Setelah membaca tulisan-tulisan di blog ini, umumnya pembaca bertanya kepada saya: Lukman di diagnosa autis setelah melalui proses seperti apa? Karena jawabannya akan panjang sekali, saya membuat halaman khusus ini untuk menceritakan kembali prosesnya, semoga cerita ini bermanfaat…
My Second Son Slideshow: http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-00fb-85d0-40ee?lb
Perkembangan Lukman
Perkembangan Lukman dari bayi (lahir 14 Maret 2005 dengan berat 3,3 kg panjang 50 cm) cukup baik. Lukman melewati semua tahap perkembangan fisik dengan baik. Lukman melewati tahapan berguling, telungkup, merangkak, dan Lukman mulai berjalan pada umur 11 bulan. Motorik halus maupun kasarnya cukup baik. Karena saat itu saya masih bekerja dari hari Senin s/d Jumat, sehari-hari Lukman diasuh babysitter. Kami mulai sadari kurang bicaranya Lukman saat umurnya 1.5 tahun. Saya berlangganan buletin babycenter, dimana tiap bulan saya dikirimi info tahapan perkembangan anak, jadi saya bisa mengukur apakah perkembangan Lukman sudah sewajarnya atau ada hal-hal yang perlu diwaspadai. Dari buletin itu saya memang dapat menilai bahwa Lukman agak terlambat kemampuan bahasanya. Ada sih babbling, ada mengeluarkan suara-suara, tapi memang Lukman cenderung lebih pendiam dibandingkan kakak Reza. Saat diayun-ayun semasa masih bayi, biasanya kalau Reza sudah ketawa cekikikan, kalau Lukman hanya nyengir lebaaar banget dan tidak bersuara.
Karena berpikir tiap anak berbeda karakternya, dan karena selain masalah bahasa itu Lukman perkembangannya normal kami masih tenang saja. Walaupun begitu saya mulai tanya-tanya kepada beberapa teman yang berprofesi psikolog dan mereka mengatakan untuk melihat saja dulu perkembangan bicaranya Lukman sampai sekitar 2 tahun. Nah karena sampai HUT kedua Lukman masih belum banyak perkembangan bicaranya, saya mulai lebih intensif mencari info tentang perkembangan wicara, dan setelah pilah-pilih akhirnya membawa Lukman ke salah satu klinik tumbuh kembang tahun di tahun 2007.
Pemeriksaan Klinik Pertama: Mei 2007 (Umur 2 tahun 2 bulan)
Saat itu Lukman diobservasi oleh 2 orang sekaligus: dokter spesialis neurologi anak dan seorang psikolog. Setelah observasi (Lukman main sendiri, Lukman ditanya, Lukman disuruh main puzzle) dan juga menginterview kami berdua, kesimpulan mereka Lukman tidak ada kelainan: intelegensi normal, motorik bagus, tapi terlambat bicara (speech delayed) sepertinya Lukman kurang distimulasi untuk bicaranya. Kami juga ditanyai tentang kakak Reza, dan mereka kami beritahu kalau kakaknya justru kemampuan bicaranya justru diatas rata-rata anak seusianya. Menurut mereka, kemampuan bicara itu memang ada yang modalnya sudah lebih sehingga dengan sedikit stimulasi bisa berkembang dengan baik. Tapi ada juga anak yang modalnya kurang dan perlu banyak stimulasi untuk bisa berkembang kemampuan bicaranya dengan baik. Kemudian bu dokter berikan resep racikan vitamin utk perkembangan otaknya dan kami diminta untuk mulai terapi utk Lukman: terapi wicara dan terapi okupasi. Untuk rencana kami memasukkan Lukman ke playgroup disemester ganjil 2007 tidak didukung oleh mereka karena dikawatirkan Lukman malah frustasi, sehubungan dengan belum bisa bicaranya itu.
Untuk resep racikan akhirnya kami putuskan tidak diberikan kepada Lukman. Sedangkan untuk terapi, kami langsung daftarkan Lukman ikut terapi di klinik tersebut. Periode awal terapi ini berat sekali utk kami, karena kami sangat concern dengan ‘happy atau tidak’nya Lukman ditempat terapi. Kami sangat melindungi Lukman, jangan sampai dia trauma dan malahan jadi tidak mau terapi sama sekali. Beberapa kali terapi tidak berjalan sukses, apakah itu karena Lukman mengantuk karena tidak tidur siang, atau karena terapis yang modelnya ‘keras’ sehingga jangankan mau belajar Lukman malahan menangis kencang.
Pertama kali melihat Lukman diterapi, saya sampai tidak bisa tidur malamnya, karena merasa kasihan sekali, anak umur 2 th 3 bulan dipaksa duduk manis, dan diminta menirukan kata-kata yg diucapkan dengan suara keras oleh terapisnya. Terus terang walaupun terapisnya sudah sangat berpengalaman, saya tidak setuju dengan cara ini, dan saya pikir mustinya terapis untuk anak sekecil itu modelnya seperti guru playgroup dan guru TK, bisa membujuk anak ‘belajar’ tanpa anak harus menangis karena dipaksa. Apalagi waktu di klinik tersebut setelah 2 kali terapi ortu dilarang ikut masuk kedalam ruang terapi, karena takut anaknya jadi tidak konsentrasi kalau ortunya didalam ruangan. Saya jadi mempertanyakan benarkah keputusan kami untuk mengikutkan Lukman terapi di klinik dengan cara seperti itu, karena kami tidak punya pengalaman sebelumnya.
Akhirnya saya mulai cari-cari terapis yang lain, terutama mencari yang bisa datang kerumah. Saat Lukman baru mulai terapi, 2 kali seminggu, hari Rabu dan hari Jumat (karena jadwal di klinik tersebut sangat penuh) saya terpaksa ijin dari kantor untuk hanya masuk setengah hari. Hal ini karena saya sendiri yang mengantar dan menunggui Lukman di klinik. Syukurlah atasan saya waktu itu dapat memahami pentingnya tindakan untuk Lukman, dan memberikan ijin dengan catatan pekerjaan tidak boleh ada yang tertunda karenanya. Dari kantor kerumah makan waktu perjalanan 1 jam 15 menit. Dari rumah ke klinik 1 jam, dan pulangnya kami singgah dulu ke Blok M, untuk bertemu Papanya Lukman dan pulang bersama saat sudah cukup malam.
Saya pikir kalau kami bisa mendapat terapis yang datang kerumah Lukman tidak capek mundar-mandir ke klinik, tidak terganggu jadwal makan dan istirahatnya, dan bisa lebih nyaman karena dirumah sendiri. Akhirnya sesudah 1,5 bulan terapi diklinik itu kami bertemu dengan Ibu Yanti dan rekannya, yang bisa memberikan terapi dirumah. Syukurlah kedua orang terapis ini (bergantian hari Senin dan Jumat) tipe pengajar yang sabar sekali , mengajari Lukman dengan tahapan yang nyaman baginya, dan tidak perhitungan dengan waktu terapi. Walaupun satu session hitungannya 1 jam, asalkan Lukman masih mau terus ya mereka teruskan, bisa sampai 1,5 jam.
