I Love My Mom

This note is a tribute to Ayang, my lovely Mom.

Without her, I definitely would not be the person I am today.

Ketika masih dikelas 4 SD, saat ada konflik antara saya dengan guru kelas, Ayang mengatakan “Ibu guru itu manusia biasa seperti kita semua yang bisa khilaf dan membuat kesalahan seperti orang lain. Karena itu kamu jangan berkecil hati. Kamu harus bisa mengambil hikmah kejadian ini, harus bisa belajar jadi pintar tanpa tergantung pada guru kelas”. Mungkin itu bukan nasehat yang lumrah diajarkan orangtua pada anaknya diumur pra remaja, namun begitulah Ayang: selalu memotivasi agar anak-anaknya bisa mandiri, bisa kuat tanpa harus tergantung salah satu pihak….

Menyadari hari ulangtahun Ayang sudah mendekat, saya jadi terinspirasi ingin menulis tentang Ayang, neneknya Reza dan Lukman. Bagi yang sudah sering mampir kesini tentunya sudah sering membaca nama Ayang disebut dalam berbagai kegiatan bersama kami. Karena itu saya ingin berbagi cerita, agar pembaca juga tahu siapa dan bagaimana istimewanya Ayang dihati kami semua. Saat mulai menulis rasanya sulit membatasi hanya sebuah note saja, karena begitu banyak cerita yang saya ingin share. Begitu banyak peristiwa dan kejadian yang kami alami bersama, baik itu yang menyenangkan, menggembirakan, dan juga yang menyedihkan. Berbagai peristiwa tersebut semakin mendekatkan kami, as a mother and a daughter.

Saya pernah dengar pepatah ‘you can’t really appreacite your parents until you’ve walked in their shoes‘. Saya sendiri awalnya tidak setuju, karena saat masih single pun saya merasa sangat menghargai orangtua, Papa dan Mama, menghargai apa yang mereka lakukan untuk anak-anaknya. Namun setelah menikah, menjalani hidup dengan kekasih hati, dan kemudian mendapat anugerah anak-anak tercinta, baru saya mengerti betulnya perkataan tersebut. Menghadapi kecemasan, kekhawatiran dalam mendidik anak-anak, juga menikmati kebahagiaan, keceriaan bersama anak-anak memang membuat saya dapat lebih memahami apa yang dulu Papa dan Mama alami ketika kami anak-anaknya tumbuh dan menjadi dewasa.

Saya beruntung, masih dapat tinggal berdekatan dengan Papa Mama ketika sudah menikah. Beruntung karena masih dapat sharing cerita setiap hari, beruntung punya tempat mengadu ketika sedang gundah, dan punya tempat berbagi kebahagiaan ketika ada cerita lucu maupun membanggakan dari anak-anak. Kedekatan ini pula yang sedikit banyaknya bisa menghibur kesedihan Mama ketika almarhum Papa meninggalkan kami lebih dulu, hampir lima tahun yang lalu.

Untuk yang belum pernah bertemu Mama, beliau itu sangat cantik. Pendapat ini bukan pendapat yang bias karena saya anaknya, tapi ini dari perkataan orang-orang yang bertemu Mama, baik saat mudanya, maupun sekarang disaat usianya sudah lebih 70 tahun Mama memberikan contoh how to grow old gracefully. Beliau punya taste yang sangat baik dalam mencocokkan pakaian dan aksesorinya, piawai dalam memilih warna, sehingga penampilannya selalu menarik dalam berbagai kesempatan.

Bukan hanya dari kecantikan luar, namun isi hati Mama yang justru membuatnya istimewa bagi saya. Seperti kebanyakan wanita Sumatera Barat, lahir sebagai perempuan tidak membuat Mama menjadi lemah, beliau punya kepribadian dan kemampuan intelektual yang kuat, yang tegar dalam kehidupan. Beliau tidak akan ragu mengungkapkan hal-hal yang tidak disetujuinya, sangat outspoken, dan teguh dalam pendiriannya.  Beliau juga dapat dikatakan perfectionist, kalau melakukan segala sesuatu harus dengan cara yang benar, dan beliau selalu ingin kami lakukan yang terbaik. Tidak mudah memang, namun ini yang memicu kami untuk terus berusaha sebaik mungkin.

Walaupun tidak selesai kuliah di Fakultas Hukum karena harus ikut Papa yang mempersunting dan memboyong Mama ke Jakarta, namun Mama selalu dapat mempelajari hal-hal baru, dengan dan tanpa guru. Saya jadi saksi ketika beliau mengikuti organisasi, yang dari cuma anggota biasa, kemudian ikut menjadi ketua kelompok, dan akhirnya dipercayakan menjadi sekertaris dan salah satu ketua organisasi tersebut. Bagaimana beliau mengorganisir anggota, menerapkan rules & regulation, sehingga organisasi tersebut dapat menjadi organisasi besar yang teratur rapih menjadi pelajaran berharga untuk saya.

