A Sad Week

…saya bawa Reza kembali kedokter di RSPI. Sesaat setelah meneliti bercak merah dan bintil itu Dokter bilang “Cacar air ini, Bu”. Saya dengan sok tahunya bilang “Lho kok bintilnya kecil2 dokter?” Dokter jawab “Memangnya mau ibu sebesar apa?” hehehe saya baru sadar “Maklum Dokter, soalnya saya dulu kena cacar saat sudah tua Dok, sudah lahir adiknya Reza baru saya kena cacar air, dan waktu itu bintilnya besar2”

Hari Jumat 23 April sehari setelah Reza kedokter karena demam (baca: Curhat Colongan), muncul bercak-bercak merah ditangannya. Saat masih sedikit, saya belum kawatir, karena kadang kalau demam memang suka muncul seperti itu pada anak. Saat bercaknya bertambah, saya masih berharap bercak itu campak, yang kalau sudah muncul bercak merah berarti justru sudah tahap penyembuhan. Tapi saat bercak itu makin banyak dan timbul bintil2 kecil, wah sudah nggak bisa dibiarkan deh, saya bawa Reza kembali kedokter anak langganan di RSPI. Sesaat setelah meneliti bercak dan bintil itu dokter bilang “Cacar air ini bu”. Saya dengan sok taunya bilang “Lho kok bintilnya kecil2 dokter?” Dokter jawab “Memangnya mau ibu sebesar apa?” hehehe saya baru sadar “Maklum Dokter, soalnya saya dulu kena cacar saat sudah tua Dok, sudah lahir adiknya Reza baru saya kena cacar air, dan itu bintilnya besar2” Dokter bilang lagi “Ya iya dong bu, kalau orang dewasa pasti lebih besar, kalau anak-anak ya begini ini”. Aduuh kebayang repotnya mengawasi Reza beberapa hari kedepan, karena saya sudah alami sendiri sakit cacar air itu nggak enak, bisa menggigil sangking sakitnya, dan bikin beeteee banget karena harus di’karantina’ nggak boleh kemana-mana. Dokter melarang Reza keluar rumah sampai 2 minggu lamanya.

Sampai dirumah, langsung Reza saya minta naik kekamar atas, jangan ketemu adiknya. Tempat tidur Reza dinaikkan kekamar atas (yg biasa jadi kamar belajar adik). Untungnya dikamar itu memang ada TVnya, dan Reza bisa istirahat sambil nonton. Sementara itu Reza masih tenang2 aja, saya tahu yang terparah belum keluar, tapi nggak bilang sama Reza supaya dia nggak panik.

Benar juga besoknya sudah keluar makin banyak cacarnya, terutama yang ditangannya, jadi bertumpuk-tumpuk saking banyaknya. Tapi ditempat lain syukurnya tidak terlihat banyak, dada dan perut cuma sedikit, kaki lebih banyak didekat telapaknya, dilutut juga sedikit, dikepala nyaris tak ada, namun yang bikin Reza kesakitan adalah yang didalam mulutnya. Akibat dalam mulutnya ada cacar, Reza mendadak jadi ‘pendiam’ selama weekend itu, dan malas makan minum karena sakitnya. Saya cuma bisa bujuk2in, dan kasih makanan yang bikin dia nafsu sehingga lupakan sakitnya utk makan sedikit.

Hari Seninnya, Lukman masuk sekolah pagi seperti biasa. Tapi kemudian saya ditelepon, dan diberitahu Ibu Kepala Sekolah kalau Lukman panas badannya dan muntah. Waduh, langsung kepikir jangan2 ketularan kakaknya. Saya langsung jemput, dan setelah telepon dokter untuk bikin janji kita langsung ke RSPI. Dokter yang periksa Lukman bilang kalau dia nggak terlihat cacarnya, jadi mudah2an cuma karena radang tenggorokan saja.  Keesokan harinya panasnya sudah turun. Walaupun begitu, makannya masih malas, sulit sekali dibujuknya. Karena masih ada masuk makanan dan minuman saya masih tenang saja. Hari Rabu besoknya makin nggak bisa dibujukin makan, minumpun malas sekali, kelihatan sakit kalau menelan walaupun air saja. Bicaranya juga sedikit sekali, sepertinya kalau bicara juga sakit tenggorokannya.

Akhirnya Kamis pagi saya bawa lagi kedokter, saat itu sudah lemas sekali Lukmannya sampai saya perlu pinjam kursi roda karena Lukman tidak kuat berdiri lama. Dokter bilang tidak usah dipaksa makan, yang penting minum saja. Walaupun lemas, dokter belum lihat Lukman perlu dirawat karena belum ada gejala dehidrasi. Kami pulang kerumah dengan tambahan obat yang diresepkan dokter. Sampai rumah Lukman tidur terus, dan saat Magrib, Lukman mulai muntah. Saya lihat muntahnya ini ada lendir darahnya, warna merah segar. Mulai deg-degan rasanya hati ini. Sejam kemudian Lukman muntah lagi, kali ini lendir darahnya juga makin jelas terlihat. Langsung saya telepon Papanya, minta segera pulang dari kantor, karena saya mulai khawatir. Sambil menunggu Papanya sampai dirumah, saya sudah mulai siapkan barang-barang untuk keperluan menginap dirumah sakit, sudah merasa Lukman perlu dirawat. Betul juga, semakin malam muntahnya Lukman makin sering, dan darah yang keluar sekarang kelihatan kehitaman warnanya. Aduuh sediiih sekali melihat kondisinya, lemas, muntahnya seperti itu, kalau bisa maunya kita terbang saja keRSPI. Begitu Papanya sampai dirumah, dan barang-barang sudah siap semua, kami langsung berangkat. Berat juga rasanya mau tinggalkan Reza yang masih di’karantina’, mana asisten mau mudik pula besoknya, tapi untung sudah ada asisten inval yang kelihatannya cukup baik dan cekatan, tidak panik/bingung saat saya bilang Lukman mau dirawat diRSPI. Setelah pamit sama Ayang & Bum-bum yang ikut menunggui kami siap-siap pergi, berangkat deh dengan hati yang rasanya nggak keruan ke RSPI.

