Lukman Dan Tanaman

Masih berkaitan dengan kejadian kemarin, saat Lukman bête seharian (baca: Isi Hati Lukman) ketika pulang sekolah ia cerita sendiri pada Reza kalau disekolah dia mencakar gurunya. Walau guru-gurunya sudah sangat memaklumi kelakuan Lukman yang kadang masih suka seperti itu, saya tetap kirim message pada Ibu Endah, kepseknya, minta maaf atas kelakuan Lukman. Dari Ibu Endah saya dapat cerita lengkap kejadian disekolah.

Beliau katakan tadinya heran juga mendengar tangisan Lukman dikelas, karena sejak awal semester ini moodnya baik, dan ikut hampir semua kegiatan dikelas. Tapi kemarin itu sepanjang circle time (rutin tiap pagi hari) dia sudah memperlihatkan betenya, menanduk2 guru kelas dari belakang. Lalu dia juga melubangi daun Anthurium dan mematahkan batangnya.

Memang beberapa waktu belakangan Lukman suka iseng dengan tanaman, terutama dengan tanaman tertentu, seperti Lidi Air diteras sekolah dan Anthurium itu. Tanaman Lidi Air memang baru diletakkan diteras, dan Lukman sepertinya sangat tertarik dan antusias sekali dengan tanaman itu. Hari pertama dia sudah langsung tarik daunnya, dan karena akarnya belum kuat tanaman itu sampai miring. Esoknya, ada daun tanaman tsb yang patah. Sepertinya Lukman memang tertarik sekali dengan tanaman, namun dengan cara yang ‘gemes’ begitu.

Membaca cerita Ibu Endah, saya jadi terpikir apakah mungkin Lukman berpikir kalau tanaman itu bukan mahluk hidup ya? Siapa tahu konsep tanaman=mahluk hidup ini belum dipahaminya. Karena itu saya tanyai Lukman yang sedang dikamar. “Lukman, tadi disekolah patahin daun ya?” Reaksi Lukman mendengar itu: langsung menyembunyikan kepala diantara bantal-bantal. Tapi saya tetap bicara, karena saya tahu dia tetap mendengarkan “Kasihan dong tanamannya. Kan kalau daunnya dipatahin dia merasa sakit lho. Dan Lukman tahu nggak, daun itu kan tempat tanaman memasak makanannya. Jadi kalau dipatahin, nanti kurang deh makannya. Bisa lapar dia karena nggak kenyang makannya”. Lukman lari keluar kamar, tetap ngumpetin mukanya dibawah bantalan kursi. Saya tetap ikuti, tetap bicara mengulang apa yang saya katakan didalam kamar. Lalu saya lihat wajahnya, dan bilang “Besok sayang tanaman ya?” Lukman mengangguk2, mukanya seperti malu. Melihat dia sepertinya cukup paham, saya masuk kamar dan cukup lama baru keluar lagi karena saya pikir Lukman diluar nonton tivi.

Eee saya lihat dia lagi sedih, dan langsung memeluk saya, bilang “Lukmannya sedih” dan menangis. Waktu ditanya kenapa menangis dia bilang “Mamanya salah”. Saya tanya “Mama salah apa? Maaf ya, tapi kasih tahu dong salah Mama apa”. Lukman tidak bisa menjawab. Malah mencubit saya, cuma pelan sih, tidak terasa sakit. Lalu saya pangku dan elus saja Lukman, sampai berhenti tangisnya. Tapi dia terus minta dipeluk dipangku seperti itu cukup lama walaupun sudah berhenti menangis. Saya bingung juga ya, apa Lukman menangis karena ketahuan kelakuannya disekolah? Saya berharap memang begitu, karena  menurut Ibu Endah, berarti itu satu kemajuan lagi untuk emosinya Lukman.

Esok harinya Alhamdulillah Lukman sudah ceria kembali, dan disekolah juga tidak isengin tanaman😀

Update 8 April 2011

Hari ini ibu kepala sekolahnya Lukman menceritakan kepada saya kejadian sbb disekolah. Lukman datang ke guru kelasnya dan bilang “Mataharinya tidak masuk kedalam, kak Ami. Tanamannya kasihan” Rupanya didalam kelasnya ada tanaman dalam pot yang terlihat layu. Oleh gurunya Lukman diijinkan untuk menaruh tanaman tersebut diteras depan sekolah, agar mendapat sinar matahari langsung. Seneng sekali mendengar cerita itu, rupanya Lukman sekarang sudah betul-betul menyayangi tanaman!

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s