Reza Nangis

Selama seminggu yang lalu Reza tidak sekolah karena sedang demam. Sempat membaik kondisinya, dan coba masuk sekolah di hari Rabu (kebetulan sekolahnya pulang cepat hari itu) tapi begitu sampai dirumah Reza demam lagi, jadi dibawa periksa ke dokter. Rupanya amandelnya Reza membengkak, dan itu yang membuatnya sering pusing dan demam akhir2 ini.

Karena seharian dirumah saja, Reza lebih punya kesempatan untuk main dengan Lukman, juga jadi lebih sering ngisengin adiknya. Mereka juga lebih sering lagi berantem karena rebutan, apa saja: bisa rebutan mainan, rebutan remote tivi, rebutan buku. Dan tidak heran kalau Lukman juga jadi lebih terpancing untuk kesal/marah ke Reza. Akibatnya cakaran, tendangan & jambakan dari Lukman melayang ke Reza. Kalau sudah begitu, mengadulah Reza ke saya, dia bilang “Mama, nggak tahu kenapa nih Lukman nih cakar2 Reza” atau “Tadi Reza lagi duduk aja, tau2 Lukman mendadak jambak Reza”.

Karena seringnya Reza mengadu, saya lama-lama jadi sebel juga, soalnya Reza suka tidak mengaku kalau dialah penyebab adiknya kesal/marah.

Akhirnya sore hari sesudah magrib, sebelum saya jemput Papanya, Reza saya omelin. Saya bilang “Kalau Reza yang jadi sebabnya adik kesal dan marah, lalu Reza dicakar, dipukul atau dijambak, jangan terus ngadukan adik dong ke Mama. Adik itu mukul, jambak atau nendang pasti ada sebabnya. Nggak mungkin mendadak tanpa ada apa-apa langsung nyerang begitu. Ayo ngaku, barusan waktu kekamar, Reza pasti ngapa2in dulu sebelum adik mukul kan?” Rezanya cemberut, tapi masih ngeles “Iya, Reza kan siul2 gitu, tapi kan jauh dari adik” saya jawab lagi “Tapi pasti adik merasa terganggu kan, makanya dia mukul?” Rezanya diem aja, makin cemberut. Tambah panjang deh ‘ceramah’ saya sore itu “Reza jangan bikin begitu dong, jadi kesannya adik itu anak yang aneh, nggak ada sebab apa2 trus marah, nggak ada sebab apa2 trus mukul, padahal Reza tahu bahwa adik begitu ada sebabnya. Kalau Reza sendiri merasa adiknya aneh, gimana dengan orang lain? Apa mau, kalau adiknya dianggap anak yang aneh sama orang lain? Jangan begitu ya, lain kali”. Cemberuuut aja Rezanya, diam seribu bahasa. Dengan perasaan masih agak kesal ke Reza saya pergi jemput Papanya.

Saat Papanya sudah dimobil, saya cerita deh kelakuan Reza seharian itu. Papanya dengarin, kemudian kasih komentar “Memang sih Reza suka isengin adiknya, tapi ada juga lho saat Lukman ‘serang’ Reza bukan karena diisengin kakaknya itu. Contohnya waktu weekend kemarin, waktu Mamanya lagi pergi sementara Papanya dirumah sama anak2. Sore itu Lukman main air dikamar mandi, dan dilarang sama mbak. Karena kesel dilarang main air, Lukman keluar kamar marah2 dan Reza dicakar, padahal Rezanya lagi diam nonton tivi”. Dengar Papanya ngomong begitu, saya jadi mikir lagi, dan bilang “Ya udah, kalau gitu nanti kita ngomong lagi sama Reza ya”.

Sampai dirumah, Reza sedang membaca dikamar, adiknya diluar kamar sedang asik bermain dengan cat air. Mamanya duduk disebelah Reza, dan bilang “Reza, kita ngobrol dulu yuk sebentar”. Rezanya langsung duduk menghadap ke Mamanya. Saya mulai “Reza tahu nggak kenapa tadi Mama marah sama Reza?” Reza bilang “Nggak”.
Mamanya: “Tadi ada kejadian apa sebelum Mama marahin Reza”
Reza: “Ngggg, lupa” (ini ciri khas Reza banget, bilang lupa kalau dia nggak mau omongin topik itu)
Mamanya: “Coba diingat2, tadi sore itu Reza ngapain?”
Reza: “Oh, yang Reza dipukul adik?”
Mamanya: “Iya, terus Mama bilangin apa sama Reza?”
Reza: “Nggg, lupa”