Kata Pertama
Setelah 3 minggu diterapi dirumah, tanggal 20 Juli 2007 pada umur 2 tahun 3 bulan Lukman bisa bilang “Mama” utk pertama kalinya
. Hari itu saya dan suami bisa cepat pulang ke rumah, sekitar jam 18.00 sudah sampai. Terapisnya Ibu Yanti, masih dikamar belajar, walaupun sudah selesai belajar masih menulis dibuku laporannya. Waktu kita masuk kekamar itu, Lukman sedang asik main peluit, jadi tidak sadar kita masuk kamar. Ibu Yanti-nya bertanya pada Lukman: “Wah siapa tuh yang sudah pulang, Lukman?” Begitu lihat saya, Lukman langsung ngomong “Mama!” Waaah saya senengnya minta ampun.
Sejak saat itu mulai cukup banyak kemajuan bicaranya Lukman. Lukman sudah bisa bilang Papa, Mama, kakak Eza, dan nama semua anggota keluarga dirumah. Untuk bilang Papa, Lukman awalnya bilang Ha Ha, krn utk Lukman sulit sekali mengucap P, B, dan M tapi sejak awal tahun 2008 sudah bisa bilang Papa. Lukman sudah kenal dan ucapkan nama-nama binatang, bentuk geometris (hati, bintang, bulat) juga sudah bisa komentar “mmm, enak” “makasi” “misiii” (permisi) atau “bagus”. Lukman sudah bisa menghitung 1-10 walaupun pengucapannya belum sempurna, tapi sudah kenal angka-angka. Dan karena sering nonton vcd seri Barney, seri Brainy Baby, atau seri First Impression, Lukman juga bisa hitung 1-10 dlm bhs Inggris. Kalau nonton vcd lagu anak-anak, Lukman ikutan menari, meloncat-loncat.
Melihat perkembangannya itu saya dan suami mantap mau masukkan Lukman ke playgroup di Sekolah Tetum pada awal Maret 2008 (saat berumur 3 tahun). Sekolah ini sudah kami kenal sangat baik, karena kakak Lukman, Reza, bersekolah playgroup dan TK disana. Kami sangat senang dengan metode pengajarannya, dan hasilnya memang Reza jadi anak yang mandiri dan bakatnya bisa terungkap saat bersekolah disana. Selain itu Sekolah Tetum tidak membeda-bedakan anak, baik yang ‘normal’ maupun berkebutuhan khusus diterima dengan penuh perhatian disekolah itu. Karenanya kami tidak ragu menyekolahkan Lukman disana.
Sebelum masuk sekolah, kami sudah jelaskan kesulitan komunikasinya Lukman kepada Ibu Endah W Soekarsono, kepala Sekolah Tetum, dan beliau tetap mau menerima Lukman menjadi muridnya, bahkan seterusnya sangat mendukung dengan selalu memberikan informasi perkembangan Lukman secara detail disekolah dan juga memberikan masukan kepada kami.
Pemeriksaan Psikolog 26 April 2008 (Umur 3 tahun 1 bulan)
Setelah sebulan Lukman sekolah di playgroup Sekolah Tetum Ibu Endah minta kami memeriksakan Lukman kembali ke psikolog, untuk rekomendasi bagaimana melakukan treatment pendidikan terbaik untuk Lukman. Kami bawa Lukman ke Klinik Kancil, untuk bertemu Ibu Alzena N Masykouri (ANM) yang memang menjadi konsultan psikologi untuk Sekolah Tetum. Saat itu pertamanya saya dan suami berbincang-bincang dulu dg ANM sekitar 30 menit, tidak terlalu lama karena saya sudah email cerita perkembangannya Lukman. Jadi ANM cuma menambahkan beberapa pertanyaan utk melengkapi info yang sudah kami tulis di form pasien, seperti penyakit yang pernah diderita Lukman, kebiasaan makannya sekarang, bagaimana Lukman bermain dirumah, dan apa kesulitan yg dihadapi disekolah. Kemudian ANM ajak Lukman (berdua saja) masuk keruangan lain. Lukman pede saja masuk kesana, mungkin senang dengan situasi ruangan klinik tersebut sehingga tdk ragu masuk berdua saja dengan orang yang baru dikenalnya. Kami menunggu diluar, sekitar 30 menit lamanya. Setelah keluar dari ruangan itu ANM bicara lagi dg kami, menceritakan apa yang dilakukan Lukman diruangan lain tersebut.
Saat baru masuk Lukman berkeliling, explore ruangan itu. Berbagai macam isi didalam ruangan diperhatikan, sampai Lukman melihat ada bak pasir. Langsung Lukman bermain pasir, tuang dari satu tempat ke tempat lain, asyik sekali. Saat ANM coba memanggil, Lukman tidak menengok. Demikian juga saat dicoba diganggu, tidak ada respon, untuk melihat siapa sih yang mengganggu. Kalaupun Lukman menengok, yang dilihatnya ‘apa yg mengganggu’ bukannya ‘siapa yang mengganggu’. Saat ANM menggosokkan pasir ke tangannya, Lukman cuma melihat ketangan ANM, dan meneruskan mainnya lagi. Lukman tidak berusaha menghilangkan pasir yg menempel ditangannya itu.
Sudah selesai main pasir, Lukman diajak cuci tangan di keran. Awalnya air terasa dingin, kemudian berubah menjadi hangat. Pada saat suhu airnya berubah, Lukman tidak kelihatan berreaksi. Habis cuci tangan, Lukman diajak menggambar, menggunakan white board. Tapi saat melihat kaleng tempat spidol, Lukman ambil kaleng itu dan kembali ke bak pasir, main pasir lagi. Bisa dibilang selama 30 menit itu tidak ada kontak mata Lukman dengan ANM. Kalaupun ada cuma sebentar, satu kali, dan itupun sekilas saja. Dan saat main pasir, mukanya tekun, serius, tidak terlihat perasaan senang, hanya serius. Ada kecenderungan untuk mengulang-ulang yang dilakukan, tidak keluar suara sedikitpun, hanya sekali bilang “Ah”.
Semua ini membuat ANM mengambil kesimpulan bahwa Lukman termasuk anak dengan autisme ringan. Saya sendiri tidak terlalu kaget, karena kecurigaan kearah situ selalu ada. Tapi karena banyak kriteria anak autis yg tidak cocok utk Lukman, contohnya: anak autis sering tantrum sedangkan Lukman tdk begitu, anak autis menghindar kalau dipeluk kalau Lukman malahan suka meluk/dipeluk, anak autis tidak ada kontak mata sedangkan Lukman menurut saya cukup kontak matanya, anak autis suka berputer-puter/flapping sedangkan Lukman tidak begitu, jadi saya pikir bukan autis penyebab Lukman belum bicara. Kalau suami saya memang cukup shock, mungkin salah saya juga karena tidak pernah sharing soal kecurigaan kearah autis, namun syukurnya suami saya tipe yang sangat care dengan anak-anaknya, apapun yang harus dijalankan apabila itu yang terbaik untuk mereka pasti didukungnya, 100%. Suami saya selalu mendukung baik secara moril maupun financial. Ini yang saya sangat syukuri, jadi kami bisa langsung melakukan apa yang terbaik untuk Lukman, tanpa harus beradu argumentasi.
