Catatan Endah W. Soekarsono
May 20, 2009
Dua tulisan dibawah ini saya ambil dari Catatan di FaceBooknya Sekolah Tetum, hasil karya kak Endah panggilan saya untuk Ibu Kepala Sekolah. Saya kenal beliau kurang lebih baru 2 tahun, tapi rasanya seperti sudah kenal lama sekali. Begitu banyak hal yang kami bicarakan, bukan hanya yang berkaitan dengan Sekolah Tetum, tapi juga hal-hal lain dari A sampai Z. Saya belajar banyak dari beliau yang punya begitu banyak ilmu tapi sangat rendah hati dan suka berbagi.
My salute to you, kak Endah!
LUKMAN: SEBUAH POTRET DALAM PARADIGMA PERTUMBUHAN
May 10, 2009
(Tulisan ini dibuat untuk anak-anak istimewa di Tetum yang punya cara belajar berbeda, teman-teman sekelas yang mau menerima mereka, dan orang tua yang dapat menjawab dengan bijak tentang kehadiran anak-anak itu)
Lukman memandang kura-kura di air mancur, sementara teman-temannya sedang mendengar Kak Ria mendongeng di teras kelas. Ketika Kak Aas memegang lengan Lukman dan mengajaknya bergabung dengan Kak Ria, Lukman berteriak, “Nggak!” Kak Aas terkejut. Hari itu, tanggal 23 Maret 2009, untuk pertama kalinya di sekolah Lukman mengeluarkan kata bantahan, “Nggak.” Di rumah dia sudah mengucapkan “Nggak” untuk pertama kalinya beberapa hari sebelumnya, yang membuat mamanya terkejut dan gembira.
Anak Indonesia pada umumnya dapat mengucapkan bentuk negatif (bukan-belum-jangan-nggak/ndak) pada usia dua tahun. Lukman untuk pertama kalinya memproduksi bentuk negatif beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-4.
Lukman mengalami perkembangan pemerolehan bahasa yang lebih lambat daripada anak lain. Dia mengalami kesulitan untuk memberikan respon dan menerima makna yang diberikan oleh sekelilingnya. Lukman tidak mengalami kelainan organik. Struktur organ wicara dan pendengarannya baik (hanya saja dia cenderung hipersensitif terhadap suara – terkadang Lukman menutup telinga pada saat kegiatan menonton film). Lukman juga mempunyai kemampuan kognitif yang baik. Misalnya, ketika mamanya mengajarinya mengenali globe dengan mengatakan, “Lukman disini ni, di In Do Ne Sia,” Lukman meniru, “Indonesia.” Lalu ibunya menjelaskan di mana penguin, gajah, beruang kutub, dan dinosaurus. Ketika globe diputar lagi, Lukman dapat menyebutkan dengan tepat di mana letak hewan-hewan itu dan dirinya.
Meski memiliki kemampuan kognitif yang baik, karena masalah-masalah yang dimiliki Lukman, dia cenderung memperlihatkan perilaku yang tidak sesuai norma umum. Bila diajak dalam kegiatan kelompok, tak jarang dia menendang, mencubit dan menggigit Kak Aas atau kak Ria atau melempar setumpukan buku atau balok.
Secara bercanda saya katakan kepada mama Lukman bahwa saya ingin digigit Lukman, yang menandakan dia sudah nyaman mengekspresikan perasaan kepada saya. Memang, pada akhirnya Lukman melayangkan tangan kecilnya ke pipi saya ketika saya mendekatinya karena dia menendang seorang teman yang ingin ikut membaca bukunya. Jumat lalu pun dia beberapa kali mengepalkan tangan dan mendorong lengan saya, ketika saya mengingatkannya agar tidak duduk di ujung dinding perosotan.
Menurut Ibu Alzena Masykouri, psikolog yang memantau perkembangan Lukman, bahwa Lukman menunjukkan perilaku agresif dalam menunjukkan kemarahan, menunjukkan bahwa dia mengalami kemajuan dalam mengenali dan mengekspresikan emosinya. Hanya saja Lukman masih perlu berlatih untuk meregulasi emosinya dan menunjukkan emosi dengan cara yang adaptif.