Sampai disana, waduh ruang Emergency penuh. Padahal kapasitasnya mungkin sekitar 20 tempat tidur, tapi semuanya terisi. Untung ada satu yang pasiennya baru keluar, Lukman langsung dibaringkan ditempat tidur itu. Saat menunggu diperiksa, Lukman masih sempat muntah lagi 2x. Akhirnya dipasanglah infus, dan Lukman diberi obat untuk mengurangi asam lambungnya. Ketika infus dipasang, Lukman cuma menangis sebentar, tidak memberontak karena lemasnya. Setelah beberapa waktu, Lukman terlihat lebih tenang, dan mulai tertidur. Cukup lama kami menunggu kamar rawatnya disiapkan, dan sementara itu dokter emergency mengatakan dokter anak langganan belum bisa dihubungi, karena memang bukan jadwalnya sebagai dokter jaga. Namun kami tetap ingin Lukman dirawat beliau, tidak perlu ganti dokter anak yang malam itu standby, apalagi melihat Lukman sudah mulai tenang, kami pikir ditunggu saja dokter langganan yang periksa keesokan harinya. Malam itu kami baru bisa istirahat jam 2 pagi, lelah tapi tegang karena kawatir. Tidurpun tidak bisa nyenyak, karena tiap sebentar bangun untuk cek kondisi Lukman. Alhamdulillah Lukman tidur tenang sepanjang malam.

Pagi hari dokter sudah datang, dan cek kondisi Lukman. Beliau berikan obat antibiotik lewat infus, sementara obat-obat sebelumnya tetap diteruskan. Ketika bangun dari tidurnya, Lukman sudah bisa senyum walaupun masih lemas, dan masih belum mau bicara. Seharian saya nggak paksakan Lukman untuk makan, karena toh ada asupan dari infus (cairan & protein). Suasana hati Lukman cukup baik, dia tidak sebal ter’ikat’ dengan selang infus, dan saat diajak rontgent ke bagian radiologi Lukman menikmati juga ‘pengambilan foto’ dengan senang, karena suster yang menemani pun pintar membujuknya.

Sore hari, saat makan malamnya datang, saya tawarkan Lukman “Lukman mau makan?” dilihatnya spaghetti yang jadi menu makan malamnya dan Lukman bilang “Lukman mau mie” haha disangkanya spaghetti itu mie, saya bilang “Ini bukan mie, tapi enak deh, coba ya?” Lukman ngangguk2. Saya kasih sesendok, lihat reaksinya. Lukman bilang “Mmm, enak Mama!” dan akhirnya habis sepiring! Waw, seneng sekali lihat Lukman makan sampai habis. Lukman sempat nangis tuh saat saya bilang habis spaghetti nya, rupanya masih kepingin. Tapi mengingat perutnya baru masuk makanan malam itu, takut kaget juga kalau langsung makan banyak, saya bujukin aja “Besok ya kita pesan lagi spaghetti nya?”. Malam itu Lukman juga nggak langsung tidur, ditivi ada film Mr. Bones yang lucu banget, dan settingnya di Afrika, ada banyak binatang2 kesukaan Lukman: gajah, badak, singa, kuda nil. Ya sudah deh, mana mau dia bobo, ketawa2 sambil bilang “It’s elephant, Mama” sementara Mamanya udah sakit kepala karena kurang tidur kemarinnya. Tapi kemudian Lukman tertidur sendiri, ditemani binatang2 favoritnya.

Keesokan paginya, saat dokter visit, beliau bilang “Bagus deh sudah bisa makan, kalau hari ini tetap bagus kondisinya, tidak demam lagi, besok boleh pulang” yipeee, Mamanya seneng banget! Siang harinya kakak Reza datang menjenguk. Sebetulnya sih dia belum boleh ketemu adiknya, Reza ke RSPI karena kontrol kedokter untuk sakit cacarnya. Waktu dokter katakan dia nggak boleh nengok adik, Reza langsung mau nangis. Akhirnya tanpa setahu dokter, dengan Papanya dia jadi juga melihat adek, tapi dengan syarat Rezanya nggak boleh dekat2, lihat adek dari jauh saja. Saat bertemu, spontan Rezanya langsung bikin gambar untuk adek, dengan ucapan supaya adeknya cepat sembuh.

Seharian itu Lukman sudah mau main, sudah mulai keluar bicaranya, apalagi saat teman-temannya datang berkunjung, wah gembira sekali dia nonton tivi sambil teriak2! Bandelnya juga sudah mulai balik, saat disuruh tidur malamnya, dia nggak mau. Karena Lukman bercanda terus, Mamanya matikan saja lampu kamar, dan pura2 tidur duluan. Akhirnya Lukman juga menyusul tidur.

Minggu pagi 2 Mei 2010 itu Lukman diperbolehkan pulang kerumah. Lega sekali kami bisa berkumpul lagi, walaupun Reza masih belum boleh berdekatan dengan adek. Akhirnya hari Rabu kemarin Reza sudah boleh turun, boleh peluk & main dengan adeknya lagi. Senangnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s