Karena itu kami tanyakan ke ANM apa yg baiknya dilakukan untuk Lukman seterusnya? ANM menganjurkan tetap lanjutkan terapi wicara, karena sudah kelihatan hasilnya positif. Selain itu Lukman dianjurkan juga untuk terapi sensori intergrasi (SI). Karena kami bisa menerima penjelasannya, langsung kami daftarkan Lukman utk ikuti terapi SI di klinik Kancil tersebut. Selain itu ANM juga menganjurkan agar kami lebih banyak memberi stimulasi dirumah. Kami harus sangat memperhatikan cara pengasuhan sehari-hari karena akan sangat mempengaruhi keberhasilan dari terapi-terapi tersebut. Saat mendengar rencana saya yang akan berhenti bekerja, ANM kelihatan sangat lega, karena sebetulnya beliau ingin menyarankan hal tersebut. Saat itu memang perusahaan tempat saya bekerja akan diambil alih kepemilikannya oleh investor baru, dan semua karyawan memang akan di PHK oleh owner lama dan kemudian dipekerjakan kembali oleh owner baru. Karena adanya perkembangan Lukman seperti ini, saya sudah berniat akan berhenti kerja, tidak lanjut melamar kembali kepada owner baru.
Pertanyaan kami yang lain adalah mengenai diet. Sering kami mendengar bahwa anak autis perlu menjalani diet CFGF, dan bahkan ada yang perlu makan obat rutin. ANM menjelaskan bahwa umumnya anak autis yang perlu menjalani pengobatan dan juga diet adalah anak autis yang hiperaktif, yang selalu bergerak, sehingga perlu penenang atau menghindari makanan/minuman yang menimbulkan hiperaktifitasnya itu. Sedangkan Lukman malah cenderung pasif, sehingga tidak menjalani diet maupun makan obat.
Terapi SI Pertama
Hari Sabtu tanggal 3 Mei 2008, Lukman mulai terapi SI-nya. Karena baru pertama ketemu dg terapisnya, ibu itu bilang mau observasi Lukman dulu, jadi Lukman masuk ruangan terapi tanpa kita temani. Lagi-lagi Lukman pede banget, masuk ruangan tanpa ditemani Papa/Mamanya dengan terapis yg baru dikenal tidak masalah untuknya. Setengah jam di observasi, kita kemudian dipanggil terapisnya tersebut, dan diinterview. Dia tanyakan, apa sih sebetulnya keluhan untuk Lukman. Saya katakan keluhannya adalah komunikasinya yg masih kurang sekali. Walaupun sudah setahun terapi wicara, dan sudah banyak kosakatanya, Lukman masih ‘cuek’ kalau dipanggil, masih tidak menjawab kalau ditanya. Ibu terapis itu kemudian bicarakan hasil observasinya. Menurutnya kontak mata Lukman ada, walaupun mudah beralih. Lukman pandai menirukan, dan menurut terapis itu kemampuan ini aset utk perkembangan bahasanya. Pendengaran Lukman cukup baik. Walaupun atensinya kurang, konsentrasinya bagus, jadi Lukman mau dan bisa menyelesaikan semua tugas yang diberikan sampai selesai. Motorik halus dan kasarnya baik. Yang kurang adalah perencanaan gerak, sehingga sepertinya Lukman kurang tahu resiko gerakannya (misalnya kalau melangkah kearah situ Lukman bisa jatuh, dsb). Jadi menurut ibu terapis Lukman tidak seperti anak autistik. Hanya ada gangguan komunikasi, dan kalau lihat dari observasi pertamanya ini mudah-mudahan cepat dapat diatasi.
Saat itu kami cukup lega mendengar kesimpulannya ini. Pendapat terapis di klinik Kancil tersebut sesuai dengan pendapat ibu Yanti terapis wicaranya Lukman dirumah. Ibu Yanti juga bekerja diklinik tumbuh kembang dimana banyak kliennya anak autistik. Beliau ini pun katakan Lukman hanya speech delay, terlambat bicara saja. Apalagi saat kami bicara dg bu Yanti, Lukman manja-manja sama Papanya. Pegang-pegang jenggot, memeluk, pokoknya manja-manja banget. Ibu Yanti sampai bilang, “Anak autis nggak bisa seperti itu lho Bu, manja-manja begitu tidak ada dikamusnya anak autis”. Walaupun begitu, kami kemudian terus mencari tahu tentang autisme, mengikuti seminar-seminar tentang itu, dan banyak sharing dengan orangtua dari anak autistik. Kami bahkan sempat mencari second opinion, dengan konsultasi ke Dr. Hardiono Pusponegoro SpAK, seorang dokter ahli syaraf anak yang sangat dikenal sebagai salah satu pakar autisme di Indonesia. Lihat posting Lukman ke Dr. Hardiono. Beliau ini mengatakan Lukman bukan autis melainkan PDD NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified). Namun apa yang telah kami lakukan untuk Lukman beliau katakan sudah tepat: terus di stimulasi dirumah, terapi wicara, terapi SI, dan belajar bersosialisasi disekolah. Setelah itu kami tidak mau berlama-lama bingung dengan apa ‘label’nya kekhususan Lukman, mau autis kah, mau PDD NOS kah, yang penting treatment yang dianjurkan kedua ahli, ANM dan Dr. Hardiono, sama saja. Jadi kami teruskan terapi-terapi itu, dan tetap menstimulasi Lukman dirumah.
Setelah Berhenti Bekerja & Kesimpulan Mengenai Autisme
Saya mulai berhenti bekerja pada bulan September 2008. Rasanya lega bisa meninggalkan pekerjaan pada saat yang tepat, dan memulai kebiasaan-kebiasaan baru dirumah. Kebetulan saat itu habis lebaran, dan babysitter yang biasa mengurus anak-anak setelah mudik berlebaran saya minta untuk mencari pekerjaan ditempat lain saja, karena mulai saat itu saya yang akan mengurus sendiri anak-anak. Dengan begitu, saya bisa mengajak main Lukman setiap hari, mengajarkan hal-hal baru sambil bermain, dan lebih mendisiplinkan kebiasaan-kebiasaan anak-anak sehari-hari dan bisa sepuasnya memanfaatkan waktu untuk mempelajari tentang tentang autisme.
Semakin lama belajar, semakin saya mengerti bahwa memang tidak mudah untuk menegakkan diagnosa autis. Ada berbagai kriteria seperti: keterlambatan/abnormalitas pada ketrampilan berkomunikasi, bersosialisasi, dan berimajinasi. Kemudian ada daftar yg disebut criteria DSM IV. Tentunya yang dapat memberikan diagnosa memang harus ahli dalam bidang ini. Sulitnya autis itu sangat bervariasi gejalanya pada masing-masing anak. Ada yg sangat parah: memang asik dengan dunianya sendiri, tidak bicara sama sekali, tidak mau menatap mata orang lain, seperti tidak butuh dunia luar. Tapi ada juga yang high functioning: bisa berkomunikasi, mampu mengurus diri sendiri, bahkan sampai bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Terus terang makan waktu yang cukup lama sebelum saya yakin bahwa Lukman itu autis, bukan hanya terganggu kemampuan komunikasinya. Keyakinan itu saya dapatkan karena selalu mencari tahu dengan membaca berbagai buku, mengikuti berbagai workshop/seminar, sharing dengan banyak narasumber, dan juga mengalami hal-hal yang menunjukkan kecocokan perilaku Lukman dg perilaku anak autis.
Saya bersyukur sepanjang perjalanan itu hingga sekarang saya mendapat banyak dukungan, baik support dari suami, keluarga, terapis, sekolah, juga teman-teman, bahkan dari para pakar dan teman-teman baru yang saya kenal dikomunitas orangtua anak autis sehingga menambah semangat untuk terus melakukan yang terbaik untuk Lukman.
