.

Note: kemandirian Lukman untuk rutinitas ini juga tidak mudah didapatkan. Sejak awal semester ini guru kelasnya Lukman memberikan jadwal kegiatan harian. Dengan demikian setiap pagi saya bisa memberitahu Lukman apa saja yang akan dilakukannya pada hari itu. Ini memang informasi khusus untuk Lukman, karena murid yang lain hanya diberikan jadwal bulanan saja. Dengan adanya jadwal harian, Lukman sudah jauh lebih pahami apa yang harus dilakukan, dan sudah mengikuti rutinitas dengan lebih baik. Sebelumnya sangat sulit untuk ‘menarik’ Lukman agar mau ikut rutinitas kegiatan sekolah.

Kembali lagi kemasalah content pelajaran, menurut Ibu Alzena karena kebutuhan Lukman untuk didampingi sebaiknya ada sistim pembelajaran yang individual, misalnya satu topik dipelajari selama seminggu, sehingga penekanannya dipemahaman Lukman. Dan menimbang kecerdasan Lukman yang baik dan sifatnya yang cepat bosan, sebaiknya topik tersebut diajarkan dengan berbagai alat dan aktifitas yang berbeda.

Dengan berbagai temuan observasi tersebut Ibu Alzena menyerahkan kembali kepada pihak sekolah untuk memutuskan apakah Lukman bisa masuk SD atau tidak. Saya sendiri cukup pasrah, karena pahami kesulitan penanganan Lukman disekolah, dan jika memang diperlukan Lukman mengulang kelas untuk memuluskan jalannya ketingkat SD, kamipun tidak merasa kecewa.

Namun syukur Alhamdulillah, dengan berbagai pertimbangan kepala sekolah Lukman lalu memutuskan Lukman bisa terus ke SD, dengan berbagai pe-er yang harus dikerjakan baik pihak sekolah maupun kami orangtuanya dirumah.

Yeeeey, semester depan Lukman sudah jadi anak SD!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s