~ You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them ~
Ketika pada suatu group orangtua anak berkebutuhan khusus (ABK) yang saya ikuti berdiskusi tentang permasalahan kakak/adik dari sang ABK, saya jadi merenungkan hubungan antara Reza dan Lukman. Tanpa ada kekhususan ABK pun, setiap hubungan kakak-beradik akan selalu ada sibling rivalry, karena sebaik apapun usaha orangtua berlaku adil kepada anak-anaknya, pasti tetap ada rasa jealous kepada saudara, tetap ada persaingan, dan tetap ada perasaan bahwa saudaranya lebih diperhatikan dari dirinya.
Pada keluarga dengan anak autistik, sibling rivalry ini tentunya akan lebih bertambah problemnya. Ada beberapa hal yang menambah rasa cemburu atau memperuncing perselisihan mereka. Yang pertama adalah problem ketika bermain bersama. Di umur balita, anak-anak memang baru belajar untuk berbagi, bergantian ketika main, namun umumnya semakin besar anak-anak mereka sudah ada pengertian bahwa dengan berbagi atau bergiliran main mereka akan lebih bisa menikmati permainan bersama-sama. Tapi untuk anak autistik justru hal ini sangat sulit mereka pelajari, karena memang mereka mengalami gangguan perkembangan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Bagi kita yang sudah dewasa tentu dapat memahami kekhususan tersebut, tapi bagi sesama anak-anak yang belum paham tentunya ini memicu timbulnya perselisihan. Pada umurnya yang sudah 10 tahun saat ini, walaupun sudah cukup paham tentang kondisi spesialnya Lukman, sesekali Reza juga bisa sangat kesal karena adiknya masih belum bisa berbagi ketika main bersama.
Yang kedua biasanya Reza merasa adiknya lebih dikasih hati. Contohnya dalam hal aturan dirumah dan disiplin, Lukman butuh waktu yang lebih panjang untuk dapat diberi pengertian dan mulai mau mematuhi aturan. Jika umur 3 tahun Reza sudah bisa mengerti bahwa jam tidur adalah jam 8 dan itu berarti sudah harus masuk kamar dan berbaring ditempat tidur, bagi Lukman butuh lebih banyak usaha agar ia mau menghentikan kegiatan dan berbaring ditempat tidur, sehingga menjelang umur 6 tahun Lukman baru mengerti aturan tersebut. Contoh lain: pada saat Reza kelas 1 SD dia sudah mulai mandi sendiri. Sementara Lukman sekarang kelas 1 SD masih belum bisa dilepas mandi sendiri, karena masih belum bisa melepaskan kebiasaan ‘main air’ dan tidak selesai-selesai urusan didalam kamar mandi jika sendiri. Banyak lagi hal-hal seperti itu yang membuat Reza jadi protes “Kok adek boleh, kalau Reza nggak boleh?” atau “Adek masih terus dimandiin sampai sekarang, Reza juga mau dong”.
Yang ketiga dan yang paling mengganggu Reza adalah perilaku adiknya yang mudah sekali marah, dan kalau sudah marah suka mencakar, memukul atau menggigit. Apalagi saat adiknya belum lancar bicara, waduh cukup sering ia jadi target kemarahan adiknya, karena Reza juga tipe anak yang jahil, senang menggoda adiknya walaupun tahu adiknya gampang marah. Tapi semakin Lukman lebih lancar bicaranya, semakin berkurang perilaku agresifnya.
Walaupun sering merasa kesal dan marah pada adiknya, Reza tetap mau mengajak Lukman main bersama. Kesal dan marahnya hanya sementara saja dan cepat dilupakan. Kami memang selalu memberikan pengertian dan pemahaman kepada Reza tentang kondisi adiknya, tapi kami juga terus mengajarkan pada Lukman untuk berbagi dan bergantian giliran bermain. Kami juga harus terus mengingat untuk kebutuhan Reza untuk bisa bermain dengan nyaman, tanpa merasa terbebani karena harus terus mengalah.