Perkembangan Lukman Sampai 2010
Dari sisi perkembangan bahasa:
2th 2bln: hampir tidak ada kata bermakna
2th 4bln: mengucapkan kata pertama “Mama”
2th 7bln: semakin banyak kata, walaupun masih banyak yang belum terlalu jelas, contoh: pensil -> ensi, balon -> aon, bola: oa, tivi: hihi, jaket: jasjes
3th 9bln: sudah bisa meminta dengan kalimat yang benar (di prompt) “Mama, Lukman mau buku”
4th: sudah bisa bilang “Nggak” saat menolak sesuatu, bisa mengeluarkan kalimat permintaan tanpa prompt “Mama tolong pasang Tupi ya Ping-ping”
4 – 5th: sudah bisa ‘nyeletuk’, bisa menambahi dengan kata “ya ampun…”, bisa menambahi kalimat dengan kata “dan”, bisa bertanya (bukan untuk kepentingannya: bukan untuk minta makan/minum, bukan untuk dibacakan/diambilkan sesuatu) : “Hey Mama kemana?” atau bertanya utk minta ijin “Boleh?”, banyak kalimat baru yg diucapkan spontan
5th: mulai bisa bicara dengan aksen, tidak hanya bicara dg bahasa yang ‘baku’. Mulai bisa bicara tanya jawab berkesinambungan (“tek-tok”). Senang mengajak bicara orang yg baru dikenal (walaupun masih sering membingungkan bicaranya). Dan: sudah bisa protes!
Perkembangan kognitif
Alhamdulillah kemampuan kognitif Lukman cukup baik, ia mampu mengikuti ‘pelajaran’ diTK reguler, sudah bisa mengeja, menulis, berhitung sesuai usianya, bahkan ia unggul dalam mempelajari computer. Lukman sudah bisa mengoperasikan computer, mengerti cara connect ke internet, login facebook, searching dengan google, membuat gambar dg program Paint, dan tanpa penjelasan apa2 hanya dengan melihat kakak Reza main Lukman dapat memainkan games Marine Park Empire yang saya sendiri tidak terlalu bisa karena banyaknya instruksi yg harus dipelajari sblmnya.
Perkembangan sosial dan emosi
Kalau saat di playgroup Lukman lebih banyak diluar kelas, lebih nyaman berada dihalaman sekolah, saat naik ke TK A Lukman mulai dilatih untuk ikut masuk kedalam kelas. Alhamdulillah hanya dalam waktu yang cukup singkat, Lukman akhirnya bisa mau masuk kedalam kelas, mau ikuti kegiatan, dan mulai nyaman bermain bersama. Kalau sesekali ia memisahkan diri dari kelompok, tanpa disuruh ia akan kembali lagi begitu kegiatan kelompok akan dimulai. Kondisi Lukman disekolah up ‘n down, kadang bagus dalam artian dia dapat mengikuti kegiatan, mau patuhi aturan, namun bisa juga kondisinya turun jadi dia hanya mau kerjakan yang dimaunya, dan sering menyendiri. Kondisi turun seperti itu biasanya karena sedang tidak enak badan, sehingga saya berhati-hati sekali menjaga agar Lukman tidak sampai jatuh sakit.
Kemandirian
Lukman sudah bisa kekamar mandi kalau mau BAK dan BAB, walaupun harus dibantu kalau cebok habis BAB. Lukman sudah bisa gosok gigi sendiri, tapi masih dimandikan. Lukman bisa makan sendiri, bisa meres jeruk sendiri, dan pakai/buka sepatu sendiri. Lukman bisa menaruh barang2 pada tempatnya, dan juga bisa menjaga barangnya (kalau kesekolah bawa topi, bawa barang, sebelum masuk mobil utk pulang pasti di’absen’ dulu barang2nya ada atau tidak).
Posting yang berhubungan: Autis itu apa sih Mama? Cerita Bicaranya Lukman Kids’ Talk Lukman: Sebuah Potret Dalam Paradigma Pertumbuhan Adekku Sayang Terapi 4 September 2009 Gestures Kalimatnya Lukman Pesiapan Ke Taman Safari Lukman dan Baju Seragamnya (Lagi) Aku Sahabat Anak Spesial Liburan & Perkembangan Lukman Cerita Barunya Lukman Kau Sedih Ya? Lukman Nonton Lagi Lukman Membaca, Lukman Mengetik Kenapa?
Cerita-cerita Lukman di Sekolah Dasar:



















Salam kenal mba Rosa,
Cerita Lukman di atas, hampir sama dgn putra ke2 saya, Fatih (2thn 5bln) yg sampai skrg blm bisa bicara (speech delay), dan baru menjalani 3x terapi wicara di sebuah klinik tumbuh kembang di dareah cibubur…Cerita mba Rosa inspiring banget…jadi pengen share dan nanya2 tentang pola asuh yg tepat buat anak spt Fatih dan Lukman…add saya di fb mba, please…Makasih sblmnya…^^
Salam kenal untuk bu Erna, senang bisa berbagi, memang tujuan saya menceritakan disini adalah juga agar dapat menyemangati ortu anak berkebutuhan khusus lainnya. Untuk menangani anak-anak kita memang membutuhkan banyak kesabaran dan konsistensi penanganan. Silahkan jika ingin berteman di fb, saya tunggu ya Bu…
Salam kenal Mbak. cerita Mbak juga mirip dengan cerita anak saya, Alif. Hampir 2 tahun, anak saya belum mengucapkan kata apapun juga, tapi cering berceloteh. Waktu diajak ke dokter KTK (1 tahun 11 bulan), diagnosanya juga autisme ringan, bahkan mereka mendiagnosa bahwa anak saya selain telat berbicara juga tidak fokus bila mengerjakan sesuatu. Sebelum ke Terapi Wicara, Alif disuruh ke Terapi apaa gitu yg mengajarkan untuk fokus. Hal ini membuat saya shock ditambah dengan caranya yang melayaninya yang tidak menyenangkan membuat saya ogah kesana lagi. Saya pun mengambil cara sendiri karena saya rasa anak saya tidak separah yg didiagnosa dokter KTK. Saya masukkan Alif ke Playgroup Kinderfield. Walo awalnya dia nangis, tapi ternyata Alif tidak trauma. Dia lumayan senang berteman disana dan menyenangi kegiatannya. Perlahan2 Alif mulai mengucapkan kata pertamanya dengan sangat jelas, “Ayah”, waktu umur 2 tahun 2 minggu. Memang sih untuk “Ibu” masih “Abu” :p. Sudah bisa bilang “air” dan “udah”. Bermainpun Alif menjadi lebih fokus. Sekarang semua anak mau ditegornya. Kesimpulannya, saya rasa menjalani terapi di dokter KTK memang bagus, tapi mencoba playgroup dulu juga tidak ada salahnya. Oleh psikolog anak di playgroup itu, anak saya dianggap normal2 saja. Maaf ya kalo kepanjangan, hanya sekedar sharing
Senang berkenalan dengan mbak Febrie
Biasanya perasaan Ibu itu nggak pernah salah. Walaupun kita berhadapan dengan ahli, namun beliau itu kan cuma beberapa kali ya ketemu anak kita, sedangkan kita setiap hari mengasuh dan memantau perkembangan anak kita.
