Nilai UTS Reza

Malam itu saya pulang kerumah dengan rasa bangga, dengan rasa syukur bahwa kami dikelilingi oleh orang-orang yang menghargai Reza dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya juga bersyukur kami sudah diingatkan lagi untuk bersabar, untuk lebih memotivasi Reza agar belajar dengan senang hati sehingga dapat mencapai apa yang diinginkannya kelak.

Problem Menulis

Sejak masuk SD, tidak ada pelajaran yang sulit dipelajari bagi Reza. Kalaupun ada masalah, Reza itu sangat tidak suka menulis. Dan hal ini tentunya sangat berpengaruh pada nilai worksheet/ulangan tertulisnya. Mulai semester 1 dikelas 1 sudah terlihat masalah menulis ini (baca: Nilai Rapor Reza). Sempat Reza kami ikutkan terapi okupasi selama 3 bulan saat itu untuk memperkuat motorik halusnya, dan setelah ada perbaikan terapi tersebut dihentikan, dan Reza berlatih menulis sendiri dirumah.

Namun pada akhir semester 1 dikelas 2 (Desember 2009), guru kelasnya menyampaikan masalah lambatnya Reza menulis, sehingga saat itu saya sempat konsultasi dengan psikolog sekolah, untuk mencari tahu apakah ada masalah lain sehingga Reza selalu kesulitan dengan tulis menulis. Syukurnya hasil pengamatan dan observasi dari ibu psikolog menyimpulkan tidak ada masalah lain, Reza memang perlu dibantu untuk meningkatkan kecepatan dan ketahanannya menulis. Karena itu sejak bulan Desember tsb Reza kami ikutkan lagi terapi diklinik tumbuh kembang di Cipete, Jakarta Selatan. Saat assessment, terapis disana menganjurkan agar selain mengikuti terapi okupasi untuk memperkuat motoriknya, Reza juga ikuti terapi edukasi dengan seorang orthopedagog untuk mempelajari cara kerja yang efektif & efisien disekolah. Hal ini diperlukan karena Reza mulai terlihat tidak pede dalam mengerjakan soal yang perlu menulis banyak jawabannya, sudah patah semangat dulu melihat soal seperti itu sehingga semakin tidak optimal menjawabnya.

Hasil Ulangan Tengah Semester

Terapi-terapi ini berlangsung sampai sekarang, dan Alhamdulillah kemajuan Reza dalam menulis cukup baik. Ia sudah cukup cepat mengerjakan soal, namun masih perlu diingatkan untuk tidak bermain-main/ngobrol agar dapat selesai dalam waktu ditentukan. Menyangka persoalan utamanya sudah teratasi, kami mulanya sudah cukup senang. Sampai ketika laporan hasil ulangan tengah semesternya Reza keluar, seperti dibawah ini. Mata pelajarannya dari atas kebawah adalah: PKN, Bahasa Indonesia, Matematik, IPA, IPS, English, Kesenian dan PAI.

Waw, ada nilai 4,4 untuk English?

Rezanya sendiri tidak terlihat sedih/kecewa dengan nilai empatnya itu. Mungkin karena dia lihat angka yang bagus utk pelajaran lain juga cukup banyak. Saya tanyakan dulu: menurut Reza sendiri, kenapa bisa dapat angka empat, padahal Reza waktu latihan dirumah tidak ada kesulitan dengan pelajaran tsb. Jawaban Reza “Tadinya Reza ada yang nggak bisa, Mama, tapi sekarang sudah bisa kok”. Tidak puas dengan jawaban seperti itu (karena Reza cukup menyukai pelajaran ini dan saat latihan dengan saya tidak ada bahan yang Reza ‘tidak bisa’ kuasai). Jadi saya teliti lembar soal & jawaban Reza. Ternyata banyak sekali jawaban yang ditulisnya tidak sesuai dengan permintaan. Misalnya, ada pertanyaan: Where do the giraffe live? Jawabannya mustinya seperti ini: They live on land. Tapi Reza menjawab hanya dengan menulis: Land. Jawaban yang betul, tapi tidak lengkap. Ada lagi soal membuat kalimat yang ditulis: gunakan enjoy/don’t enjoy. Jawaban Reza betul, tapi menggunakan kata ‘like’. Jadi saya bisa ambil kesimpulan kalau Reza tidak membaca soalnya dengan baik, dan ini juga diakuinya.

