Museum Aya Sophia, Turki

Terbukti ya, belajar itu lebih menarik dan lebih dapat diingat jika bentuknya bukan hanya berupa duduk membaca buku dikelas saja. Bahkan bahan pelajaran sejarah untuk SMP pun bisa menarik bagi anak kelas 3 SD melalui media film sejarah seperti yang dialami Reza.

Hari Raya Idul Adha. Setelah shalat Ied dan makan bersama dirumah Ayang, siangnya kami pergi kerumah Momma. Diperjalanan saya dengar Reza bertanya pada uda Ivan “Da Van, tahu nggak ada mesjid yang dulunya gereja?” Ivan jawab “Nggak tau, emangnya ada?” Reza bilang “Ada di Istanbul. Dulu kan penguasanya Konstantinopel, tapi lalu diserang dan dikuasai Ottoman, jadi agama Islam yang berkuasa disana akhirnya. Trus ada gereja disitu yang dirubah menjadi mesjid. Lambang-lambang agama Kristen lalu ditutupi dengan kaligrafi”. Saya jadi tertarik mendengar cerita Reza dan bertanya “Mesjid apa namanya Reza?” Reza jawab “Mesjid Biru”. Saya jadi kepingin menulis diblog ini percakapan Reza dan Ivan tersebut.

Sebelum menulis, saya cek ricek dulu cerita Reza tersebut. Cari sejarahnya Mesjid Biru di Wikipedia. Tapi dari bahan disana, kok nggak ada ceritanya Mesjid Biru itu dulunya gereja? Saya googling lagi ‘church converted to mosque’ dan ketemu dengan museum Aya Sophia, yang terletak di Istanbul juga. Kebetulan Reza masuk kamar, dan saya panggil “Reza, ini yang tadi Reza omongin ya, bukan Mesjid Biru, tapi Mesjid Aya Sophia”. Reza jawab “Oh iya, bukan Mesjid Biru, tapi tempatnya tetanggaan dengan Mesjid Biru, kan?”

Saya search lagi tentang lokasi. Ternyata betul, Aya Sophia letaknya berdekatan dengan Mesjid Biru. Akhirnya kami berdua membaca bersama-sama tentang Mesjid Aya Sophia yang sekarang menjadi bangunan museum, melihat foto-foto yang menunjukkan beberapa bagian dinding dan langit-langit yang telah dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan Kristen. Selain itu Reza juga tertarik dengan keterangan mesjid lain, yang juga fungsinya berubah dari gereja-mesjid-lalu menjadi gereja lagi, yaitu Katedral Mesjid Cordoba. Selesai membaca keterangan katedral itu saya tanyai lagi Reza “Reza dapet dimana cerita tentang Aya Sophia?” Reza bilang “Nonton di tivi, waktu itu ada film tentang sejarah Islam, malem-malem” jawabnya enteng. Saya masih penasaran “Kapan sih nontonnya?” Reza bilang “Lupa, waktu bulan puasa kali ya, atau waktu Idul Fitri?” wah, sudah lama berlalu, tapi masih diingat dengan jelas ceritanya oleh Reza!

Setelah itu Reza main lagi keluar kamar. Saya masih lanjut membaca tentang Aya Sophia, sejarah Turki Ottoman, dan kemudian menemukan satu situs yang ternyata bahan pelajaran sebuah SMP Negeri di Bekasi tentang Ottoman Empire. Hmmm ternyata yang dipelajari Reza dari nonton di tivi adalah bahan pelajaran untuk SMP. Terbukti ya, belajar itu lebih menarik dan lebih dapat diingat jika bentuknya bukan hanya berupa duduk membaca buku dikelas saja. Bahkan pelajaran SMP pun bisa menarik untuk anak kelas 3 SD melalui media film sejarah seperti yang dialami Reza.

2 thoughts on “Museum Aya Sophia, Turki

  1. Cerita yang menarik. Setuju …. Kebetulan anak2 Merkurius sedang belajar Timur Tengah: dimulai dengan mengenal bendera (mereka menancapkan di peta), menonton film jazirah Arab dan membuat maket, merasakan masakan, mengenali pakaian.

    Faktor sensori sering terlupakan pada waktu pemberian stimulasi terhadap anak.

    • Baru baca commentnya kak Endah (tadinya commentnya masuk ke spam folder, ajaib ya). Seandainya dulu belajar sejarah seperti Sekolah Tetum, hmmm nggak bakal tersiksa kali ya menghapalnya. Bahkan bisa berimajinasi petualangan keliling dunia ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s