Nonton Musikal Laskar Pelangi

Hari ini sudah kami tunggu-tunggu, sudah sejak seminggu yang lalu ketika tiket Musikal Laskar Pelangi sudah kami pesan dan bayar, Reza dan Lukman tak sabar menunggu hari H-nya. Ketika dua minggu yll saya mendengar iklan MLP ini diradio, disebutkan bahwa produsernya Mira Lesmana, sutradaranya Riri Riza, music directornya Erwin Gutawa dan production designernya Jay Subiyakto, waaah langsung otak ini tuing2, penasaran banget, pasti akan jadi tontonan yang menarik. Sampai dirumah googling deh, dan nemu situsnya MLP, nemu trailer videonya  di Youtube, waaah langsung terpikir: this is a must see!

Langsung saya telpon2an dengan Papanya, yang langsung setuju mau bawa anak-anak nonton MLP. Mulailah saya hunting tiketnya. Telpon ke hotline ticket box, kok nggak nyambung2, kalaupun nyambung pasti sedang bicara. Lalu telpon ke Aquarius Mahakam, dijawab “Sudah closing Bu” mulai rada cemas, telpon lagi Ibu Dibyo, sama juga “Sudah habis lotnya disini” jawaban yang bikin saya mulai agak2 panik. Akhirnya karena nggak tersambung-sambung dg hotline-nya, langsung siang itu saya samperin ticket boxnya. Jarak yang jauh nggak jadi soal, yang penting: harus dapat tiketnya. Sampai-sampai saya sudah rundingan sama Papanya gimana kalau sampai nggak dapet waktu weekend, berarti kita nonton hari kerja, dimalam hari. Papanya oke2 saja, demi nonton pertunjukan yang sepertinya akan bagus banget.

Sampai di ticket box, saya bisa menarik napas lega, tiketnya masih banyak! Saya masih bisa memilih tanggal pertunjukan di weekend. Akhirnya saya pilih tanggal 25 Desember, pas Hari Natal, memperkirakan jalanan pasti sepi, dan perjalanan yang cukup jauh dari rumah bisa lancar.

Reza dan Lukman juga ikut excited, mungkin tertular Mamanya, tapi yang pasti setelah melihat video trailer MLP  di Youtube mereka jadi tunggu2 tanggal mainnya. Ketika saya beli cd lagu-lagu MLP, mendengar lagu “Anak Pelangi” yang ditingkahi bunyi ketipung Lukman langsung bilang “Ayo menari, Mama!” dan meniru gaya tari anak-anak Laskar Pelangi yang dilihatnya di video Youtube. Lukman juga beberapa kali bilang ke saya “Lukman mau Laskar Pelangi” dan harus saya kasih tahu berapa hari lagi kita akan pergi.

Hari ini kita berangkat cukup santai, namun diluar dugaan jalanan macet juga. Melewati jalur kearah Ragunan yang penuh sesak membuat perjalanan tersendat. Begitu pula ketika melewati gereja yang baru selesai misa natal. Tapi ketika sudah dijalan Buncit, lanjut Kuningan dst, perjalanan lancarrr, dan kami bisa sampai sebelum jam 2, waktu dimulainya pertunjukan. Dimobil kami mendengarkan lagu-lagu dari cd MLP yang sudah saya beli beberapa hari sebelumnya. Anak-anak sangat menikmati walaupun berbeda dari music yang mereka biasa dengar. Dari jauh sudah kelihatan gedung baru yang besar dan megah dilokasi TIM, dan kami bergegas masuk. Tidak ada antrian, rupanya penyelenggara sudah membuka pintu cukup awal, dan penonton sudah banyak yang masuk.

Tidak lama menunggu, pertunjukan dimulai. Lampu dipadamkan, dan saya langsung memegang tangan Lukman supaya dia tidak takut. Tapi boro-boro takut, Lukman malah nanya “Mana anak-anaknya Mama?” dia mencari Laskar Pelanginya! Hihihi… Ketika panggung dibuka, dengan hentakan musik yang semangat, Reza dan Lukman langsung terpana, memperhatikan dengan konsentrasi penuh. Bisa dikatakan sepanjang pertunjukan mereka tidak sempat tengok kiri-kanan, karena memang terpesona dengan pertunjukan teater yang baru pertama ini mereka alami. Jangankan mereka, saya saja yang sudah beberapa kali nonton teaterpun sangat terpesona, semuanya bagus: tata panggung, vocal pemerannya, dan terutama musiknya yang membuat perasaan ikut hanyut dalam ceritanya. Juga banyak kejutan-kejutan yang membuat mata penonton terus lekat ke panggung.

Beberapa contoh adegan yang mempesona: ketika anak-anak Laskar Pelangi yang kostumnya sederhana, tak bersepatu dan rambut seadanya sedang bernyanyi (lagu “Anak Pelangi”) lalu disambut bersahutan oleh anak-anak SD PN yang baru keluar dari sisi panggung dengan berkostum seragam bagus, bersepatu, dan rambut tersisir rapi. Saat itu dipanggung mendadak turun gambar sekolah PN yang megah, membuat terpana penonton. Turunnya gambar ini mulus sekali, mendadak ada gedung yang megah dibelakang kelompok anak-anak Laskar Pelangi dengan pagar besi pemisah antara kedua kelompok anak-anak.