Tantrum Lukman tak luput dari perhatian teman-temannya. Ibu Vina menulis kepada saya bahwa hampir setiap pulang sekolah Vina bertanya kenapa Lukman selalu marah-marah. Dengan bijak ibu Vina menjelaskan bahwa Lukman tidak sama dengan Vina dan teman-teman lain, jadi Vina harus memahami.
Tentu jawaban itu tidak memuaskan Vina. Dia pun bertanya lagi, “Lukman sakit apa?”
Ya, akan mudah menjelaskan kepada anak, bahkan kepada orang dewasa sekalipun, mengenai perbedaan yang nyata secara fisik. Kami pernah mengadakan sesi “Sehari Bersama Hegar” untuk menjelaskan kondisi Hegar yang perlu memakai alat bantu dengar. Bunda Hegar menjelaskan kepada anak-anak tentang riwayat Hegar sejak di kandungan dan mengapa Hegar sampai memakai alat yang ditanamkan di kepalanya. Acara itu berakhir dengan permainan tikus kucing yang digemari anak-anak Tetum, dengan Hegar sebagai tikus dikejar oleh Rayi sebagai kucing.
Acara itu sebetulnya merupakan “pengesahan MoU” antara kami, orang dewasa –sekolah dan orang tua Hegar—mengenai apa yang akan kami lakukan terhadap Hegar. Bagi teman sekelasnya, acara itu merupakan pengenalan terhadap alat bantu dengar Hegar, kebutuhan Hegar akan alat itu dan bahwa mereka harus ikut menjaganya. Secara sosial, tanpa acara itu mereka sudah menerima Hegar, dan Hegar pun menjadi bagian dari mereka. Tanpa bahasa verbal, mereka melakukan komunikasi dan menjalani kegembiraan tanpa hambatan. Hegar adalah anak yang penuh percaya diri dan memiliki kemampuan kognitif dan sosial yang baik.
Berbeda dengan anak-anak yang tidak secara nyata memiliki perbedaan, apalagi yang memiliki hambatan melakukan interaksi sosial. Yang tampak di mata anak-anak dan orang tua –ketika menjadi visiting parents atau menjemput—adalah adanya seorang anak senang berjalan-jalan di halaman, tidak mau masuk kelas, dan kerap agresif.
Kami tahu ada tanya dalam pandangan orang tua ketika melihat Lukman, namun secara etika kami tidak bisa menjelaskan kondisi seorang anak kepada orang tua lain. Kami hanya dapat meyakinkan –secara tak langsung—bahwa kehadiran seorang anak berkebutuhan khusus tidak membuat putra-putri mereka menjadi terabaikan.
Karena surat ibu Vina, saya pun mengajak mama Lukman untuk membuka diri dengan kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus di Tetum, dimulai dari Lukman. Sebuah keterbukaan dapat mengajak orang tua untuk mempersepsi anak berkebutuhan khusus dalam paradigma pertumbuhan (growth paradigm), bukan paradigma defisit/kekurangan (deficit paradigm). Dalam paradigma pertumbuhan itu kita mempersepsi bahwa seorang anak berkebutuhan khusus adalah individu dengan cara belajar berbeda, bukan seseorang yang memiliki defisit kemampuan sehingga dia menjadi tidak bisa melakukan hal yang dilakukan mainstream. Orang di sekelilingnya –terutama orang tua dan guru– perlu membantunya agar dia dapat mengembangkan potensinya.
Cobalah kita telaah ketika Lukman berkeliling-keliling di halaman dan membuang muka dan menendang sewaktu diajak Kak Aas ke kelas. Dari segi pemahaman bahasa, tampaknya Lukman sudah memahami ajakan, “Ayo, Lukman ke kelas.” Ini terlihat dari reaksinya dengan membuang dan menendang. Apakah sungguh Lukman paham? Ya, bila dilihat dari kebiasaannya meninggalkan crowd (kelompok teman-temannya) dan keengganannya berada di kelas kecuali bila di kelas ada benda yang jadi fokus perhatiannya, misalnya, buku. Jadi, ketika berada di dalam kelas, Lukman tidak terlibat dalam kegiatan kelas. Bila ditegur, dia akan bereaksi keras. Reaksi keras itu menunjukkan bahwa Lukman masih perlu belajar dalam berekspresi. Masalahnya tak hanya terkait dengan produksi bahasa (dapat menyampaikan penolakan dengan manis), tapi juga masalah yang terkait dengan gangguan komunikasi, yaitu resistensi terhadap perubahan dan kecenderungannya pada kerutinan, interaksi sosial, pengaturan (organizing) dan keteralihan.
