Isi Hati Lukman

Sudah semakin banyak kemajuan Lukman untuk menyatakan pikiran/perasaannya dalam bentuk verbal. Dan ini cukup berpengaruh pada emosinya. Sejak awal tahun ini Lukman cukup berkurang kebiasaan mencakar dan memukul kalau sedang marah. Bahkan jika diminta baik-baik, dia mau lho, bergantian main walaupun jadi sedih. Contohnya ketika dia sedang main computer, saya minta pinjam sebentar karena ada email yang perlu dikirim. Lukman ijinkan saya pakai computer, tapi kemudian menangis. Sampai saya bujukin dulu, dan saya minta duduk disebelah saya supaya lihat apa yang saya kerjakan. Akhirnya dia duduk menunggu, dan begitu saya selesai, dia langsung senyum dan lanjut main lagi. Kalau ini dilakukan tahun lalu, dia pasti nggak akan mau diputus mainnya dan diselak seperti itu. Jadi sekarang sudah ada kemajuan, walaupun pakai acara menangis🙂

Pagi ini, Lukman bersiap-siap sekolah sedangkan kakak Reza yang sedang sakit batuk dan tidak sekolah asik menonton tivi. Karena yang ditayangkan film kesukaannya, ketika saya minta pakai sepatu sendiri Lukman masih bengong saja nonton. Lalu kakak Reza matikan tivinya, supaya Lukman lanjut pakai sepatu dan berangkat kesekolah. Namun seperti biasanya kalau diputus keasikannya Lukman jadi bête. Akhirnya dia selesaikan sih pakai sepatunya, tapi ketika masuk kedalam mobil mukanya ditekuk berlipat, dan didalam mobil jadi menangis. Saya yang nggak tahu kejadian didalam rumah karena sedang memanaskan mobil jadi bingung, kenapa tiba2 Lukman menangis. Saya bujukin, dan tanya “Kenapa sayang? Kok menangis?” Cuma dua kata diucapkannya “Kakak marah huuuu….” sambil berurai air mata. Akhirnya ketika sampai disekolahpun Lukman masih dalam kondisi bad mood. Walaupun mau salam & ucapkan selamat pagi, mukanya tetap cemberut. Sempat saya beritahu guru kelasnya, kalau ada kejadian dirumah yang bikin Lukman seperti itu.

Sepulang mengantarkan Lukman, saya bicara dengan kakak Reza, menanyakan ada kejadian apa tadi sebelum adiknya naik mobil. Reza menjelaskan kalau dia matikan tivi karena Lukman masih belum pakai sepatunya malahan nonton tivi terus. Saya kasihtahu Reza, kalau mau adiknya lakukan sesuatu jangan diputus keasikannya ketika melakukan hal lain, tapi di’tarik’ perhatiannya sampai Lukman sendiri yang mengalihkan perhatian dan mau mengerjakan hal yang kita minta. Kalau diputus keasikannya seperti mematikan tivi tadi itu, bisa bête Lukmannya, dan kalau bête dipagi hari, biasanya ber efek pada kegiatannya sekolah.

Setelah bicara itu, kamipun siap-siap pergi ke klinik, tempat Reza di  inhalasi untuk mengurangi batuknya, dan sepulang dari sana jemput adiknya langsung kesekolah. Ketika masuk kedalam mobil, Lukman tanpa ditanya langsung bicara pada Reza “Kakak tadi pagi marah, Lukman menangis dimobil, kakak Ita tutup, Lukman cakar2, kakak Ita sakit” waduuuh, rupanya bête disekolah berkelanjutan, dan karena satu hal, Lukman jadi marah dan mencakar salah satu guru yang mendampinginya, kak Ita. Langsung saya jawab “Lukman, kalau sedang marah bilang saja, diomongin, jangan cakar2 kak Ita, kan sakit….” Lukmannya cuma cemberut aja dibilang seperti itu.

Pulang kerumah, Reza yang rada nggak enak hati karena terbukti omongan Mamanya kalau Lukman bête dipagi hari akan berlanjut disekolah, jadi berusaha menghibur adiknya. Ketika sedang cuci tangan, Reza panggil Lukman, dan kasih lihat gelembung sabun hasil tiupannya. Lukman langsung join, main sabun juga. Akhirnya ketawa dan teriak-teriak deh mereka berdua😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s