India….

Kali ini ceritanya masih tentang rumah sakit.

Bukan karena lagi ‘feeling blue’, tapi ketika menulis posting sebelum ini jadi ingat pengalaman yang tidak terlupakan Reza masih umur 1 tahun 2 bulan dan juga harus dirawat dirumahsakit yg sama.

Waktu itu Reza sakit perut, diare sudah beberapa hari. Maklum, seumur itu Reza masih suka ‘nyicipin’ barang-barang yang bukan makanan. Kadang mainannya dimasukin kemulut, kadang habis pegang ini itu tangannya masuk kemulut. Sudah berobat kedokter, diarenya masih saja sering, lebih dari 8 kali seharinya. Tambahan lagi akhirnya diikuti juga muntah2. Waduh, nggak terkira cemas Mamanya ketika itu. Sampai akhirnya Reza kemudian jadi demam, dan sudah lemas karena nggak masuk makanan maupun minuman keperutnya (langsung dimuntahkan lagi), ya sudah, mau nggak mau dimasukkan kerumahsakit.

Papanya yang lagi dikantor langsung datang kerumah sakit, untuk memastikan Reza akan dapat kamar perawatan. Sebelumnya Papanya sudah dijadwalkan hari itu harus pergi ke Medan dan Surabaya untuk business trip. Waduh bukan main galau hati Papanya, inginnya nggak jauh-jauh dari anak tersayangnya yang sedang sakit, tapi apa boleh buat, jadwal tersebut tidak bisa dibatalkan, karena ada tamu yang datang dari India yang khusus berkunjung untuk meeting di dua kota itu.

Saat itu rumahsakit sangat penuh, kami harus menunggu beberapa jam sebelum bisa dipastikan dapat kamar. Sementara itu Reza yang sudah dipasangi infus cukup rewel karena merasa sangat tidak nyaman, jadi harus digendong terus oleh Mamanya, kalau tidak dia akan menangis. Sementara masih menunggu, Papanya harus pamit pergi kekantor lagi sebelum ke bandara. Rezanya langsung menangis sambil bilang “Jangan pergi Papanya”. Duh langsung deh mengalir air mata Papanya. Kalau Mamanya karena sudah terlalu kawatir dan letih, nggak bisa nangis, kayanya sudah nggak keruan rasanya dihati. Yang ikut nangis malah babysitternya Reza, yang memang perasa orangnya. Dia langsung minta ijin kekamar mandi, dan kembali lagi stelah beberapa menit, dengan mata sembab bekas menangis.

Akhirnya kita dapat kamar juga, dan Reza langsung bisa tidur dengan tenang. Sementara itu om Uki, adik Papanya sudah datang, rupanya Papanya yang masih kepikiran terus minta adik bungsunya itu menemani Mamanya sampai Reza dapat kamar.

Syukurlah keesokan harinya walaupun masih beberapa kali diare, Reza langsung turun demamnya, dan tidak terlalu lemas lagi. Dasar memang dia anak yang penggembira, begitu sudah tidak lemas dia langsung tebar pesona, banyak senyum dan ketawa pada suster2 yang merawat. Mereka pada gemas, dan memuji karena Reza tidak sulit diberi obat. Yang jadi masalah adalah infusnya, karena Reza tidak nyaman dan sering menggerakkan tangannya, sering sekali darahnya masuk kedalam selang infus, dan beberapa kali dimalam hari infusnya harus diperbaiki membuat Reza terbangun karena kesakitan. Hal ini yang bikin Reza cukup trauma dengan jarum suntik. Bahkan setelah pulang dari rumah sakit, tiap jam 02.00 pagi pasti Reza terbangun dan menangis, masih ingat jam saat infusnya dicek suster dipagi buta.

Papanya yang terus jalan dengan skedul business tripnya tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Mr. India heran sekali, dia kenal Papanya sebagai orang yang cukup senang ngobrol, tapi kali ini lebih banyak diamnya. Akhirnya Papanya cerita kalau buah hatinya sedang dirawat dirumahsakit. Mr. India rupanya sangat paham karena dia juga punya anak yang masih kecil. Dari kota Medan, perjalanan disambung ke kota Surabaya. Di kota ini mereka sempat survey ke salahsatu mall, melihat produk yang dijual di supermarket besar di kota itu. Disana Mr. India permisi minta waktu sebentar mau belanja oleh-oleh katanya, dan berjanji untuk bertemu Papanya lagi dihotel. Ternyata bukannya beli oleh-oleh untuk keluarganya, Mr. India belikan mainan untuk Reza, so sweet. Bukan main ya beliau itu, bertemupun belum pernah, tapi bisa berempati sampai menyempatkan membeli mainan tersebut untuk Reza.

Begitulah cerita rumahsakit. Diluar saat melahirkan, memang ceritanya selalu sedih, ada momen kita khawatir, ada momen tegang menunggu membaiknya kondisi, tapi juga momen gembira saat orang yang dicintai membaik kondisinya….

Reza dipelukan Ayang, masih lemas sebelum dirawat

Senangnya Reza, Papanya sudah di Jakarta lagi

Dengan Mak Tuan, mata kecil itu sudah bersinar lagi😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s