Children Learn What They Live

Kemarin saya mengantarkan Lukman ke dokter, karena sudah 5 hari batuk pilek. Setelah diperiksa, dokter menyarankan agar Lukman di fisio terapi untuk membantu mengurangi lendir disaluran nafasnya. Karena belum membuat perjanjian sebelumnya, kami menunggu cukup lama di poli fisio terapi.

Saat kami baru duduk, ibu yang disebelah saya sedang mengatakan kepada anaknya (badannya sedikit lebih kecil dari Lukman) : “Ayo, tarok lagi koran itu, kamu kan belum bisa baca!”. Weehh, langsung dong saya menengok ke ibu itu, mau lihat raut mukanya. Ternyata, yang nampak adalah muka yang sedang ‘bertegangan tinggi’. Tidak heran kalau muka anaknya (sebut saja si Upik) menunjukkan emosi yang sama.

Setelah itu si Upik mengalihkan perhatiannya ke kursi meja yang disediakan khusus untuk anak kecil, dihadapan kami. Kursi-meja itu seperti yang ada di sekolah TK, ukurannya kecil dan warna warni. Upik menata ulang susunan meja kursi kecil itu. Kursi2nya dideretkan oleh Upik, sehingga Lukman yang melihat langsung tertawa dan bilang “Lihat, kereta api Mama!”. Lukman spontan duduk disalah satu kursi, sambil senyum2 melihat ke saya. Upik tidak senang hati, karyanya diduduki Lukman. Dia hampiri Lukman dari belakang, dan menepuk bahunya dengan keras. Lukman yang bingung, menengok kebelakang dan melihat kepada Upik. Saya yang merasakan kalau Upik tidak senang, berkata kepada Lukman “Lukman, kalau mau main sama-sama, ayo dong kenalan dulu sama teman. Bilang : nama saya Lukman, kamu namanya siapa?” Saya senang sekali waktu Lukman menurut, dia bilang ke Upik “Namaku Lukman, kamu siapa?”. Upik yang tidak menyangka akan disapa diam saja tidak menjawab. Saya rasa dia terkejut karena tepukan dibahunya tidak dibalas dengan pukulan, malahan Lukman mengajak kenalan. Karena Upik diam saja, saya bilang lagi sama Lukman “Oooh temannya malu Lukman, nanti saja kenalannya”.

Lukman kemudian berdiri dari kursi kecil, mendatangi saya lalu membuka tas, mengorek-ngorek isinya. Saya tanya: “Lukman mau apa?” Lukman diam saja, masih mengorek-ngorek tas. Saya tanya lagi “Mau cemilan ya? Mama bawa susu, mau susu?” Lukman senyum sambil jawab “Iya, mau susu”. Lukman minumlah susu UHT tersebut sampai habis. Sudah habis, Lukman bilang: “Habis, Mama!” lalu saya jawab “Kalau sudah, botolnya buang ketempat sampah ya? Tuuuh disana”. Walaupun agak jauh letaknya, tapi tempat sampah tersebut jelas kelihatan dari tempat kami duduk. Lukman berlari-lari kecil menuju tempat sampah, dan membuang botol bekas susu itu. Saat Lukman kembali duduk, saya kasih dua jempol ke Lukman dan bilang “anak pintar!”. Selama percakapan saya dengan Lukman, saya merasa bahwa ibunya Upik memperhatikan kami terus.

Sementara itu Upik masih bereksperimen dengan meja kursi, kali ini dia merubah susunan meja, dideretkan disamping kursi2. Ibunya langsung bicara dengan nada keras “Upik, jangan berantakin dong. Ayo, rapikan!” Upik yang lagi asik berkreasi, menuruti dengan muka makin ditekuk. Setelah merapikan, dia menuju tempat koran lagi, dan srrrreeeetttt satu lembar koran dia sobek!! Kontan ibunya membentak “Upik! Kenapa sih disobek? Korannya buat dibaca, bukan disobek! Sini, kesini kata Mama!” karena Upik tidak menurut, sang Ibu menarik tangannya, lalu duduk ditempat yang jauh dari kami. Entah apa yang dilakukan sang Ibu, tapi Upik akhirnya menangis.

Selama waktu kami menunggu yang cukup lama itu, teriakan ibu Upik, teriakan dan tangisan Upik silih berganti mengisi rongga telinga kami. Saya cuma bisa menarik napas panjang, prihatin dengan Upik dan ibunya. Kepingiiin bilang sama Ibu itu, bahwa semua anak kecil pastilah bosan disuruh menunggu selama itu. Alih-alih membentak dan menyuruh anak duduk yang manis, sebaiknya kita memberikan kegiatan yang menyenangkan untuknya. Kalau dia ingin bermain dengan kursi, selama itu tidak mengganggu, kenapa dilarang? Kan bisa dirapihkan kembali. Kalau dia ingin berpura-pura membaca, kenapa tidak kita ajak mengeja supaya dia terpacu untuk bisa membaca ‘beneran’? Atau kita ajak melihat-lihat foto dikoran itu supaya bertambah kosakatanya? Kepingiiin bilang sama Ibu itu bahwa kelakuan anak kita biasanya cerminan dari kelakuan kita juga. Setiap kali anak dibentak, maka dia akan mengambil kesimpulan bahwa kalau bicara harus membentak supaya diperhatikan. Setiap anak dicubit/dipukul, maka anak akan belajar bahwa kalau ingin mendapat perhatian, lebih baik berbuat kenakalan, walaupun perhatian itu dalam bentuk cubitan dan pukulan.

Saya jadi teringat sebuah puisi yang sudah lama sekali saya baca untuk pertama kalinya: Children Learn What They Live karya Dorothy Law Nolte. Saat melihat Upik dan Ibunya, saya jadi teringat bagian-bagian puisi tsb.

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.

If children live with praise, they learn appreciation.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s