Belajar Sejak Di Buaian

Minggu yang lalu saya ngobrol lewat email dengan Ibu kepala sekolahnya Lukman tentang kedisiplinan dan kemandirian anak batita. Terus terang saya sering prihatin melihat anak-anak yang kurang bisa menata tingkahlakunya saat berada diluar rumah. Tentunya saya sedang membicarakan anak-anak yang disebut ‘normal’ anak-anak yang dapat bersosialisasi, berkomunikasi dan paham dengan aturan-aturan disekelilingnya tanpa kendala. Banyak hal yang saya lihat saat berkunjung  ke  sekolah-sekolah pada umumnya, seperti saat bel keluar kelas berbunyi lalu anak-anak berebutan keluar, tanpa melihat temannya yang jadi terdorong atau terjepit, kemudian saat lewat koridor yang sempit mereka tidak antri dengan tertib sehingga koridor tersebut bisa jadi ‘macet’ karena masing-masing anak tidak mau bergiliran, maunya duluan dari temannya.

Pastinya banyak yang akan bilang “Namanya juga anak-anak….”. Memang dapat dimaklumi bahwa anak yang sehat memang cenderung aktif, senang bergerak, senang eksplorasi. Apalagi anak sekarang yang cukup nutrisinya, gizinya baik, pastinya punya banyak energi yang harus disalurkan. Malahan kalau melihat anak yang pasif, kita pasti juga akan heran, dan bertanya2 kenapa ya anak itu, apakah sakit, atau tidak enak badan sehingga tidak bersemangat. Namun begitu, bagi saya kesadaran anak dalam mengontrol gerakan dan tindakannya sebetulnya dapat dibiasakan sejak usia dini. Anak bisa belajar sharing mainan, belajar antri dengan sabar, dapat diajarkan sejak usia playgroup, saat ia sudah mulai bersosialisasi diluar rumah.

Hal ini sudah diterapkan disekolahnya Lukman, sehingga Lukman yang autistikpun, yang punya kendala  dalam berkomunikasi dan bersosialisasi,  dapat mengikuti aturan, dengan sabar mengantri, mampu bersopan santun dengan orang yang ditemuinya baik dewasa maupun seumurnya. Dirumahpun Lukman dengan tertib meletakkan sepatu ditempatnya, melepas baju dan menaruhnya dikeranjang baju cucian, sudah biasa begitu tanpa disuruh. Hal inilah yang saya obrolkan dengan Ibu kepala sekolahnya Lukman, dan beliau berbagi ilmunya bahwa disiplin, kemandirian anak, sudah semestinya dapat diajarkan sejak usia sangat dini, bahkan dari saat bayi masih dibuaian dengan cara yang lembut, tanpa tekanan/paksaan.

Selain obrolan diatas, saya beberapa kali mendapat cerita baik dari kakak ipar dan teman-teman yang pernah tinggal di Jepang, bagaimana anak yang masih batita disana dapat dilatih berdisiplin sejak usia yang sangat dini. Contoh: saat dititipkan di daycare mereka dengan patuh tidur siang pada jam-nya, saat bangun tidur dengan patuh mengantri didepan toilet untuk pipis dulu sebelum memulai kegiatan lain. Tidak ada anak yang sulit diatur, kalaupun ada ‘anak baru’ yang masih sulit disiplin seperti teman2nya dalam beberapa hari saja dapat menyesuaikan diri dan ikuti aturan dengan sukahati. Hal ini bikin saya bertanya2, apa ya bedanya sistim pendidikan disana dengan disini, padahal kalau dipikir sebagai sesama saudara se Asia tradisi dan nilai2 yang diajarkan budaya kita tidak berbeda jauh-lah mestinya. Kenapa dalam hal disiplin kita bisa berbeda jauh? Masalah ketepatan waktu, kerajinan bekerja, memang kita harus bercermin kepada saudara tua ini, bahkan seluruh duniapun mengakui etos kerja masyarakat Jepang  yang menyebabkan mereka unggul dari negara Barat sekalipun.

Pagi ini saya dapat cerita dari sepupu saya yang separuh Minang separuh Jepang (karena ibundanya berasal dari Jepang), mengenai  pengajaran kemandirian dan kedisipilinan yang diajarkan sejak anak masih kecil, bahkan dari 0 tahun! Ajaran ini dikenal dengan 5 S: Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, dan Shitsuke. Tulisan lengkapnya dapat dibaca disini. Dengan 5 S ini anak diajar untuk bertanggung jawab untuk merapihkan barang-barang baik ukuran kecil maupun besar miliknya, membersihkan tempat yang dipakai beraktifitas setelah selesai kegiatannya (misalnya: merapikan meja setelah makan), melakukan kegiatan rutin pada tempatnya (makan dimeja makan, bukan sambil jalan-jalan),  dan melestarikan tata krama dalam kegiatan sehari-hari. Hmmm menarik sekali ya, dan ini hal yang tidak mudah dilakukan, namun apabila dibiasakan sejak kecil (menurut survey) anak-anak yang dilatih sejak 0 tahun ini akan sukses dimasa dewasanya.

Ayo coba, siapa yang mau anaknya jadi sukses nanti?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s