Karena itu setiap ada masukan dari ahli, kita juga harus pertimbangkan, harus kita pelajari juga hal2 yang diinformasikan beliau kepada kita. Jadi kita nggak ‘buta’ dan melepaskan keputusan kepada ahli saja.
Tetap semangat ya Mama Alif, terus berikan stimulasi, kelihatannya Alif perkembangannya sangat baik
Alhamdulillaah…
Saya turut senang dengan perkembangan Lukman…
Sudah lama saya ga komen di sini, Mbak Rosa…
Semoga Reza dan Lukman tumbuh dengan baik, menjadi anak-anak baik…
Salam saya, Mbak…
Terimakasih untuk doanya, senang sekali dimampiri kembali, apa kabar mama Ray?
Ray sudah mulai sekolah ya… makin pinter pastinya…
Semoga mama Ray sekeluarga sehat2 saja, dan tetap semangat ya
Salam kenal Mbak Rosa, saja juga pengen ikutan sharing niy..Lukman dan Andra (anak saya, skrg 7 thn, kls 1 SD). Ada sedikit kemiripan. Tp menurut saya, Lukman jauh lebih baik.Kontak mata Lukman bagus, sementara Andra kurang.Lukman sdh bisa mengucapkan kata”boleh?” untuk minta izin sesuatu, sementara andra belum. Terkdng, andra cuma menatap lama mata saya utk “isyarat minta ijin’ (ketika mo main ke rmh tetangga sebelah). Andai sy tak bereaksi, tidak melarang hanya tersenyum, Andra langsung kabur. ha..ha.. Andra jg paling suka dipeluk, dicium dan bermanja2 dg saya. Andra baru di terapi wicara secara intensif ketika berumur 3 thn 11 bulan. Ketika kami sudah menetap di Lampung (suami pindah tugas). Agak sedikit terlambat ya..Sebelumnya, kami tinggal di Aceh. sebuah kota yg minim dgn fasilitas terapi utk anak Autis. Bahkan, pada waktu itu, sama sekali gak ada.(entah sekarang ya…?). Andra baru bisa mengucapkan kata “SUSU” ketika pas berumur 4 thn. itu jg setelah mati2an dia menangis dan menarik tangan saya utk membuatkan susu-nya, tp saya bertahan dengan membujuk dia agar mau mengucapkan kata2 SUSU. tnyata, berhasil…ha..ha..Ada banyak sekali perkembangan stlh di terapi walo belum bisa memuaskan hati saya sbg ortu. Tp..kita mmg hrs byk2 bsabar ya bu…Kosa kata-nya sudah byk, sudah bisa menulis, berhitung, dan mgk sbgn kata-kata di dalam kamus bhs inggris dia hapal. Komputernya jg bagus. sama spt Lukman. tidak diajari.Sptnya ilmu itu diperoleh dari membaca buku di perpusakaan sekolahnya (Andra hobi baca buku).Akan tetapi, komunikasi 2 arahnya masih kurang. dia hanya mau bicara, kalau dia ada maunya..itu jg pake bhs yg sepatah2. Hanya sy yg tau bu…ha..ha..Tp, sy sdh bersyukur sekali dengan perkembangan Andra sekarang, apabila dibandingkan 3 thn yg lalu…..Mdh2an, tiap tahunnya ada perkembangan…Salam ibu Rosa, lain kali sy curhat lg ya…salam utk Lukman kecilnya…
Senang sekali bisa berkenalan dg Ibu Deski
Tidak banyak ibu dari anak spesial yang bisa bercerita dengan nada yang riang seperti ibu, sayang disini nggak ada jempol utk kasih tanda ‘I like this’ hehehe, jadi saya tulis saja: jempol untuk Ibu Deski!
Memang kondisi tiap anak spesial berbeda-beda ya Bu, kalau Lukman memang kontak matanya baik, tapi saya lihat Andra tanpa menatap matapun komunikasinya cukup baik ya, apalagi sudah bisa membaca dan menulis, waahh hebat sekali karena sampai sekarang Lukman masih suka kabuuurr kalau diajak membaca dan menulis. Padahal kalau main komputer, googling hal2 favoritnya, dia sudah bisa mengenali kata/sight words. Tapi ya itu, masih kabur2an kalau diajak membaca/menulis.
Saya ingin tahu tentang bagaimana Andra disekolah, kalau boleh kita berteman difacebook ya bu, saya sudah request friend disana.
Salam….
Tentu…, tentu…, bu Rosa!. Saya sangat senang bisa berbagi cerita dengan bu Rosa mengenai perkembangan anak2 kita. Mudh2an pertemanan ini akan byk sekali manfaat-nya. Request-nya dah di konfirmasi..Trim’s lho…
Mumpung lg nongol disini, sekalian aja curhatannya ya…Disekolah Andra belum bgt mengikuti aturan sekolah, misal: setelah masuk ke dlm kelas, sepatunya dibuka alias nyeker..(ha..ha.). Ini mgk krn faktor ‘kebiasaan’. Karena, klo masuk ke rumah, kita harus buka sendal/sepatu’kan?. Nah, dlm anggapannya, kelas itu adl ruangan yg hrs bersih, jd tdk boleh kotor. Dulu klo mo ke supermarket jg bgt…sendal dilepas..(weleh..2x tp, skrg dah gak lg…). Nah..ditambah lg kebiasaan waktu msh di TK, murid2 hrs buka sepatu dan sepatu diletakkan di rak. Jadi, keterusan deh…ini memang butuh penyesuaian..dan pengertian secara perlahan…
Mengenai pelajaran disekolah, Andra masih tergolong biasa-biasa. Walo, dia udah bisa mnulis dan membaca, tp berhubung dia belum mengerti akan perintah gurunya ( pemahaman bhs-nya msh kurang), terkadang dia tdk mengerti apa yg harus dikerjakan. itu sebabnya, pada 6 bln pertama saya minta ijin ke gurunya utk bisa duduk didalam kelas agar mempermudah proses belajarnya. Untungnya, si Guru mengijinkan..skrg, sy cukup berdiri diluar, didekat jendela, agar bisa memantau Andra. Apabila dia tdk mengerti, sy cukup memberi ‘aba2′ dr luar…(andra duduk disamping jendela jg).
-Ada lg ‘kebiasaan’ di TK dulu yg sempat menganggu…Apabila pekerjaan soal (mis: MTK) nya sdh selesai, Andra lgsg keluar kelas untuk minta minum/makan (bontotnya biasa sy siapkan dr rumah) tanpa menunggu waktu bel istirahat berbunyi..tp sekarang.., sudah jarang. Andra betah dikelas, apalg klo ada guru favoritnya (ha..ha..)
-Hal lain yg ‘tdk mengikuti aturan’ adalah : Andra suka-suka sendiri dalam melakukan tugasnya. Misal: MTK. Penambahan ke samping : 12+18+20 =…Nah, si Andra menulis penambahannya ke bawah…walo hasilnya benar tp tetap aja gak ngikutin perintah’kan???..kemudian utk soal B. Indonesia misalnya..Apabila lelah, kita perlu….??.(soal isian) tp Andra menulis dg caranya sendiri yaitu dengan cara : pilihlah jawaban A,B atau C yg tepat. Jd, dia menambahkan jawaban spt : a. istirahat b.bermain c. nonton TV..
Wah..wah…untung gurunya sabar..ha..ha…
Itu tadi sekilas info mengenai kebiasaan Andra di kelas…Oh..ya..mengenai kebiasaan Lukman yg masih suka sering kabur klo disuruh nulis/baca menurut saya mgk karena Lukmannya blm PEDE aja. Dia merasa blm paham, lantas jadi MINDER..ketimbang gua malu, mending kabur ah..pura2 cuek …he..he..(Ini menurut saya lho bu) atau malah karena dia merasa udh mengerti, jd malas ah belajar yg itu..itu..melulu…Andra dulu juga begitu lho bu…Jd, yang sabar aja ya bu Rosa…Percaya deh, nanti Lukmannya pasti nurut..
Ibu, cukup dulu ya utk hari ini, Andra dah mulai minta : Makan..Makan.. ikan Lele..ikan Lele..he..he..Saya ke dapur dulu..Salam..!!
Dear mbak Deski,
Trimakasih sudah add saya di facebook. Senang sekali membaca cerita2nya Andra, banyak kemiripannya dengan Lukman. Soal ‘kaku’nya mereka pada rutinitas, soal ‘suka2′nya disekolah, sama banget deh.
Masalah membaca betul juga sepertinya mbak Deski, Lukman sepertinya belum pede, dan lebih suka kabur kalau diajak membaca. Padahal kalau lagi keluar nih mood mau membacanya, terbukti kok dia sudah punya kemampuan utk membaca. Hanya saja kita harus pinter2 memancing agar dia mau memperlihatkan kemampuannya itu. Untung guru-guru dan terapisnya yang sabaaar dan kreatif utk mencari alternatif cara mengajar Lukman
Wah Andra sudah pinter minta digorengkan ikan lele ya hihihi kok sama sih kesukaannya sama mama Lukman?
Salam….
Mba Rosa, pengen tanya…klo terapis wicara nya lukman yang bisa datang ke rumah dapat darimana mba?? Saya juga tertarik ingin mendatangkan terapis ke rumah, hanya blum tau harus mulai darimana.
Skrg ini Fatih juga sudah ikut terapi wicara (+/-3 bln). Pada 4x pertemuan awal, memang sepertinya Fatih kurang nyaman di tempat terapi tsb, dia selalu menangis, saya juga jadi tdk tega melihatnya…tapi terapisnya meyakinkan saya bahwa itu merupakan adaptasi biasa dan hampir semua anak yg terapi disana, juga seperti itu pada awal2 pertemuan…alhamdulillah skrg Fatih tidak trauma, dan sudah mulai nyaman belajar disana. Tapi jika ada terapis yg bisa datang ke rumah, tentu akan lebih baik, karena akan menghemat waktu sehingga jam tidur dan jam makan Fatih tidak akan tergangu. klo boleh tau juga, biaya nya berapa ya mba untuk mendatangkan terapis itu ke rumah…
Terimakasih sharingnya ya mba…saya slalu setia baca postingan mba rosa di blog ini…
Dear bu Erna,
Saya beruntung dapat info ttg terapis wicara tsb dari keluarganya kakak ipar. Untuk info2nya saya share di email saja ya bu, Ibu bisa kirim email ke rosasaad@cbn.net.id nanti saya balas dg info2 tsb. Salam & peluk utk Fatih ya
mba rosa
anakku umur 2 th sekarang belum bisa ngomong sepatah katapun
aku lagi daftar ke dokter hardiono,
sampe sekarang aku belum terapis, cuma sejak bulan july kmrn ,anakku ( axell ) aku sekolahin.
terapis yang bisa datang di rumah bisa minta no telp nya?
Thanks ya mba
Mama Axell lokasi rumahnya dimana? Untuk no telp terapis wicara boleh, bisa kirim email ke saya di rosasaad@cbn.net.id ya Mam, nanti saya reply utk infonya…
Assalamualaikum mba rosa,saya herni mamanya reihan pengen shariing nih anak saya 34 bulan bicaranya telat,sebetulnya sejak usia 18 bln sdh pgn periksa tapi mertua melarang dgn alasan cucunya yg lain juga sama begitu umur 2,5 thn baru bs bicara tapi ditunggu2 ga kunjung bisa bicara byk,umur 32 bln baru bs bilang udah,susu,buka,tutup,ambil,mandi,minum,mau,pake,papa,mama,ini,itu,bobo,sini,sana,beli,permisi,akhirnya sy bw ke klinik tumbuh kembang anak lalu anak sy diminta untuk terapi tanpa ada diagnosa apapun(sambil diobservasi ktnya),reihan itu kontak mata sangat bagus,senang main dgn teman,manja sama sy n teman2nya(suka pura2 jatuh n minta dibantu berdiri)senang becandain sy (seneng liat sy jijik waktu dia ngasih upil =D) tapi dia kalo lagi main dgn mainannya susaaah banget nengok kalo dipanggil,trus kalo apa yg dia mau ga dikasih suka jerit2,sukaa banget dgn mainan org lain dan suka pgn nuker dgn mainannya,n susah makannya itu lho bikin sy stress meski dari berat badan tergolong normal (17 kg usia 34 bln)ga pernah mau makan nasi,n tidurnya larut malem,bagaimana menurut mba rosa apa anak sy tergolong anak autis ? Lg bingung sy mba coz dr nya ga ngasi diagnosa ato mungkin harus diobservasi dulu ? Memang kalo dari info yg sy baca ada beberapa ciri anak autis yg ada di reihan kaya ga nengok kalo dipanggil dan jalannya sering jinjit,ada tantrum meski ga paraaah banget,please i need a opinion =(
Dear mbak Herni,
Kalau saya lihat Reihan cukup bagus ya sudah ada perkembangan bicaranya sebelum mulai terapi (koreksi kalau saya salah menangkap ya) sudah cukup banyak kosakatanya, walau mungkin masih minimal untuk seumurnya. Terus saja distimulasi dirumah, mbak, sepertinya walau terlambat bicara tapi Reihan dapat terus berkembang baik walau belum di terapi.
Soal diagnosa, kalau pengalaman saya diagnosa itu ditetapkan setelah anak diobservasi pada awal pertemuan dg psikolog/dokter. Pada dua klinik tumbuh kembang yang saya datangi ketika Lukman umur 2,5 dan 3 tahun, mereka mengobservasi diawal. Lukman diobservasi dg diajak bermain, dan dilihat reaksinya saat diajak komunikasi. Kami ortunya juga ditanyai baik sebelum maupun sesudah Lukman diobservasi, dan psikolog/dokternya memberikan diagnosa setelah itu.
Untuk mengenali autis/tidaknya Reihan, mbak Herni dapat berkunjung pada psikolog/dokter yang sudah berpengalaman. Tidak sembarangan orang bisa mendiagnosa apakah seorang anak itu autis/tidak, hanya ahli yang sudah berpengalaman yang bisa melakukannya. Tentunya orang awam seperti saya sendiri juga tidak bisa mengatakan apakah Reihan autis/tidak.
Demikian, semoga jawaban saya bermanfaat ya…
Saya bingung mba rosa kenapa dr nya tidak kasih diagnosa padahal sy bw reihan ke dr tumbuh kembang anak di salah satu RS besar di bandung,waktu itu dr nya cuma bilang reihan ada masalah interaksi sosial (tidak menoleh waktu dipanggil ) dan keterlambatan bahasa jadi harus di terapi,kalo sy perhatikan memang reihan tiap hari ada kosakata baru tapi belum bisa banyak merangkai kata paling bisa bilang mah ini (mamah sini) dan pah ini bobo (papah sini bobo),terus terang mba rosa saya gelisah mikirin anakku yang ganteng =),dr info yg sy baca anak autis itu tidak suka bersosialisasi tapi sy liat reihan suka dan nyaman berada di dekat anak lain,dia bisa ngikutin sy wudhu dan solat (meski cuma bs ruku dan sujud) bisa disuruh tutup pintu,tutup lemari,buang sampah,simpan barang,tapi saya juga tidak mau mengesampingkan fakta ada beberapa gejala autis pada reihan(tidak menoleh,jalan sering jinjit,belum bs bicara banyak), menurut mba rosa apa saya harus coba periksa ke klinik lain ? ada dekat rumah klinik yg dr nya sangat terkenal di bandung tapi biayanya juga mahal mba rosa ( well itu menurut kantong saya ) terus terang saja sy tidak sanggup,sdh sy tanya via phone dr nya aja 500 rb sekali periksa,kalo sekali periksa saja sih tidak masalah tapi ini pasti continue sy juga hrs memikirkan biaya kedepan,apa mba rosa ada referensi dr yg bagus dan terjangkau di bandung ?
Ooh kalau sudah dikatakan seperti itu, berarti diagnosanya adalah: masalah interaksi sosial (tidak menoleh waktu dipanggil ) dan keterlambatan bahasa. Dokternya mungkin tidak mau terburu-buru menggunakan label tertentu (autis atau lainnya) karena mau meyakinkan setelah ada hasil dari terapinya.
Untuk autis, perwujudannya mencakup spektrum yang luas, dari yang parah sampai yang ringan. Autis yang parah seperti anak autis yang sering tantrum, sangat menarik diri (tidak ada kontak social), tidak bisa berkomunikasi, suka flapping dan stimming. Sedangkan autis yang ringan, seperti Lukman, bisa komunikasi, bisa memperlihatkan emosi dan kelekatan pada orang yang disayangi, tapi tetap ada gangguan komunikasi dan sosialisasi memiliki pendekatan sosial yang khas (berbeda).
Untuk referensi dokter yang bagus di Bandung, sayang sekali saya tidak punya informasinya. Memang kita harus juga memikirkan sisi keuangan, karena biaya untuk pemeriksaan dan terapi tidak murah ya bu. Yang bisa saya anjurkan adalah ibu masuk kedalam komunitas orangtua anak spesial di Bandung, saya yakin pasti ada seperti di Jakarta ini. Dengan bertukar pikiran pada komunitas seperti ini ibu bisa mendapat banyak informasi, dan bisa menentukan langkah terbaik selanjutnya untuk sang buah hati.
Tetap semangat ya bu, terus usaha yang maksimal untuk Reihan…
Seperti Lukman, Katrin mengalami speech delay, umur 6 thn dia baru bisa bicara… Itupun kita terpaksa balik dr Beijing ke Jerman karena perlunya speech therapy bhs Jerman. Kita memang salah memilih dokter anak waktu di Jerman, setiap ditanya kenapa anak saya belum ngomong, dia bilang kemungkinan terlalu banyak bahasa: jerman, indonesia, inggris dan perancis… tp lama kelamaan kita curiga ini bukan karena banyak bahasa, tp masalah keterlambatan bicara. Mengenai autism pun saya sempat curiga, hingga di Beijing minta seorang dokter Inggris dan seorang proffesor China spesialist anak untuk mendiagnosa anak saya, mereka berkesimpulan anaknya 100% bukan autism tp delay speech… soalnya kontak mata, sosialisasi gak masalah…di Kiga Perancis ataupun di Kiga Beijing dia gak masalah bermain dengan anak2 lain, bahkan gampang mempunyai teman akrab.
Dari Prof di Beijing saya mendapat ramuan obat chinese juga buat otak yg saya bawa ke Jerman untuk diberikan ke anak saya…jg di jerman diterapi bahasa hingga sekarang. Hasilnya anak saya bisa bicara. Kalau bicara sekarang dengan teman tetangganya seperti sepasang bebek.
Di Jerman dia sekolah SD khusus bahasa, selama 2 thn dimana pelajaran bahasa jermannya diutamakan (tidak ada bahasa ke 2 Perancis) , sedangkan matematik, pelajaran lain semua sama kurikulumnya seperti sekolah biasa. Hanya bedanya sekelas hanya 8 anak dengan guru yg memang khusus mempunyai background terapi bahasa. Walaupun di luar sekolah ..tetap terapi bahasa buat anak saya seminggu 2 kali. Semua terapi ditanggung asuransi , sekolah di Jerman gratis baik buku maupun taxi nya ditanggung pemerintah. Sekarang Katrin sudah masuk sekolah biasa walau ada beberapa kesulitan seperti short memory tidak bagus, tp IQ lumayan di atas anak rata2.
Buat orangtua yang anaknya telat bicara gak salah buat curiga ke arah autism. Supaya tidak terlambat apabila didiagnosa autism segera cari solusi terapi , kalaupun ternyata tidak autism …Alhamdulilah.
Terimakasih untuk sharingnya, mama Katrin
Halo mba, salam kenal ya. Anakku juga, sekarang 2th8bln masih kesulitan bicara. Perkembangannya mirip sama Lukman, panggil mama baru umur 2th3bln dan mulai banyak kosakatanya sebulan yang lalu.
Pertanyaan aku mba, terus terang aku masih bingung di bagian mana mba akhirnya bisa menyimpulkan kalau Lukman itu autis. Kalau baca cerita dan liat fotonya, seems no problem hehe. Mohon masukannya ya mba, apa aja sih yang harus kita cermati? Makasih mba
Salam kenal juga mbak Desina
Betul yang mbak bilang, kita orang awam kalau melihat Lukman sepintas tidak akan tahu kalau dia autistik. Tapi begitu berinteraksi, baru deh terlihat. Seperti yg saya ceritakan, orang pertama yang curiga kearah autisme adalah ibu kepala sekolahnya. Tentu beliau melihat dari keunikan Lukman berinteraksi disekolah: keengganan Lukman untuk bergaul, tidak mau masuk kedalam kelas apabila ada teman2nya, lebih suka ada diluar kelas. Baru mau masuk kelas jika kelasnya kosong.
Kalau dirumah tentunya hal2 tsb nggak akan terlihat ya mbak (selain masalah bicaranya) karena memang problem anak autistik adalah dibidang komunikasi dan interaksi sosial. Sesudah lebih mempelajari tentang autisme, baru saya ngeh bahwa ada karakteristik yang pas banget pada Lukman. Contoh: rigidnya anak autis dengan rutinitas. Seperti kalau pergi dg mobil, sekali lewat route tertentu, maka harus lewat route itu jika mau ke tujuan yg sama. Kalau tidak? wah bisa marah, dan tantrum jika kita ambil jalan lain. Contoh lain, anak autis berusaha memahami kehidupan dg caranya sendiri, seperti ketika dia senang sekali pergi ke Puncak ketika memakai baju kaus hijau, maka saat dia dipakaikan baju tersebut dia akan berharap kami pergi ke puncak lagi seperti saat pertama ia memakai baju tersebut. Untuk jelasnya baca cerita “Baju Hijau”nya Lukman deh mbak (http://mamanya.wordpress.com/2009/11/08/our-child-is-special/).
Masih banyak cerita lain, yang akhirnya menyadarkan saya walau kelihatan okey, kecerdasannya baik, ternyata memang ada masalah saat Lukman berada diluar rumah, bergaul dan berinteraksi dengan dunia luar. Begitu mbak…
maap bu..minta tolong alamat klinik kancil dimana ya..atwa ada CP biar bisa nanya2..krn rcn kita besok minggu 11 maret 2012 mau ke jakrta buat konsul masalah anak saya..kita tinggal di palu sulawesi tengah dan belum ada informasi mau kemana sejauh ini cuma tau bahwa ada klinik tumbuh kembang anak di RSAB harapan kita..mohon bantuan…
Info Kancil:
Ruko Duren Tiga Kav. 20, Jl. Duren Tiga Raya No. 73 Jakarta 12760
Telp: 02179190447 atau 08121073428
Ada facebooknya juga dengan email: kancil_enrichyourkids@yahoo.com
Website: http://www.kancilku.com
salam kenal ya mama lukman…saya sangat terkesan sekali dengan cerita ibu..dan boleh dong saya sharing di sini. mungkin ceritanya agak panjang mudah2an ibu tdk bosan membacanya. Sebenarnya anaku didiagnosa autis sejak umur 3 tahun karena bakti dipanggil tdk mau melihat kearah org yg manggil tdk ngerti perintah, asik dengan dirinya sendiri dan setealh didiagnosa maka bakti autis. Pada saat itu kami orang tua dihadapkan dengan 2 pilihan apakah tetap di kota dimana dikota tsb kami bisa menterapi bakti dengan biaya seadanya atau ke daerah bisa disebut kabupaten tetapi terapi 2 x seminggu. Dan karena satu sisi kita membutuhkan dana utk by terapi maka kami mengambil keputusan ke daerah dan bakti tetap di terapi 2 x seminggu. Berarti kami ke kota untuk terapi bakti. dari daerah ke kota kami menghabiskan waktu 4 jam perjalanan. Dan Hal itu kami lakukan hanya sebulan karena kami diberi masukan oleh sesorang katanya nggak ada apa2 dengan bakti dan mgkn karena mgkn tdk sanggup krn jarak dan rasanya kurang efektif jika waktu terapi bakti dipadatkan selama 2 hari.
Kemudian selama satu tahun kami tidak menterapi bakti dan baktipun tdk diet CFGF, kemudian kami pindah lagi ke daerah lain dan bakti diterapi oleh seorang terapis okupasi, tetapi sayangnya hanya bertahan 3 bulan dan tdk nampak perubahannya krn terapis tsb hrs pulang kampung. Dan setahun yang lalu umur bakti 4 tahun kami mulai memasukan bakti ke tempat terapi sekaligus tempat penitipan anak. Karena kami berdua kerja. Bakti diantar pagi dan sore baru dijemput. Dan alhamdulilah setahun terapi bakti menunjukan perkembangan dimana kontak mata sudah ada, dipanggil sudah ada respon meskipun kadang2 tdk , dan suka peluk2 dan cium bapaknya, suka ngajak kita bergurau. Tetapi kosa katanya hanya keluar mama2 dan papa.Menurut mama lukman gmana ya…seharusnya saya. Rasanya satu sisi tdk tega juga menitipkan bakti ditempat terapi dari pg sampai sore tetapi gmana lagi satu sisi kami membutuhkan dana utk bakti. Dan kami pasrah mudah2n ada mukjizat utk bakti. Tolong sarannya ya ma….Oh ya saya tinggal di daerah KEPULAUAN RIAU. Terima kasih sebelumnya.
Salam kenal, mbak Rina….
Memang ini jadi dilemma umum bagi ibu bekerja dengan anak yang berkebutuhan khusus. Disatu sisi ada rasa bersalah karena ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk mendidik sang buah hati, tapi disisi lain kebutuhan finansial juga menjadi penghalang untuk berhenti bekerja. Memang biaya utk konsultasi, terapi dan juga kebutuhan lain untuk anak berkebutuhan khusus membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Alhamdulillah Bakti bisa mendapatkan tempat penitipan yang sekaligus tempat terapi. Dan terlihat pula ada perkembangan yang baik dg sudah ada kontak mata, sudah mau dipanggil dan bisa menunjukkan rasa sayang dan mulai berkomunikasi.
Saya rasa untuk saat ini apa yang mbak Rina jalankan pastilah sudah yang semaksimal mungkin yang dapat dilakukan. Terapi itu harus terus ya mbak, karena sedini mungkin dan se konsisten mungkin anak berkebutuhan khusus di terapi maka hasilnya akan lebih baik ketimbang menunggu saat anak sudah lebih besar.
Selain terapi ditempat penitipan, stimulasi di rumah juga penting. Kalau dirumah mungkin mbak Rina juga bisa ajarkan/terapkan hal-hal yang juga mendukung perkembangan Bakti. Contoh: mengajar Bakti toilet training, mandi, makan dan ganti baju sendiri. Pelan-pelan agar pada umur yg lebih besar dia sudah bisa melakukan sendiri. Tidak mudah memang, tapi ini perlu untuk kemandiriannya nanti. Juga sebisa mungkin Bakti diajarkan berkenalan dengan lingkungan diluar rumah/luar tempat penitipan. Dibawa ke pertemuan keluarga atau kalau ada acara dengan teman, dibawa ke pertokoan, pokoknya lingkungan yang situasinya berbeda dengan lingkungan sehari-harinya. Ini akan membuat Bakti lebih fleksibel, dan lebih mudah bergaul nantinya.
Demikian yang bisa saya sarankan, mbak Rina, berdasarkan pengalaman saya sendiri. Semoga bisa membantu
hallo mama Lukman,
saya mama Kevin yg waktu itu pernah ngobrol juga sekitar 2-3bln yg lalu,
anakku kevin sdh mulai ada perkembangan,dia mulai terapi awal maret smp skrang.terapi SI dan trapi WI.
sekarang kevin sdh 3th 2bln,puji TUhan anak sy sdh mulai byk kosakata.tatap mata sdh makin bagus.
saya mempunyai kekawatiran,sy rencana mo memasukkan anak sy PG juli ini.waktu Lukman mulai ikut PG,apa yg terjadi.maksud saya apakah Lukman langsung mau?apakah ada shadow teacher yg mendampingikah ?sy jd agak2 kawatir nih,mama Lukman
Hai mama Kevin, senang sekali mendengar kemajuan perkembangan Kevin.
Ketika mulai PG, Lukman belum mau masuk kedalam kelas, paling senang berada dihalaman, lari-lari atau belajar disana. Ketka itu Lukman didampingi shadow teacher. Saya pikir tidak apalah, yang penting Lukman kenal dulu dengan lingkungan sekolah, merasa nyaman dulu, dan berharap lambat laun ia akan mengikuti kegiatan dikelas. Ketika sudah TK, Lukman mulai dilatih untuk berada didalam kelas. Cukup heboh ya dia menangis, dan menolak masuk ketika teman-temannya didalam. Namun karena kesabaran para guru, walau tetap konsisten mengharuskan Lukman didalam kelas, ia akhirnya mau juga dan bisa berada dalam kelas dan memperhatikan kegiatan bersama teman-temannya. Begitu Mam