Daripada pembicaraan nggak selesai karena Rezanya bilang “lupa” terus, Mamanya ngomong aja. “Tadi itu kan Mama marah karena Reza ngadu2in adik. Padahal, Mama tahu sebabnya adik marah juga karena Reza godain. Iya kan?” Reza mengangguk. Saya terusin lagi “Nah Mama maunya kalau Reza yang godain adik duluan lalu adik jadi marah, Reza nggak usah ngaduin ke Mama, itu kan akibat Reza mulai duluan. Ngerti kan?” Reza mengangguk lagi. Saya lanjut lagi “Tapi memang kadang2 adik suka kesal/marah bukan gara2 Reza godain. Papa Mama juga tahu. Kadang sebetulnya adik marah sama Papa atau sama Mama, tapi yang dipukul Reza. Iya kan?” Rezanya cuma mandangin Mamanya. Saya lanjut lagi “Tapi itu memang sifat umumnya manusia Reza, kadang kita marah karena suatu sebab, tapi pelampiasannya kena ke orang lain, yang nggak ada hubungannya sama sebab itu”. Reza gosok2 matanya. “Tapi Papa Mama nggak akan biarkan adik seperti itu, karena itu salah. Adik nggak boleh mukul/nyakar Reza, apalagi kalau nggak ada sebabnya. Papa Mama akan tegur adik kalau begitu. Lukman memang masih harus diajarin, masih harus dikasih tahu kalau mukul/nyakar itu nggak boleh, walaupun sedang marah” Reza jadi memerah matanya, dan mulai tersengguk menangis. Saya kaget juga, nggak nyangka dia akan menangis, rasanya apa yang saya omongin bukan hal yang akan membuat dia jadi menangis seperti itu. Saya jadi berhenti ngomong, dan bilang “Kok Reza nangis, sini peluk Mama….” dan saya peluk Rezanya. Tangisannya makin kencang, tapi nggak lama sih, setelah beberapa saat baru berhenti. Setelah menghapus air matanya, saya tanya “Reza kenapa menangis?” dia jawab “Nggak tahu” saya tanya lagi “Kok nggak tahu tapi nangis?” akhirnya dia bilang “Reza terharu…..” setelah itu Reza diam lagi, masih ngusap2 matanya.

Dalam hati saya mbatin ‘Ya ampun, rupanya tadi dimarahin Mamanya itu dia merasa diperlakukan nggak adil kali ya, dan saat Mamanya akui kalau adiknya memang suka mukul tanpa sebab dia jadi terharu karena Papa Mamanya bisa mengerti juga kalau kadang adiknya suka nyerang begitu…’.

Selesai Mamanya ngomong, gantian Papanya yang bicara. Papanya bilang “Reza, adik itu masih perlu banyak belajar. Reza saat umur sebesar adik gitu sudah paham lebih banyak daripada adik sekarang. Kenapa bisa begitu? Terutama sebabnya adalah karena adik masih belum bisa mengerti betul apa yang diomongin orang kepadanya. Maka dari itu, kita selain bicara, harus banyak kasih contoh sama adik, dengan perlakuan, cara bicara, jadi adik bisa dapat contoh yang baik-baik. Untuk Reza sendiri, kalau Reza bisa ngajarin adik, Reza jadi terbiasa untuk bisa mengajarkan sesuatu kepada orang. Nantinya makin lama Reza akan semakin bisa mengajarkan kepada orang lain, bisa menjelaskan sesuatu kepada orang lain, dengan baik dan benar. Kemampuan mengajar ini bakalan jadi modal penting lho untuk masa depan Reza. Bukan hanya disekolah, juga dimasyarakat luas. Reza mengerti maksud Papa nggak?” Rezanya manggut-manggut. Saya sih nggak heran kalau dia mengerti betul, karena memang kemampuan Reza untuk menyerap keterangan lisan sangat baik. Kalaupun dia nggak mengerti pasti dia langsung tanya balik.

Papanya lanjut lagi bicara “Jadi adik belajar itu nggak cuma disekolah, Reza, nggak cuma sama guru-guru saja, tapi juga belajar sehari-hari dirumah. Belajar sama Papa, Mama dan Reza. Reza mau kan bantu adik belajar?” Reza ngangguk-ngangguk. Papanya lanjut lagi “Selain ngajarin, Reza juga jagain adik, kalau adik melakukan sesuatu yang berbahaya, atau mungkin bisa bikin dia sakit, Reza cepet2 bilang Mama atau mbak, atau kalau bisa Reza yang kasih tahu sendiri” dengar itu, Mamanya langsung laporan sama Papanya “Iya kok, Reza bisa jagain adiknya Papa. Tadi pagi waktu dengar adik mau berkunjung ke lokasi pembangunan Sekolah Tetum Bunaya, Reza langsung mengingatkan Mamanya dg bilang gini: Biasanya kalau ditempat yg lagi belum selesai dibangun banyak debunya, Mama. Adik dibawakan masker ya buat tutup hidungnya selagi berkunjung kesana” Papanya langsung senyum2 dengar laporan itu, Rezanya juga senyum2.

Sesungguhnya Reza memang sayang adik Lukman 😀

2 thoughts on “Reza Nangis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s