Banyak hal yang dilakukan Reza justru menjadikannya seperti guru alami untuk adiknya, karena Reza tidak pernah kapok bermain bersama Lukman. Sifat Reza yang senang bicara, walaupun Lukman belum begitu aktif bicara, jadi memancing Lukman untuk mengimbangi percakapan. Lihat saja ketika mereka berpura-pura membuat jus buah di video “Akur”, Lukman jadi terpancing ikut ngobrol sambil bermain.
Lukman juga sering mencontoh kegemaran kakaknya. Kakak Reza senang membaca, Lukman juga tertarik pada buku-buku. Walau awalnya Lukman masih belum pede, namun karena dibacakan dongeng dan terus diajak membaca tanpa dipaksa, Lukman lambat laun mulai pede dan sekarang senang membaca tulisan baik di buku, di sepanjang jalan saat naik mobil, tanpa disuruh. Bukan hanya membaca tulisan, kegemaran Reza membaca peta-pun jadi kegemaran Lukman juga. Ada satu lembar peta dunia ukuran A1 yang selalu Lukman buka untuk dilihat. Dan ini bukan dilakukan Lukman satu atau dua kali saja, tapi berkali-kali, dan tiap hari minimal ada satu kali dibukanya peta itu. Karenanya Lukman sudah tahu betul nama-nama benua, nama beberapa negara, dan kota-kota didunia.
Begitu juga hal-hal yang disukai Reza, Lukman juga mempelajari dan ikut suka jadinya. Contohnya: dinosaurus, yang disukai Reza sejak balita dan memang banyak buku-buku dan mainan dirumah tentang dinosaurus ini. Lukman jadi ikut suka, bahkan ia sekarang lebih ter-obsesi dengan mahluk purba ini. Selain kegemaran pada dinosaurus, Reza suka sekali berkebun. Lukmanpun selalu ikutan saat kakaknya menanam dan merawat tanamannya. Awalnya Lukman suka gemas saat melihat tanaman, dia malah menarik batangnya, memetik daunnya, namun sesudah ia mengerti bahwa tanaman itu mahluk hidup juga Lukman jadi lebih menghargai tanaman. Kegemaran lain adalah main computer. Karena sering memperhatikan kakaknya main, Lukman sangat bisa mengoperasikan computer, mengerti cara connect ke internet, login facebook, searching dengan google, membuat gambar dg program Paint, dan Lukman dapat memainkan games yang saya sendiri tidak terlalu menguasai karena banyaknya instruksi yang harus dipelajari sebelumnya.
Kegemaran Reza yang terakhir -mempelajari sejarah dunia- juga mulai disukai Lukman. Awalnya Lukman tertarik membaca buku komik sejarah milik kakaknya. Rezapun berbaik hati membacakan untuk adiknya. Selain itu dari buku-buku sejarah dunia Lukman juga senang mempelajari tentang manusia purba, tentunya topik yang masih berhubungan dengan binatang-binatang purba favoritnya. Lukman sudah tahu tentang homo sapien, homo erectus dan lain-lain. Yang terakhir yang membuat saya kagum, adalah ketika Reza saya belikan dvd tentang Alexander The Great, tokoh idolanya. Ternyata bukan hanya Reza, tapi Lukman juga menyukai film dokumentar napak tilas jejak kejayaan Alexander dimasa hidupnya. Saat sedang main sendiri, Lukman pernah menyetel dvd Alexander itu, dan dengan serius menontonnya.