Lukman akan lebih bisa kooperatif bila resistensi terhadap perubahan berkurang. Dia menjadi stres bila keasyikannya saat menekuni suatu hal diputus (sedang mengamati kura-kura-kura, diajak ke kelas). Bila Lukman memiliki kebutuhan untuk interaksi sosial, dia juga akan kooperatif melakukan kegiatan bersama teman, baik di dalam maupun di luar kelas. Interaksi sosial ini tidak hanya berada di dalam suatu ruang bersama-sama, tetapi terjadi pertukaran komunikasi verbal maupun nonverbal. Lukman perlu stimuli untuk mengoptimalkan perkembangannya dengan terapi sensori integrasi di suatu klinik, di rumah dan di sekolah.
Menyekolahkan Lukman di sekolah umum merupakan bagian dari paradigma pertumbuhan: mempersepsi dia bahwa dia memiliki cara belajar berbeda dan berpotensi untuk berkembang. Persepsi ini harus dimiliki oleh orang-orang di sekelilingnya, sebagai wujud pengabdian kita terhadap Tuhan yang telah menciptakan manusia secara berbeda-beda. Bukan keinginan Lukman untuk menjadi seperti itu, bukan pula pilihan orang tuanya untuk memiliki anak yang pada awalnya seolah tak membutuhkan orang-orang di sekelilingnya.
Dari kasus Lukman kita malah jadi belajar menghargai anugrah Tuhan yang begitu berharga: kemampuan mengekspresikan diri. Mama Lukman dengan rajin mencatat perkembangan Lukman dari satu langkah ke langkah lain. Misalnya, ketika Lukman berebut Mama dengan Reza kakaknya; ketika mengamati bahwa spanduk Tetum yang dipasang di jalanan depan rumahnya tidak ada (“Ya, Tetum hilang”); ketika Lukman berpapasan dengan Sari, teman sekelasnya, dan mengatakan, “Hai tunggu”; atau ketika pertama kali minta tolong (“Mama tolong pasang Tupi ya Ping-Ping”). Saya pun jadi GR ketika kemarin bersalaman dengan Lukman, dan dia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengucapkan, “Kak Endah.” Itu adalah pertama kali Lukman menyebut nama saya, berkat stimulasi yang diberikan ibunya.
Membesarkan Lukman menjadi hari-hari yang penuh tantangan bagi orang tua Lukman. Mereka dengan jujur mengakui tidak mudah. Memahami masalah Lukman adalah sebuah PR besar, dan mengatasi pergulatan diri adalah proses belajar yang lain. Ini komentar Mama Lukman tentang ajakan saya untuk membuka diri kepada orang tua teman-teman anaknya: Monggo kak Endah, silakan ditulis. Saya pun ingin tahu bagaimana reaksi orang tua yang lain. Ini adalah suatu tahapan yang harus kami lalui di mana pun Lukman bersosialisai. Mungkin ada yang mendukung, mungkin ada yang tidak memahami dan memandang perbedaan tersebut seharusnya tidak perlu. Bukan sekali dua kali orang tua di milis anak berkebutuhan khusus yang saya ikuti mengeluh dan menangis karena masalah ini. Jadi kami pribadi sudah cukup tahu, dan mudah-mudahan cukup siap dengan reaksi para orang tua lain…
SEDANG APA ANDA SAAD INI?
May 5, 2009
Kalimat di atas ditulis oleh seorang anak bernama Reza di status Facebook-nya. Tulisan itu merupakan terjemahan dari ”What are you doing right now?”, tagline pada Facebook dalam desain yang lama.
Demam Facebook membuat Reza yang masih kelas 1 SD ingin berfesbuk juga, meski kemampuan baca tulisnya masih terbatas. Reza rajin mengganti statusnya, dan memberi komentar pada foto.
Reza adalah bagian dari masyarakat literasi: ia sadar bahwa tulisan adalah bagian dari kehidupan.
