Kau Sedih Ya?

Dengan semakin banyak kemajuan perkembangannya, Lukman sudah mulai dapat mengkomunikasikan perasaannya dengan verbal. Lukman sudah bisa bilang “Aku sedih” saat menangis, bisa bilang “Lukman suka” kalau ia senang sesuatu, dan juga mulai bisa bilang “Jangan” kalau ia tidak suka apa yang kita lakukan. Contohnya kalau kita cium, Lukman sudah bisa bilang “Jangan dicium, Mama” karena ia memang tidak suka dicium. Sebelum perkembangan verbalnya sebaik sekarang, kalau tidak suka sesuatu Lukman langsung memukul atau mencakar siapapun yang jadi penyebab rasa tidak sukanya.

Sekarang ini frekwensi marahnya Lukman sudah semakin berkurang, dan tingkat kemarahannyapun sudah jarang sekali sampai tahapan tantrum. Hal ini karena Lukman sudah semakin ‘predictable’, kalau sudah mulai terganggu perasaannya dapat terlihat dimimik mukanya, dapat terlihat dari bahasa tubuhnya. Sebelum marahnya semakin menjadi, berbagai hal dapat kami lakukan untuk mencegah jangan sampai marahnya menjadi tantrum. Kadang dialihkan perhatiannya dari hal yang membuatnya marah ke hal lain yang disukainya, kadang saat dia mulai memukul saya tangkap tangannya dan menggelitiknya sampai akhirnya dia malah ketawa2, atau kadang saya tinggalkan saja Lukman saat ia marah, dibiarkan sendiri diruangan yang aman, dan ini biasanya meredakan marahnya cukup cepat.

Meskipun begitu, sesekali ada juga kejadian dimana Lukman mendadak memukul saat belum terlihat dia betul-betul marah. Kejadian malam ini contohnya. Ketika mau tidur, Lukman masih terus loncat2, berguling2, tidak mau diam. Beberapa kali saya peringatkan “Ayo bobo, besok sekolah loh, yuk tutup matanya” Lukman malah menggeleng2. Waktu saya bilang “Ayo dong, Lukman kan anak pintar” ia malah mulai kelihatan kesal, menghentakkan kakinya. Waktu saya lanjutkan “Lukman kan anak baik” Lukman rupanya makin kesal, dan tanpa terduga memukul saya dihidung sehingga kacamata saya sampai nyaris jatuh. Walaupun sudah biasa kena pukulannya, kali ini karena kena kacamata rasanya lumayan sakitnya. Daripada saya terpancing emosi juga, saya menjauh dari Lukman, dan menutup muka dengan bantal. Airmata jadi mengalir saking sakitnya hidung ini.

Papanya yang melihat kejadian itu langsung bicara sama Lukman “Lukman jangan pukul Mama dong, lihat tuh Mama sakit. Mama nangis tuh. Bilang maaf ke Mama”. Lukman yang masih kesal menggelengkan kepalanya. Sampai beberapa lama saya masih menutup muka dengan bantal. Setelah kesalnya hilang, Lukman mulai memperhatikan saya. Dia mendekat, tapi tidak bilang apa-apa. Saya tetap diam saja. Lumayan lama seperti itu sampai akhirnya saya berdiri, mau membuatkan susu untuk Lukman. Lukman menghampiri saya yang masih melap muka dan hidung dengan tissue. Lukman bertanya: “Kau sedih ya?” (Kalau bicara Lukman memang sering memakai bahasa baku, menyebut ‘kau’ bukannya ‘Mama’ adalah hal yg biasa dilakukannya, dan sulit dirubah). Ditanya seperti itu saya nggak bisa menjawab, malah keluar lagi airmata karena terharu Lukman bisa bertanya seperti itu. Papanya bilang “Ayo peluk Mama, Lukman” Lukmannya menurut, ia memeluk saya dan saya cium kepalanya. Waktu Papanya bilang “Minta maaf, Lukman” sambil membelai tangan saya, Lukman bilang “Maaf ya Mama” huaaa airmata saya tambah keluar deh. Saya jawab “Iya sayang”. Selesai membuatkan susu, saya berikan pada Lukman dan langsung diminumnya. Saya bilang “Habis minum susu bobo ya Lukman” Ia menganggukkan kepalanya. Selesai minum susu Lukman berbaring ditempat tidur, saya juga berbaring disampingnya.

Cukup lama Lukman berbaring namun belum juga ia tidur, bulak-balik seperti mencari posisi yang enak. Selagi bulak-balik itu, Lukman sempat tiga kali mendadak duduk lalu mendekati saya, memberikan pelukan yang erat lalu berbaring lagi. Tidak hanya itu saja, Lukman juga memberi ciuman dipipi saya. Walaupun Lukman tidak bilang apa-apa, kelihatan sekali penyesalannya sudah membuat Mamanya menangis.

Saya bersyukur didalam hati, dengan kejadian ini makin terlihat kalau Lukman semakin care dengan orang2 disekelilingnya, semakin bisa menangkap perasaan orang2 disekelilingnya, dan mampu berinisiatif untuk meminta maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s