Dari cerita diatas, bisa disimpulkan bahwa hubungan Reza dan Lukman cukup mesra seperti layaknya kakak adek pada umumnya, tapi ini bukan hal yang tidak mudah pencapaiannya. Kami harus selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanya memperhatikan Lukman saja. Rezapun juga punya masalah-masalahnya sendiri dan sudah pasti sering stres karena harus banyak mengalah, dan pada saat-saat tertentu perhatian dari kami lebih terfokus pada Lukman. Karena itu kami selalu mengajak Reza diskusi untuk lebih memahami kondisi Lukman, berbagi ilmu agar Reza juga makin memahami tentang autisme. Syukurlah pada dasarnya Reza punya rasa ingin tahu yang tinggi dan mau mempelajarinya. Kamipun juga selalu mengingatkan diri sendiri akan kebutuhan Reza untuk diperhatikan, merasa diistimewakan oleh Papa dan Mamanya. Baik Reza maupun Lukman punya waktu-waktu khusus dimana salah satu dari mereka pergi dengan salah satu dari kami, menikmati waktu berdua saja untuk hal yang disukainya. Misalnya Lukman paling suka diajak ketoko buku. Kalau Reza paling suka ikut acara-acara dimana memang tempat dan situasinya tidak nyaman untuk Lukman sehingga adiknya tidak ikut dan tinggal dirumah, dan Reza merasa itu adalah ‘me time’nya tanpa adik untuk beberapa waktu
Dengan perhatian khusus seperti itu biasanya persaingan mereka untuk mendapat perhatian juga lebih menipis.
Selain itu, seperti banyak hal lain, anak memang belajar dengan meniru orangtuanya. Kalau Reza melihat sendiri bagaimana Papa dan Mamanya bersikap baik dan mendidik pada adiknya, tentu ini akan menular pada sikapnya pula. Kalau Reza merasa bahwa Papa dan Mamanya menerima kondisi Lukman seperti apa adanya, tidak merasa malu atau harus menutup-nutupi kondisi spesialnya, Rezapun juga akan punya sikap yang sama. Hal ini sudah teruji ketika saya membuat tulisan “Adikku Autis Dan Aku Sayang Dia” yang dibagikan dalam bulletin sekolah kepada seluruh murid sekolah Reza. Sebelum membuat tulisan itupun saya diskusi dengan Reza, menanyakan pendapatnya apakah dia nyaman kalau saya menulis tentang kondisi autisnya Lukman. Reza dengan santai jawab “Nggak apa-apa” dan tetap menjawab “Nggak apa-apa” walaupun saya ungkapkan kemungkinan-kemungkinan tanggapan yang akan diterimanya sesudah tulisan itu keluar. Sehari sesudah keluarnya bulletin itu Reza pulang sekolah cerita ke saya ada temannya yang bilang “Kok tega banget sih ibu kamu kasih tahu kalo adekmu autis? Kok tega dibilang-bilangin ke orang-orang”. Reza bilang “Ya ibuku kan ngasih tahu, kalo nggak tahu ya ndeso! (pakai gaya Tukul Arwana)”. Saya jadi senyum-senyum mendengarnya. Lalu saya tanya “Ada lagi nggak yang komentar lain lagi tentang tulisan Mama itu?” Reza bilang ada yang mentertawakan, bilang “Autis hahaha…. Autis hahaha…”. Terus Reza gimana jawabnya? Dengan polos dia bilang “Reza jewer aja kupingnya, terus berhenti deh ketawanya temen yang itu”.
Video Reza dan Lukman:
Main Anggar | Akur | Main Sama Kakak | Abang Becak Cilik | Reza Sayang Lukman (Interview FeMale Radio)
Cerita-cerita mengenai hubungan Reza dan Lukman:
Autis Itu Apa Sih, Mama? | Sibling Rivalry | Adekku Sayang | Reza Iri | Sedang Akur… | Reza’s Concern | Sweet Dreams | Reza Nangis | Curhat Colongan | Video Akur | A Sad Week | Roti Lapis | Sedang Akur 2 | The Morning Episode | Isi Hati Lukman | Kejutan Lukman | Obrolan Reza Tentang Lukman | Adikku Autis dan Aku Sayang Dia | Kok Tega Sih










