Roti Lapis

Cuaca ekstrim: angin kencang, hujan deras mendadak berganti panas terik, mempengaruhi juga kesehatan anak-anak. Awalnya Lukman yang mulai batuk pilek, kemudian Reza menyusul dan terakhir Mamanya juga ikut ketularan. Untuk sementara anak-anak tidak sekolah, dan bikin rame suasana dirumah. Kondisi badan yang nggak enak membuat mereka lebih rewel dan kurang toleransi. Akibatnya perang saudara nggak bisa dihindarkan. Saya harus membujuk, memisahkan dan mengultimatum agar tidak berkepanjangan perang saudara ini. Kalau lagi akurpun mereka harus dijaga untuk tidak terlalu aktif, tapi namanya anak-anak tetap saja main pedang-pedangan, lari-lari berkejaran, dan akibatnya dimalam hari mereka batuk bersahut-sahutan.

Namun keaktifan bermain ini bagus efeknya untuk kemampuan bicaranya Lukman. Contohnya: ketika dia minta jelly untuk cemilan, sengaja saya minta kakaknya yang memberikan (mengambil dari cetakan, menaruh dimangkuk kecil dan menyerahkan pada Lukman). Dasar lagi iseng, Reza berikan jelly itu sambil menakut2i Lukman. Saya nggak lihat, karena mereka main dikamar. Tapi ketika saya masuk kekamar sesudah beberapa menit, Lukman cerita sama saya “Mama, Reza jadi hantu” lalu dia tirukan suara Reza “Lukman, ini jellynya” dengan suara diberat-beratkan, kemudian dia jawab sendiri dengan suara aslinya “Trimakasih Reza” dan kemudian rubah lagi ke suara Reza “Sama-sama” hihihi lucu banget dia ceritakan dengan berurutan, bergaya dan bersuara ‘hantu’ seperti kakaknya itu.

Lukman juga menghasilkan beberapa kalimat baru, yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Waktu saya minta Lukman berhenti main dan mandi, dia bisa menjawab “Sebentar Mama, aku sedang main computer” wah takjub deh, dia nggak pernah ngomong menidakkan dengan alasan yang jelas seperti itu.

Selain itu kata-kata bakunya Lukman tetap menggelitik hati. Contohnya, ketika sarapan pagi Reza makan roti dengan isi telur. Ketika adeknya bangun, biasa deh mereka jadi rebutan remote tivi. Reza saya menangkan, karena memang dia yang bangun pagi duluan, jadi berhak pilih channel lebih dulu. Baru nanti bergantian dg Lukman. Lukman yang sebel karena nggak dibela mamanya, marahin Reza (dengan meniru nada bicara Mamanya kalo lagi tegur Reza) seperti ini: “Reza, jangan nonton tivi, makan ROTI LAPISnya!” huahahaha…. saya dan Reza malahan jadi ketawa, kok Lukman pakai istilah roti lapis ya, betul banget sih pemakaiannya, cuma lucu aja didengarnya!

Sementara sedang sakit ini, Reza agak sulit makannya, apalagi makan sayur, huaduh mesti beradu argumentasi terus. Dengan kemampuan bicaranya yang ok banget, dia terus berusaha untuk membenarkan alasannya tidak makan sayur dengan kata-kata yg ruarbiasa seperti “Reza kan bukan vegetarian, Mama, jadi nggak suka sayur” atau “Kapasitas perut Reza kan kecil, nggak sebesar Mama”. Juga dengan akal-akalan, misalnya karena Reza tambah nasi dijadikannya alasan untuk tidak menghabiskan sayurnya. Tapi tentu saja, Mamanya sudah tahu banget kelihaiannya ini, dan nggak mengalah: Reza harus tetap menghabiskan sayurnya! Hehehe…

2 thoughts on “Roti Lapis

  1. Paling seneng bagian ini:

    “Tapi ketika saya masuk kekamar sesudah beberapa menit, Lukman cerita sama saya “Mama, Reza jadi hantu” lalu dia tirukan suara Reza “Lukman, ini jellynya” dengan suara diberat-beratkan, kemudian dia jawab sendiri dengan suara aslinya “Trimakasih Reza” dan kemudian rubah lagi ke suara Reza “Sama-sama” hihihi lucu banget dia ceritakan dengan berurutan, bergaya dan bersuara ‘hantu’ seperti kakaknya itu.”

    Sama yang ini: “Lukman yang sebel karena nggak dibela mamanya, marahin Reza (dengan meniru nada bicara Mamanya kalo lagi tegur Reza) seperti ini: “Reza, jangan nonton tivi, makan ROTI LAPISnya!””

    Ha ha ….

    Tapi kalau yang ini: “Sebentar Mama, aku sedang main computer” wah takjub deh, dia nggak pernah ngomong menidakkan dengan alasan yang jelas seperti itu.” Yang semacam ini sepertinya sering di sekolah. “Tidak Kak Ami, Lukman mau lihat ikan. Lukman tidak mau bla bla bla”

    • Oooh gitu ya kak Endah, rupanya Lukman disekolah sudah sering kasih alasan ya kalau nggak mau ikut yang diminta kak Ami, saya jadi kebayang senyumnya kak Ami deh…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s