Bukan urusan kecantikan dan organisasi saja, untuk urusan rumahpun Mama punya keahlian istimewa. Mama itu sangat pandai memasak. Mulai makanan tradisi Minang: asam padeh, gulai kepala ikan, rendang, sampai makanan internasional seperti sukiyaki, spagetti, sudah terkenal dikeluarga besar kami masakan Mama tidak ada tandingannya. Buat kami anak-anaknya, bukan hanya makanan rumit2 saja yang jadi favorit, tapi yang simpel seperti telor mata sapi, maupun ikan sardin kaleng, yang buatan Mama memang istimewa rasanya. Sampai-sampai waktu hamil yang saya ngidam kan bukan makanan yang aneh2, tapi goreng ayam buatan Ayang!

Selain memasak, Mama punya berbagai keahlian yang bisa dibilang all round. Semua bisa dilakukan, apakah itu berbelanja kepasar, mencabuti bulu ayam (jaman dulu kami potong ayam sendiri dirumah, dibersihkan bulu2nya sendiri!), membersihkan otak sapi (untuk gulai otak khas Minang), juga membetulkan setrika yang rusak, membersihkan kompor minyak tanah, semua bisa dilakukan Mama. Sedari pra-remajanya Mama sudah diberi tanggungjawab oleh Oma (nenek saya) untuk mengurusi rumah tangga, dan Mama tidak pernah dimanjakan walaupun Opa menduduki jabatan tinggi dimasa itu. Karena tugasnya yang berpindah-pindah Opa harus berpisah sementara dari Oma yang masih punya bayi kecil. Dan Mamalah yang harus mengurusi semua keperluan Opa dirumah dinas tersebut. Baik masak, membersihkan rumah, Mama yang mengurus semuanya padahal Mama juga bersekolah. Karena itu Mama sudah dapat disiplin mengurus rumah tangga sejak usia muda sekali. Disiplin ini juga diturunkan Mama kepada kami. Kami harus bisa membereskan rumah, membantu Mama menyiapkan bumbu dapur (yang berbagai jenis macamnya untuk masakan Minang), ikut membersihkan bahan-bahan makanan sepulangnya dari pasar, tidak boleh tergantung pada bantuan asisten rumah tangga. Sayangnya bakat keahlian memasak tidak menurun kepada saya, hehehe, saya cuma bisa jadi penikmat, dan pemberi nilai kelezatan makanan, bukan ahli mengolah makanannya😀

Memang Mama selalu melibatkan kami pada setiap kegiatannya. Tidak ada hal-hal yang kami lakukan masing-masing tanpa yang lain mengetahui. Ini yang membuat ikatan batin antara ortu dan anak selalu kuat. Kami diajar untuk saling peduli, harus tahu kegiatan masing-masing, sehingga jika diperlukan bantuan/support kami selalu paham apa yang perlu dilakukan. Didikan ini yang membuat saya bersaudara (tiga bersaudara, dua kakak: laki dan perempuan, saya yang terkecil) selalu kompak. Bahkan dalam kesibukan mereka sekarang ini, kami masih menyempatkan membuat acara bersama.

Banyak hal yang diajarkan Ayang kepada saya. Kalau dituliskan berupa daftar “Things I Learned From My Mom” hmmm bisa ribuan isinya. Dari Mama saya belajar untuk mengingat apa yang penting dalam hidup ini. Kita boleh berkarir dalam pekerjaan, boleh bergaul seluas-luasnya dimasyarakat, namun yang terpenting dan harus nomor satu adalah keluarga. Selain itu Mama juga mengajarkan selalu bersikap gigih. Apapun yang kita kerjakan pasti selalu ada kendalanya. Namun kita tidak boleh berputus asa, dan tetap berikhtiar mencari jalan keluarnya. Kita harus punya rasa percaya diri, agar dapat melakukan yang terbaik, dan dapat menikmati apa yang telah berhasil kita kerjakan dengan baik.

Dalam menjalani hidupnya, Mama juga memberi pelajaran bahwa kita juga harus punya intuisi. Berkali-kali saya menyaksikan kebenaran dari intuisi yang Mama miliki. Karena itu saya juga belajar mengasah kepekaan, belajar tidak melulu berpatokan pada logika dan nalar rasional, namun juga percaya pada intuisi.

Dan last but not least, hal yang selalu dicontohkan Mama: berbaiklah kepada orang disekelilingmu, biasakan beramal menjadi rutinitas, dan ajarkan kebaikan itu kepada keluargamu.

Mom…. I love you soooo much!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s