Reza dan Alfred Nobel

Seharian ini Mamanya muter-muter seperti gasing. Pagi hari pergi menjenguk Varo, teman Lukman yang sedang sakit dan sempat dirawat dirumah sakit. Siang hari setelah menjemput Lukman, menemaninya makan siang, lalu kesekolah Reza untuk menjemputnya lebih awal, karena akan control ke dokter lagi. Walau jalanan banjir, banyak patahan ranting pohon akibat hujan deras dan angin kencang, saya terus menyetir mobil dengan agak cepat karena kawatir terlambat sampai di RSPI. Syukurlah sampai disana sebelum batas waktu praktek dokter, dan setelah diperiksa, kami menunggu obat yang dibuatkan dulu racikannya diapotik.

Reza juga kenal Varo, karena bundanya Varo mengajar Reza les renang sejak bulan lalu. Varo beberapa kali ikutan ketika bundanya mengajar, jadi Reza berkenalan dan main dengan Varo beberapa kali saat les renang. Karena sifat mereka hampir sama: kritis, banyak tanya, dan…. bawel, kelihatannya mereka cocok berdua. Minggu lalu Varo dan bundanya sempat mampir kerumah, dan main cukup lama bersama.

Ketika saya beritahu Reza bahwa siang tadi saya menjenguk Varo, Reza langsung pura-pura cemberut “Kok nggak ngajak Reza” katanya. Saya bilang “Kan Reza lagi sekolah, lagipula sekarang tugas Reza dari sekolah bertumpuk kan, karena seminggu kemarin tidak masuk”. Lalu iseng saya tanyai “Reza suka ya main sama Varo?” Dia jawab “Iya” saya tanya lagi “Kenapa?” dijawabnya “Reza suka karena Varo mau main sama-sama. Kalau adek kan maunya menang sendiri. Kalau uda Ivan kan sekarang sibuk terus” Uda Ivan, sepupu Reza dirumah sebelah kelas 6 SD sekarang, sedang konsentrasi pada ujian akhir, dan 3x seminggu bimbel lalu hari Sabtunya ekskul futsal. Jadi relatif mereka cuma punya hari Minggu untuk main bareng. “Kalau temen sekolah Reza kan hari Sabtu Minggu nggak ketemu” lanjutnya.

Kasihan juga mendengarnya. Saya bilang “Iya, kalau teman-teman sekolah Reza kan cuma sedikit yang Mama kenal baik ibunya, Cuma Mama Wisnu dan Mama Diva yang Mamanya kenal baik. Itupun kalau weekend mereka sibuk dengan acara masing-masing”. Lalu saya bilang “Reza boleh kok mengundang teman yang ibunya Mama kenal main kesini” Langsung Reza bilang “Seperti Kania ya?” hihihi coba itu, kok Kania yang langsung diomongin? Kania ini teman Reza di  TK Tetum yang sekarang berbeda SDnya. Kania jadi partner Reza ketika membaca puisi didepan Bapak Presiden SBY dua tahun yll. Baik Kania dan kakaknya, Audi, kelihatan memang cocok sekali main dengan Reza dan uda Ivan saat itu maupun sesudahnya ketika beberapa kali mereka main kerumah. Saya bilang “Iya, boleh kok main kesana atau ajak Kania dan Aldi main kesini kalau sama-sama nggak lagi ulangan. Nanti Mama bisa teleponin Mama Kania sebelumnya”.

Sementara masih menunggu,Reza membaca buku yang dibawanya: komik tentang biografi Alfred Bernhard Nobel. Mendadak dia bilang “Nanti kalau Reza jadi peneliti seperti Alfred Nobel ini, Lukman nggak boleh masuk lab penelitiannya Reza”. Saya tanya “Kenapa, takut diberantakin ya?” Jawaban Reza membuat saya terharu “Bukan, tapi adiknya Alfred meninggal karena dia juga bikin percobaan dengan bubuk mesiu yang lagi diteliti Alfred. Waktu itu dia masuk kedalam lab saat Alfred tidak ada, memang sih diijinkan masuk sendiri karena diberi kunci labnya. Akhirnya karena bubuk mesiu di lab itu meledak, adiknya jadi meninggal”. Ooo rupanya Reza khawatirkan keselamatan adiknya, bukannya karena takut penelitiannya diberantakin adek Lukman.

Ternyata, walaupun sering kesal karena adek Lukman suka menang sendiri, tapi Reza tetap sangat care pada sang adik😀

2 thoughts on “Reza dan Alfred Nobel

  1. Ada baris yang menarik, “Reza suka karena Varo mau main sama-sama” yang terkait dengan perkembangan hubungan personal Lukman.

    Ada kebutuhan Reza yang tidak dapat dipenuhi Lukman (saat ini, entah nanti) tentang hubungan yang intens, tapi tokh dia berusaha mengatasinya (mencarinya pada teman), dan tetap sayang pada Lukman. Asosiasinya tentang hubungan persaudaraan Nobel, menarik ya.

    • Betul yang kak Endah tuliskan, seperti anak-anak seumurnya Reza butuh teman bermain yg bisa diajak ‘main sama-sama’. Hal ini kami sadari melihat senangnya Reza saat bermain dengan sepupu2nya maupun dg teman2nya. Kami bersyukur Reza punya kesabaran & sayang pada Lukman. Selain memberi pengertian pada Reza tentang keunikan adiknya, kami harus tetap mengingat adanya kebutuhan emosi tersebut🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s