Nikmat….
May 21, 2009
Sampai sekarang, bila saya bertemu dengan teman-teman ‘mantan’ rekan sekantor dulu seringkali mereka bertanya “Sudah bosen dirumah nggak?” Pertanyaan yang sama juga sempat terbersit dipikiran saya ketika memutuskan akan berhenti bekerja tahun lalu. Betapa tidak, biasanya saya dan suami jam 06.15 pagi sudah siap berangkat kekantor sementara anak-anak masih heboh bersiap-siap kesekolah, dan kembali kerumah sekitar 12 jam kemudian saat mereka sudah tidur.
Ternyata sampai sekarang, sembilan bulan setelah berhenti, saya malahan masih tetap merasakan nikmatnya ada dirumah bersama anak-anak. Banyak hal-hal yang saya alami, yang tidak akan mungkin saya dapatkan kalau masih bekerja dikantor. Contohnya: saat Lukman berkata “Aku senang, Mama!” hanya karena dia bisa minum dari botol kecil, berulang-ulang bulak-balik mengisi botol itu dari dispenser minuman. Atau seperti saat saya bercanda dengan Lukman, dan spontan dia berkata “Lucu baaaanyak” yang maksudnya lucu banget/lucu sekali.
Juga saat menjemput Reza disekolah, dan saat baru parkir ia baru masuk kehalaman sekolah, muka memerah karena kepanasan, membawa botol minuman yang sudah kosong, dan begitu melihat saya dimobil Reza berteriak “Kita baru jalan-jalan ke danau, Mama! Jalannya jauh tapi seru!”. Atau saat dia mengadu “Tadi Daffa menangis lho, karena bajunya ditarik Hanif, padahal dia duluan yang mulai”.
Momen-momen seperti itu saya pikir sangat berharga, saya bisa alami sendiri tanpa harus dengar laporan asisten, saya bisa lihat senyumnya Lukman saat dia katakan hal-hal baru, juga berdiskusi dengan Reza tanpa harus menunggu weekend.
Dulu saya setuju dengan idiom “yang penting quality time, bukan quantitynya”. Tapi sekarang saya tidak sependapat lagi
Entry Filed under: bermain. Tags: Lukman, quality time, Reza.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
endahws | May 21, 2009 at 12:38 am
Kami di sekolah merasa Lukman berkembang pesat sejak mamanya berhenti bekerja. Ini juga membuat kami mengakui bahwa ibu adalah guru terbaik untuk anak, terutama yang terlahir dengan kondisi perlu perhatian khusus. Mamanya bisa “masuk” mengembangkan potensi Lukman kapan saja di saat Lukman sedang nyaman, berbeda dengan di sekolah yang terbatas oleh waktu.