Aku Sahabat Anak Spesial

Pada tanggal 10 April 2010 yang lalu, Sekolah Tetum mengadakan acara Aku Sahabat Anak Spesial. Acara ini diadakan dalam rangka ikut memperingati Hari Peduli Autisme sedunia, tanggal 2 April yang lalu. Dengan semakin banyaknya anak-anak yang terdeteksi berkebutuhan khusus, diantaranya murid-murid Sekolah Tetum sendiri, sekolah ini ingin lebih mengenalkan tentang hakikat anak berkebutuhan khusus (ABK) ini. Bahwa ABK itu tidak berbeda dengan anak-anak lain yang ingin dimengerti, diterima, dicintai sebagaimana adanya mereka harus di’kampanye’kan kepada masyarakat luas, mulai dari lingkungan terdekat: keluarga dan kerabat kita sendiri. Karena itulah Sekolah Tetum mengadakan acara ini, memberi pengalaman kepada murid-murid, orangtua murid dan masyarakat sekitarnya tentang ABK.

Acara tersebut diadakan di Toko Buku Leksika, Lenteng Agung. Sebuah toko buku yang tidak hanya menjual buku-buku tapi juga menawarkan nilai tambah sebagai tempat bersosialisasi, tempat diskusi dan wadah untuk acara-acara yang positif untuk masyarakat umum.

Kembali ke Aku Sahabat Anak Spesial, acara ini terbuka untuk umum, tanpa bayaran, sehingga siapapun yang jadi pemerhati masalah anak-anak terutama anak berkebutuhan khusus dapat ikut menghadirinya. Acaranya dimulai dengan memutar video clip I’m Here tentang anak berkebutuhan khusus yang walaupun berbeda tapi tetap ingin bermain dengan anak-anak lainnya, sangat mengharukan. Setelah itu, anak-anak diajak kehalaman luar untuk mengikuti games yang pada dasarnya mengajarkan kepada anak tentang keberadaan anak berkebutuhan khusus, bagaimana rasanya menjadi ‘berbeda’ dengan anak lain, dan ditutup dengan makan bersama. Sementara itu bagi orangtua diputarkan video clip lagi, tentang Deteksi Dini Anak Autis, dimana pada video itu selain ditunjukkan cara deteksinya juga diperlihatkan bagaimana perasaan orang tua sang anak autis, yang umumnya kaget saat anaknya di diagnosa sebagai autistik, bagaimana mereka menyikapi hal itu demi kebaikan sang anak, dan bagaimana mereka mengupayakan pendidikan yang terbaik untuk anak special mereka tersebut sehingga dapat menjadi mandiri. Sangat mengharukan.

Setelah acara pemutaran video clip, Sekolah Tetum menghadirkan seorang pemuda autistik, Natrio Catra Yososha (Osha) yang sekarang berkuliah di Fakultas Arkeologi Universita Gajah Mada, dan sang ibunda, ibu Moechiam Hernywatty, atau yang biasa saya panggil dengan Mbak Heny. Saya berkenalan dengan mbak Heny saat menghadiri pemutaran film documenter tentang anak autistic, dan saat berkenalan itu saya kagum sekali bahwa dengan perjuangan ibunya Osha bisa survive bersekolah disekolah reguler, dan bahkan sekarang sedang kuliah di UGM. Mengingat kendala2 yang dihadapi anak autistic saat terjun dimasyarakat, keberhasilan Osha bisa sampai berkuliah di UGM tentunya suatu prestasi yang sangat mengagumkan, sehingga saya tertarik untuk berkenalan lebih lanjut dengan mbak Heny. Syukurlah beliau juga punya punya facebook, dan cukup aktif menggunakannya, sehingga komunikasi kami bisa berlanjut terus didunia maya. Hubungan ini menjadi semakin erat saat mbak Heny berkenan datang ke Sekolah Tetum, dan merasakan atmosfir yang menyenangkan disekolah ini saat acara Family Gathering beberapa bulan yang lalu. Mbak Heny terharu sekali melihat bagaimana eratnya hubungan antar murid, orangtua murid dengan sekolah dan dengan sesama orangtua Tetum.