Ya, bagi anak yang besar di masyarakat literasi (literate society), penguasaan terhadap literasi merupakan tugas perkembangan yang penting. Dengan menguasai keterampilan literasi (yang mencakup kemampuan membaca dan menulis), ia dapat mengenal konsep-konsep dalam kehidupannya. Nama jalan, alamat rumah, judul buku, judul film, nama toko buku, nama koran, merek susu, iklan makanan, dan lain-lain, dapat dipahaminya dengan membaca tulisan yang hadir di sekitarnya.
Begitu pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat modern, sehingga kerap menjadi pertanyaan, kapan dimulai dan bagaimana cara keterampilan membaca dan menulis diajarkan kepada anak.
Pemerolehan Literasi dan Proses Neurologi
Secara alami manusia mengembangkan keterampilan berbahasa dengan mendengarkan dan kemudian berbicara. Dalam psikolinguistik dibahas bahwa anak melakukan komprehensi (pemahaman) terlebih dahulu baru kemudian memproduksinya. Ketika bayi, kita mendengar suara ibu kita, kemudian kita mengeluarkan bahasa bayi. Proses ini berkelanjutan terus sejalan dengan kematangan organ tubuh dan kognitif kita. Akhirnya ketika kita dewasa, mendengarkan dan berbicara menjadi proses pertukaran komunikasi yang bermakna dalam interaksi antarmanusia.
Dalam perkembangan peradaban manusa, keterampilan mendengar dan berbicara saja tidak cukup. Membaca dan menulis menjadi kebutuhan agar kita dapat berinteraksi dengan sekeliling. Contohnya saja Reza. Dia menikmati kemampuan baca tulisnya yang masih sederhana dengan melakukan chat dengan om-omnya atau siapa saja yang dilihatnya sedang online. Dia bertukar komentar dengan papanya yang berada di kantor. Dia menulis nonsense words untuk judul foto-fotonya.
Tidak semudah itu proses yang dijalani Reza. Saat melakukan chat, lawan bicaranya harus bersabar menunggu tulisannya muncul: Reza masih harus mengeja setiap kata yang ditulisnya.
Bagi Reza, kegiatan baca tulis tidaklah semudah bila bahasa oral. Saat mendapat input dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi ditanggapi di korteks pendengaran. Setelah diterima, maka bunyi bahasa dikirim ke area Wernicke untuk diinterpretasikan. Setelah dipahami isinya, maka bunyi itu bisa disimpan di memori, bila perlu tanggapan secara verbal, maka dikirim ke area Broca.
Bila bekerja dengan tulisan, maka input diterima oleh korteks visual primer, karena tulisan diterima sebagai gambar. Setelah itu tulisan dikirim ke area Wernicke untuk dipahami. Bila perlu tanggapan verbal, maka input itu dikirim ke area Broca juga.
Begitu kompleksnya proses berbahasa di dalam otak, sehingga kita tidak dapat memaksakan seorang anak untuk dapat langsung membaca dan menulis tanpa memahami tumbuh kembangnya.
Literasi Dini
Di atas sudah disebutkan bahwa input tulisan dikirim ke area Wernicke untuk diberi makna. Jika area Wernicke sudah siap, maka seorang anak akan bahwa tulisan mempunyai makna. Memahami bahwa tulisan bermakna adalah pencapaian besar dalam literasi dini (emergent literacy). Literasi dini mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang terbangun sebelum anak belajar membaca dan menulis.
Seorang anak sudah menunjukkan “kematangan” untuk membaca ketika:
• Menunjukkan kemampuan bahasa oral dengan mengeksplorasi maknanya, memperhatikan strukturnya dan melakukan uji coba dengan bunyi bahasa. Misalnya, anak sudah lancar berkomunikasi dan mengucapkan kalimat lengkap untuk mengungkapkan keinginannya. Ketika minta diambilkan minum, ia mengatakan, “Mama, aku ingin minum” bukan hanya “Minum”. Ia juga dapat bermain-main dengan bunyi bahasa. Misalnya, tahu rima kata dari “roda” adalah “kuda”. Atau kata-kata yang berawalan dengan “di” adalah “diri” dan “dinosaurus”.
• Mengetahui makna dari simbol-simbol di sekitarnya. Misalnya, tanda-tanda lalu lintas, label makanan, billboard restoran siap saji favoritnya.