Menemui masalahnya adalah seperti itu, saya tidak  bisa marah, Reza saya ajak bicara dengan nada pelan, tapi saya tunjukkan kalau saya kecewa, bahwa nilainya tidak bagus bukan karena Reza tidak bisa, bukan karena ia tidak menguasai pelajarannya, tapi karena Reza tidak membaca soalnya baik-baik. Saya katakan pada Reza bahwa kami orangtuanya tidak menuntut Reza harus dapat sepuluh, tapi Reza harus tunjukkan usaha yang terbaik saat dia kerjakan soal. Kalaupun akhirnya salah, kalau memang itu karena Reza belum mengerti atau belum bisa, maka itu hal yang wajar, namanya juga masih belajar. Tapi kalau salah karena tidak membaca soal? Wah berarti sikapnya Reza yang harus diperbaiki, jangan buru2 mengerjakan soal dan pahami pertanyaannya terlebih dahulu. Sikap ini hanya Reza yang bisa mengaturnya, kalau Papa Mama cuma bisa bantu persiapan belajar, bantu dengan mengikutkan terapi, tapi begitu menghadapi soal, Reza sendiri yang bisa menentukan cara mengerjakannya: mau buru2 atau mau teliti.

Diajak bicara seperti itu, Reza terlihat cukup mengerti, bahkan sempat agak ‘ngembeng’ matanya yang saya pikir menunjukkan kalau ia paham. Setelah pembicaraan itu saya menulis permintaan untuk bertemu kepada kedua guru kelasnya Reza, untuk minta masukan dari mereka atas kinerja Reza dikelas.

Masukan Dari Guru Kelas

Minggu ini saya baru diberi kesempatan untuk bertemu kedua guru kelasnya Reza. Dari pembicaraan kami, saya dapat simpulkan ibu guru berdua ini sangat mengerti masalah Reza. Mereka cukup memberi flexibilitas, cukup mengingatkan berulang kali agar Reza dapat mengerjakan soal dengan baik. Namun memang kalau sudah inginnya selesai dengan soal itu, walaupun diberi kesempatan lagi untuk memeriksa dan membetulkan jawabannya, sikap Reza malah kelihatan seperti ‘uuuh itu lagi – itu lagi deh’ dan tidak memeriksa ulang, maunya selesai saja. Cara mengingatkannya pun bervariasi, kadang ditulis dipapan tulis, seringkali diingatkan dengan lisan, dll. Masukan dari kedua ibu guru adalah agar kami tidak bosan mengingatkan Reza, karena memang pada anak seumuran Reza ini kesadaran untuk belajar dan mengerjakan tugas masih harus sering diingatkan. Istilah mereka kami harus “seperti kaset rusak” yang berulang2 menyuarakan hal yang sama. Kadang kesadaran anak-anak untuk lebih bertanggung jawab dengan pelajaran bisa saja muncul baru dikelas enam. Namun yang ditekankan ibu guru adalah jangan sampai Reza merasa tidak enjoy belajar, sehingga lebih sulit lagi untuk menimbulkan kesadaran tersebut dikemudian hari.

Selain masukan tersebut, kedua guru juga membicarakan hal yang positif dari Reza. Walau bagaimanapun seringnya diperingatkan guru, Reza selalu menjawab dengan baik. Selalu bilang “Iya” (walaupun pada prakteknya belum tentu akan dikerjakan). Namun Reza tidak pernah membantah kata ibu guru.

Reza juga pandai bicara, sangat kritis, cepat menyerap hal-hal baru, dan ingatannya detail sekali. Pada satu kesempatan, sehabis bercerita ibu guru mempersilahkan murid2 bertanya. Saat itu cuma Reza yang bertanya “Kalau sudah seperti itu bagaimana selanjutnya, apa yang harus dikerjakan?” jadi Reza memikirkan langkah selanjutnya, dan ini yang membedakannya dari teman2nya. Selain itu ibu guru juga ceritakan pada saat pelajaran bahasa Indonesia, Reza menuliskan pengalamannya berkunjung ke restoran dengan nuansa jaman dulu (baca: Onze Kinderen @ Dapoer). Reza sempat bicara dengan bu guru “Disana ada alat untuk putar piringan hitam itu loh bu, yang ada seperti terompetnya itu” ibu guru sempat berpikir dulu karena lupa apa  namanya, tapi Reza kemudian ingat sendiri “Oh iya, gramophone”. Saya sendiri jadi senang dengar cerita ibu guru itu, Reza bisa ingat dengan baik istilah baru tersebut.

Yang tadinya saya datang kesekolah dengan rasa prihatin memikirkan problemnya Reza, akhirnya pulang dengan rasa bersyukur kedua ibu guru kelasnya mampu melihat Reza secara utuh, walaupun ada masalah, ada kekurangan, tapi mereka dapat pula melihat kelebihan-kelebihan Reza.

Masukan Dari Terapis Edukasi

Pada saat terapi edukasi sesudahnya, saya ungkapkan kepada terapisnya tentang nilai UTS tsb, dan ternyata pembicaraan beliau dengan Reza juga menyimpulkan hal yang sama: Reza memang buru-buru saat mengerjakan soal, sehingga kurang meneliti jawaban seperti apa yang diminta. Beberapa tips diberikan bapak terapis untuk disarankan kepada guru kelasnya Reza, agar dapat mengingatkannya lebih teliti dalam mengerjakan soal. Misalnya: menulis dipapan tulis “Soal harus dibaca dengan teliti” jadi selain diingatkan dengan lisan, juga dengan visual. Kemudian kepada kami untuk perlakuan dirumah, beliau sarankan agar Reza diajarkan dengan sistim reward/punishment, dengan cara positif untuk membuatnya memahami konsekuensi dari hasil kerjanya. Saat saya bicarakan tentang pertemuan saya dengan guru kelas Reza, bapak terapis edukasinya mengatakan kepada saya bahwa memang kegiatan menulis itu tidak disukai Reza, bahkan pernah Reza bercanda mengatakan bahwa ia menderita kalau disuruh menulis. Menurut beliau, daya juang Reza untuk mengerjakan hal yang tidak disukainya ini lah yang sedang diasah untuk diperkuat. Toh dalam kehidupannya dimasa mendatang kelak Reza akan selalu mendapatkan hal-hal yang tidak disukai tapi harus dikerjakannya. Karena itu ketahanan dan daya juangnya harus mulai dilatih dari sekarang.

Selain itu bapak terapis edukasinya menambahkan lagi contoh ‘nilai lebih’nya Reza dibandingkan dengan anak seumurannya. Ada satu latihan saat terapi, dimana bapak terapis sebutkan satu kata, kemudian Reza menulis apa saja yang terlintas dipikirannya saat mendengar kata itu. Yang diberikan adalah kata “kamboja”. Reza menulis: 1. Kamboja bunganya ada yang warna pink, kuning atau putih. 2. Kamboja kalau dipatahkan daunnya bergetah. Kedua jawaban ini masuk kategori normal utk anak seusia Reza. Jawaban berikutnya: 3. Kamboja dipakai untuk upacara sembahyang umat Hindu, dan 4. Kamboja dipakai untuk nama negara. Wah mendengar itu saya bangga deh, Reza bisa mengingat detail informasi sebaik itu, walaupun entah kapan dia dapatkan. Dan ini memang ditegaskan oleh bapak terapis, bahwa jawaban no 3 dan 4 masuk kategori luar biasa bagi anak seumur Reza.

Malam itu saya pulang kerumah dengan rasa bangga, dengan rasa syukur bahwa kami dikelilingi oleh orang-orang yang menghargai Reza dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya juga bersyukur kami sudah diingatkan lagi untuk bersabar, untuk lebih memotivasi Reza agar belajar dengan senang hati sehingga dapat mencapai apa yang diinginkannya kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s