Karena itu saya tidak heran waktu Ibu Endah Soekarsono, kepala sekolah, memberitahu saya bahwa mbak Heny mau jadi pembicara untuk acara Aku Sahabat Anak Spesial, bahkan Osha-pun yang sedang di Jogja mau datang ke Jakarta dan hadir untuk sharing dalam acara ini.

Saya sendiri juga diminta Ibu Endah, untuk ikut jadi pembicara, men sharing kebiasaan saya mendokumentasikan perkembangan anak-anak, yang ternyata sangat berguna terutama saat kami harus menganalisa dan mengkonsultasikan perkembangan mereka kepada pihak lain, baik itu sekolah, psikolog maupun pakar lainnya. Saya merasa cukup yakin untuk ikut jadi pembicara karena saya sudah terbiasa untuk sharing cerita perkembangan Reza & Lukman didunia maya, lewat blog dan facebook. Sejauh ini tanggapan yang kami peroleh, baik dari teman sesama orangtua Sekolah Tetum, maupun saudara-saudara selalu positif, mensupport dengan perhatian, baik hanya mengacungkan jempol maupun dengan komentar-komentar yang menyejukkan hati. Ini yang bikin saya semangat, dan mau tampil untuk acara ini.

Walaupun saya diminta Ibu Endah untuk membuat bahan presentasi dalam bentuk powerpoint, saya senang sekali bahwa ternyata diacara itu tidak dilakukan seperti presentasi pada seminar. Yang dilakukan adalah kami para pembicara duduk bersama, mengobrol bersama dengan panduan dari sang moderator: Pak Eko, salah satu orangtua murid Sekolah Tetum juga. Apa yang dibicarakan pada obrolan tersebut ditangkap dengan baik sekali pada tulisan Ibu Lita Edia, seorang psikolog pemerhati tumbuh kembang anak yang juga penulis buku, yang kemudian menuliskannya di note facebook dengan judul Perjuangan Ibu Spesial (klik saja judul tersebut untuk membaca lebih lanjut isinya).

Saya sangat terkesan ketika bertemu Osha. Dia seorang pemuda yang sangat santun, bicara dengan ramah dan jelas, dan begitu perhatian dengan sekelilingnya. Kalau sebelum berkenalan saya bertemu dijalan, mungkin saya tidak tahu bahwa Osha itu autistik! Tanya jawab dengan panduan moderatorpun berlangsung lancar, Osha bisa menjelaskan pengalamannya belajar sebagai anak autistik dilingkungan sekolah reguler dengan sangat baik. Saya juga terkesan dengan mbak Heny, yang dengan tegas mengatakan bahwa seorang ibu adalah terapis terbaik untuk anaknya, dan seharusnyalah ibu-ibu dari anak berkebutuhan khusus mempelajari bagaimana cara terbaik untuk mendidik anaknya, bukan hanyamenyerahkan ketempat terapi saja.

Acara ditutup dengan permainan biola oleh Osha, dan saat itu anak-anak sudah bergabung kembali keruangan bersama orangtua. Acara terakhir ini adalah inisiatif dari Osha sendiri, yang mau mempersembahkan lagu-lagu anak-anak untuk teman-teman cilik barunya. Anak-anak memperhatikan Osha dengan kagum, terlihat sangat terkesan dengannya.

photo by Aziz Rifai

anak-anak kagum melihat permainan biola Osha

Secara keseluruhan, acara Aku Sahabat Anak Spesial berlangsung dengan sangat baik dan lancar. Buat saya dan Papanya Lukman, acara ini menjadi sangat berarti karena dapat mengungkapkan kespesialan Lukman secara terbuka kepada publik, dan berharap dengan keterbukaan itu dapat memberi manfaat kepada orangtua lainnya bahwa mempunyai anak autistik bukanlah hal yang memalukan, bukanlah hal yang membuat kami terus-menerus bersedih, tapi justru dengan memiliki anak special kami justru dapat mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, yang tanpa kehadiran Lukman mungkin hal-hal tersebut tidak kami hiraukan, tidak kami anggap sebagai nikmat yang istimewa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s