• Berupaya memproduksi simbol atau huruf. Bunda Hegar bercerita bahwa begitu Hegar belajar menulis nama sendiri di sekolah, dia terus menulis di rumah. Dia mencontoh tulisan di buku-buku, bahkan buku-buku resep pun penuh dengan tulisannya.
• Melakukan perilaku literasi orang dewasa, seperti pura-pura membaca atau menulis daftar belanja. Gerrard baru berumur 3,5 tahun tapi dia kerap “membaca” buku-buku yang habis dibacakan oleh gurunya.
• Mengulangi proses sampai membaik, misalnya menyanyi dengan gerakannya.
• Mulai mengaitkan tulisan dengan bunyi. Misalnya “Y-a” dibaca “ya”.
Agar siap membaca, maka seorang anak harus terlebih dahulu mengembangkan kemampuan membedakan bentuk-bentuk geometris, mempunyai kemampuan spasial (dapat membedakan atas bawah dan kiri kanan), dan keteraturan bentuk.
Kegiatan meronce dalam berbagai pola, menyimpan benda pada tempatnya, menyusun sandal, memakai sepatu mulai dari kaki kanan dan melepas mulai dari kaki kiri, pembiasaan yang rutin, dapat membantuk anak memahami keteraturan. Dalam membaca, keteraturan itu akan selalu ditemuinya karena sifat bahasa adalah sistematis. Dalam bahasa ada suku kata dalam bentuk pola (entah itu konsonan-vokal, misalnya “ba” dan “da” maupun vokal-konsonan, misalnya “at” dan “is”), ada struktur kalimat (subjek-predikat-objek, dalam “Aku makan pisang”), ada kata-kata yang berawalan sama (“Iis” dan “ikan”) maupun berakhiran sama (“pantai” dan santai”).
Kegiatan matematika dalam kehidupan sehari-hari juga dapat membantu anak untuk siap membaca. Pemahaman bahwa bola itu bulat, pintu berbentuk kotak, mainan tertentu berbentuk segitiga akan membantu anak mengembangkan pemahaman bentuk. Kelak ketika belajar membaca, ia akan dengan mudah melakukan asosiasi bahwa bulat identik dengan O, segitiga dengan A, dan kotak dengan H.
Kemampuan melakukan asosiasi ini berlangsung sejak seorang anak masih bayi. Ia melihat ibunya memakai daster atau bercelana panjang. Sekalipun berpenampilan berbeda, ia tetap tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya.
Logika spasial juga penting karena kegiatan membaca memerlukan keteraturan dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah. Agar anak dapat membedakan kiri-kanan, serta atas-bawah dapat dilatih dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, saat ia menggunakan anggota tubuh kanan dan kiri atau saat berbelok ke arah tertentu.
Stimulasi dalam literasi dini
Persiapan agar seorang anak siap membaca berlangsung dalam rentang yang panjang, tanpa perlu menunggu dia melampaui tahap mendengar dan berbicara terlebih dahulu. Kematangan literasi dapat dibangun bersamaan dengan saat anak menyerap kemampuan mendengar dan mengembangkan kemampuan berbicara.
Agar anak siap membaca dan menulis, maka persiapannya sudah dilakukan sejak bayi dan dikembangkan sesuai dengan tumbuh kembang anak.
Berikut ini adalah tahap perkembangan dalam pemerolehan literasi, dan stimulasi yang dapat dilakukan:
• Bayi hingga 3 tahun. Pada tahap ini anak mulai senang memperhatikan gambar pada buku, mendengarkan ketika ibunya menyanyi, dan mendengarkan cerita. Pada tahap sekitar 3 tahun dia mulai senang mencoret-coret sambil bercerita. Stimulasi yang dapat dilakukan ketika masih bayi adalah dengan mengajaknya bercakap-cakap (“Kita mandi dulu, yuk”). Ketika ia sudah dapat mengenggam, kita dapat memberikannya soft book atau mainan di bak mandinya. Permainan dengan benda-benda geometris (yang lembut tentunya) dapat membantu anak mengenal bentuk. Menyanyi dan bercerita adalah kegiatan yang dapat memperkaya keterampilan literasi anak. Definisi bercerita sangat luas, bukan hanya dongeng, tetapi segala kegiatan yang memperkaya kosa kata anak. Percakapan saat memakai baju, mandi, makan adalah kegiatan bercerita juga.