Ketika adegan tentang Lintang (lagu “Anak Pesisir) ditengah panggung diturunkan layar putih agak transparan, lalu dengan teknik seperti wayang ada sorot lampu dari belakang panggung sehingga gambar orang-orang bergerak juga Lintang bersepeda tampak berwujud sebagai bayangan besar. Disini juga ada bayangan buaya legenda (yang harus dilewati Lintang ketika bersepeda dari rumah kesekolah). Lukman bisa langsung mengenali “Ada buaya Mama!” padahal ketika itu bentuk buayanya belum terlihat jelas.

Adegan mengagumkan lainnya adalah ketika Laskar Pelangi harus belajar diluar kelas (karena kelas mereka kebanjiran dan ada kambing-kambing yang dititipkan disana) ketika itu turun hujan, dan diwujudkan dengan adanya tirai air didepan panggung, sungguh kejutan yang mempesona.

Begitu juga pada adegan cerdas cermat. Ketika jawaban terakhir Lintang yang menjadi penentu kemenangan Laskar Pelangi disalahkan panitia, Lintang dengan berani menjelaskan jawabannya. Lintang maju ke depan panggung (yang sudah ada layar transparannya) dan waktu Lintang menggerakkan tangannya seolah-olah menulis dipapan tulis, dilayar diproyeksikan tulisan tangan penjelasan jawaban soal cerdas cermat tsb. Kesannya seperti ada tulisan hologram dipanggung, penonton jadi bertepuk tangan kagum.

Sepanjang pertunjukan, Reza ikut menepuk-nepuk pahanya sesuai irama lagu, dan dia berinisiatif menjelaskan ceritanya kepada Bum-bum (yang belum pernah nonton film Laskar Pelangi) sampai-sampai penonton disebelah Bum-bum bilang “Pinter banget sih, kok tau banget ceritanya” dan Reza dengan bangga menjawab “Eza sudah nonton filmnya dan punya cd filmnya juga”.  Lukman ikut tepuk tangan disetiap akhir adegan, ikut bernyanyi ketika lagu “Sahabat Alam” yang sudah agak dihafalnya, dan juga ikut berseru: “Wooow!” ketika ada scene yang mengagumkan. Ketika adegan Lintang harus pergi meninggalkan teman-temannya, Lukman ikut melambai kasih dadah pada Lintang, lucunya… Walaupun dua jam lamanya pertunjukan, mereka tidak kelihatan sempat bosan. Ketika ada jeda istirahat, saya tanya Reza “Suka nggak pertunjukannya?” Reza jawab dengan mantap “Suka, suka banget! Seru…” Dan diakhir pertunjukan, Lukman dengan spontan bilang “Ini menyenangkan, Mama!”

Sampai sekarang, mereka senang sekali mendengarkan lagu-lagu dari cd MLP. Bahkan lagu “Sekolah Miring” yang kental sekali nuansa melayu-nya disukai Reza. Dia minta dikeraskan volume speaker dan ikut bernyanyi ketika mendengarkan lagu ini dimobil. Sesudahnya Reza ngos-ngos-an sambil bilang “Baru nyanyi satu lagu aja sudah cape ya…” Hehehe….

Senang sekali, dengan menonton MLP mereka berkenalan dengan budaya melayu Belitong (logatnya, lagu-lagunya) dan berkenalan dengan genre music yang berbeda: ada blues, ada pop dengan nuansa melayu, memperkaya pengetahuan mereka untuk seni musik.

Salut untuk para produser dan personil pendukung MLP yang memberikan pengalaman menonton pertunjukan musikal yang mendidik sekaligus menghibur diwaktu liburan sekolah, sebuah kejadian yang langka dinegeri ini…

Note: foto-foto diambil dari Facebook Musikal Laskar Pelangi dan tourismindonesiaonline.com

9 thoughts on “Nonton Musikal Laskar Pelangi

  1. Saya nunggu-nunggu, mana nih cerita tentang nonton MLP. Eh, ternyata ada di sini. Baca cerita ini serasa ikut nonton. Ngebayang pasti bagusss. Dan pastinya nambah wawasan Reza & Lukman.

  2. Salam kenal Mbak, boleh tanya..Ticket boxnya dimana sih? No telvnya berapa? Jangan2 udah abis ya kalo pesannya baru sekarang😦. Ditunggu jawabannya..🙂

    • Salam kenal juga mbak Febrie…
      Info tiket boxnya bisa dilihat di website MLP, klik saja tulisan “situsnya MLP” yang cetak tebal diparagraf pertama post ini, langsung dapet deh infonya disana… Good luck ya😀

    • Tetap kelihatan kok mba😀 walaupun posisinya agak menukik. Saya dan anak2 juga nonton dikelas 3, tapi kemudian nonton lagi dikelas 2. Bedanya layar background panggungnya nampak lebih utuh dikelas 2, kalau dikelas 3 sebagian atas layarnya tidak terlihat karena posisi yang lebih keatas. Tapi dimanapun posisi kita pasti asik kok nontonnya, have fun!

  3. Tulisannya bagus banget mbak, mbak nangis enggak waktu adegan Lintang (Hilmi Fathurrahman) menanti ayahnya dan ternyata meninggal dan harus pamitan kepada Bu Muslimah dan teman-teman Laskar Pelangi ?

    • Trimakasih…. karena MLPnya bagus, tulisannya ikut bagus jadinya🙂
      Ya, baik difilm LP maupun di MLP bagian adegan Lintang harus berhenti sekolah memang yang paling mengharukan ya…
      Ketika saya nonton MLP kedua kalinya, penonton disebelah saya ter-isak2 disaat Lintang menyanyikan lagu perpisahan tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s