• 3-4 tahun. Di tahap ini anak sudah mengenal bahwa setiap huruf alfabet punya nama, sudah dapat mengenal tanda atau papan petunjuk yang ada di sekitar (misalnya, papan petunjuk “Keluar” di kebun binatang), menaruh perhatian pada bunyi-bunyi bahasa yang berbeda, menghubungkan peristiwa dalam cerita dengan pengalaman sendiri, membuat tulisan dalam bentuk coretan (scribble). Apa yang dapat dilakukan? Membacakan cerita dengan menunjuk huruf di dalam buku dan mengaitkan cerita dengan pengalaman si anak; menunjukkan tulisan nama binatang saat ke kebun binatang, tulisan pada kaleng susunya; menanyakan pengalaman anak (Harus spesifik, tentunya. Misalnya, “Gajah yang kita lihat tadi warnanya apa ya?”), dan memberinya kesempatan menulis dan menggambar dengan bebas.
• Taman Kanak-Kanak (5 tahun). Di tahap ini anak mengenal dan menyebutkan nama huruf besar dan kecil, dapat menyebutkan urutan bunyi dalam suatu kata, dapat menyebutkan judul buku dan pengarangnya, dapat membuat perkiraan cerita dengan melihat gambar, menggunakan tulisan untuk mengungkapkan pesan (dengan ejaan belum yang belum sempurna), dapat menulis nama sendiri; urutan huruf dalam suatu kata, dapat menulis huruf-huruf dan beberapa kata ketika didiktekan. Stimulasi apa yang dapat dilakukan? Pada tahap ini kegiatan membaca dan menulis sudah dapat dipahami sesuai konvensi bahasa, tetapi masih belum sempurna (misalnya, sudah dapat menulis kata, tetapi ejaan masih salah). Mereka juga dapat mengaitkan huruf dengan kata. Misalnya saja, setelah belajar kata-kata dengan huruf depan sama, anak-anak di Sekolah Tetum dengan gembira memanggil penjaga sekolah sambil berima, “Pak Iis. Ikan!” Mereka sudah paham bahwa huruf “i” yang ada pada nama Iis, sama dengan “i” pada “ikan”.
• Kelas Satu (6 tahun). Di tahap ini anak dapat dengan akurat melakukan dekoding terhadap suku kata (bahwa kata “ba” terdiri dari “b” dan “a”), dapat melanjutkan cerita di dalam buku, dapat mengenali kesalahan sendiri saat membaca sehingga suatu teks jadi bermakna, dapat menulis teks tertulis untuk dibaca orang lain. Bila stimulasi literasi sebelumnya berlangsung dengan menyenangkan, maka anak akan menunjukkan rasa haus terhadap kegiatan literasi. Contohnya adalah Reza dan anak-anak seusianya di era fesbuk. Mereka dapat menulis teks tertulis agar orang lain membaca, terkadang dengan ejaan yang belum sempurna. Misalnya, saat chat, Izzan (5 tahun) mengakhiri obrolan dengan menulis, “akumaumakan” (tanpa spasi di antara kata). Reza menulis kata “saat” dengan “saad” karena tulisan “Saad” sudah dikenalnya sejak kecil –nama keluarga ibunya adalah Saad. Stimulasi yang diberikan tentu memberi kesempatan seluasnya pada minat membaca anak, tanpa perlu mengoreksi langsung bila ia melakukan kesalahan. Dengan memberikan contoh, anak dapat menyerap dan mengoreksi kesalahannya sendiri.
Kegiatan baca dan tulis hanyalah bagian kecil dari literasi. Membuat anak menikmati kegiatan literasi menjadi lebih penting, karena kenikmatan dalam berproses akan memberi hasil yang lebih bermakna. ”Sedang apa Anda saad ini” adalah pertanyaan yang menggambarkan keasyikan seorang anak dalam proses literasi. Kita tidak perlu menjawabnya.
Tulisan ini dibuat sebagai wawancara tertulis untuk majalah Nakita dan dimuat di Nakita no 526, 27 April-3 Mei 2009, hal. 4-5
Entry Filed under: Autism, Sekolah, belajar bicara, belajar menulis. Tags: Endah Soekarsono, FaceBook, Lukman, Reza, Sekolah Tetum.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed